Tujuan Penerjemahan Filsafat Yunani

0
179

Berkenaan dengan kehadiran filsafat atau metafisika di dunia Islam, ada banyak analisis yang dipicu oleh serentetan pertanyaan. Misalnya, apakah tujuan penerjemahan karya-karya Filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab pada beberapa abad sepeninggal Rasulullah SAW? Apakah hanya untuk mengenalkan kaum Muslimin akan ilmu-ilmu asing, ataukah untuk mengalihkan pandangan mereka dari imam Ahlul Bait a.s.?

Pada abad kedua dan ketiga setelah Hijrah, tak hanya kitab-kitab Filsafat Yunani saja yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, akan tetapi banyak sekali kitab yang mengandung ilmu-ilmu pengetahuan lainnya seperti: Logika, Fisika, Matematika, Kedokteran dan lain sebagainya yang telah diterjemahkan dari bahasa Yunani, Suryani, dan bahasa-bahasa lainnya ke dalam bahasa Arab. Tidak seperti pada abad pertama setelah Hijrah dimana khalifah pada waktu itu pernah melarang kaum Muslimin untuk mencatat hadis, tafsir, dan segala hal selain Al-Quran.

Menurut catatan sejarah, kurang lebih ada dua ratus judul kitab seputar permasalahan-permasalahan ilmiah zaman itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Sepertinya hal ini memang disengaja untuk memperkaya khasanah ilmiah Islam serta mempercepat tercapainya tujuan-tujuan agamawi. Sebagaimana Al-Quran seringkali menekankan umat manusia untuk selalu mengamati dan berpikir mengenai alam ciptaan dan segala yang ada di dalamnya seperti langit, bumi, manusia, hewan, dan selainnya. Oleh karenanya, Muslimin dianjurkan untuk bergelut dengan berbagai macam ilmu dan dalam segala bidang.

Kenyataannya memang pemerintahan di waktu itu sangat bertentangan dengan para imam suci Ahlul Bait a.s. Mereka telah melakukan segala upaya demi mencegah masyarakat untuk berhubungan dekat dengan para imam. Karena, jika tidak, masyarakat akan terpikat begitu kuat, lalu mereka akan mendekat dan menjadi pengikut para imam Ahlul Bait a.s. Dengan demikian, mungkin saja tujuan diterjemahkannya kitab-kitab Filsafat berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab adalah untuk mengalihkan pandangan mereka dari para imam Ahlul Bait a.s. serta demi menghambat dakwah Ahlul Bait a.s.

Baca juga :   Prinsip-prinsip Filsafat

Tetapi, apakah karena mereka telah menyalahgunakan penerjemahan kitab-kitab Yunani demi menghambat dakwah para imam Ahlul Bait a.s. lantas kita tidak boleh mengkaji dan mempelajarinya kitab-kitab tersebut? Apakah dengan alasan ini kita harus menjaga jarak dari ilmu-ilmu itu?

Filsafat adalah sekumpulan masalah yang murni rasional dengan tujuan membuktikan wujud Tuhan, Sang Pencipta, dan segala hal yang berkaitan dengannya seperti: kenabian dan kehidupan setelah kematian.

Yang telah disebutkan di atas adalah masalah-masalah ushuluddin (yaitu masalah-masalah keyakinan agama yang harus dibuktikan kebenaran dengan akal) yang harus ditetapkan oleh setiap muslim dengan akal murninya sebelum meyakini kebenaran kitab suci dan sunnah nabi, karena sebelum menetapkan kebenaran Islam secara rasional, kita tidak dapat berdalil dengan ayat-ayat suci dan riwayat-riwayat Nabi SAW untuk menetapkan kebenaran ajarannya. Dan sebenarnya masalah-masalah yang berkenaan dengan ushuluddin seperti: wujud Tuhan, tauhid, dan lain sebagainya yang disebutkan dalam riwayat-riwayat, pada dasarnya telah ditetapkan secara rasional sebelumnya.[RD]

Sumber:
Muhammad Husain Thabathaba’i, Islam va Insan-e Mu’asher, Majma’ Jahani Ahlul Bait, Qom, 1379 HS.

(Visited 75 times, 1 visits today)

Leave a reply