Subjek Utama Filsafat

0
53

STUDISYIAH.COM–Mengingat cara terbaik untuk mendefinisikan ilmu ialah identifikasi subjek utamanya yang, kalaupun memiliki kualifikasi, mesti disoroti selengkapnya dengan saksama, kemudian masalah-masalah ilmu itu didisiplinkan sebagai proposisi-proposisi yang berporos pada subjek utama tersebut. Di sisi lain, upaya identifikasi subjek utama dan kualifikasi-kualifikasinya bergantung pada penentuan masalah-masalah yang dimaksudkan untuk dibahas dalam suatu ilmu. Ini artinya upaya identifikasi itu, sampai batas tertentu, bergantung pada konvensi dan kesepakatan.

Ambil saja, misalnya, ‘realitas’ (mawjūd) sebagai subjek utama yang merupakan konsep paling umum berlaku pada segala sesuatu yang hakiki dan riil, maka akan kita temukan bahwa semua subjek masalah-masalah hakiki terjaring di dalamnya. Dan, jika realitas ini dijadikan sebagai subjek utama untuk suatu ilmu, ia akan mencakup seluruh masalah ilmu-ilmu hakiki. Ilmu dengan subjek utama ‘realitas’ inilah yang disebut sebagai filsafat dalam pengertian kuno.

Akan tetapi, membahas ilmu yang sebegitu mencakup dan inklusif ini tentunya tidak sejalan dengan tujuan klasifikasi ilmu. Maka, tidak ada pilihan selain mengamati subjek secara lebih terbatas untuk memenuhi tujuan tersebut.

Para pengajar kuno, pertama-tama, membagi seluruh masalah teoretis ke dalam dua kelompok yang masing-masing memiliki poros tertentu. Mereka menyebut satu kelompok dengan fisika dan kelompok lainnya dengan matematika, kemudian mereka membidangkan tiap-tiap kelompok ini menjadi ilmu-ilmu yang lebih khusus. Selain dua kelompok masalah teoretis tadi, ada kelompok ketiga dari masalah-masalah rasional-teoretis yang berporos pada Tuhan dan mereka menyebutnya dengan teologi (ma‘rifat al-rubūbiyyah).

Akan tetapi, ada kelompok keempat dari masalah-masalah rasional-teoretis yang subjek mereka berada di atas subjek-subjek yang telah disebutkan tadi dan tidak terbatas hanya pada subjek tertentu. Lantaran para pengajar itu, sepertinya, tidak menemukan satu nama yang tepat untuk masalah-masalah ini, dan karena sekelompok masalah ini dibahas setelah fisika, mereka menyebutnya dengan nama metafisika ‘setelah fisika’.

Baca juga :   Berdasarkan Riwayat, Filsafat itu Haram; Benarkah demikian?

Posisi masalah-masalah terakhir ini terhadap semua masalah ilmu-ilmu teoretis lainnya persis seperti posisi fisika umum elementer terhadap ilmu-ilmu alam. Dan sebagaimana subjek utama fisika umum elementer adalah benda mutlak, subjek utama metafisika adalah realitas mutlak (mawjūd muthlaq) atau realitas qua realitas (mawjūd bi mā huwa mawjūd). Dengan menyoroti realitas mutlak, mereka hanya membahas masalah-masalah yang tidak berporos pada subjek-subjek utama dari ilmu-ilmu yang lebih khusus, walaupun masalah-masalah ini tidak mencakup seluruh realitas. Demikianlah terbentuk suatu ilmu dengan nama metafisika atau belakangan disebut dengan ilmu universal (al-‘ilm al-kulliy) atau filsafat pertama (al-falsafat al-ūlā).

Pada era Islam, sebagaimana telah disinggung, masalah-masalah metafisika berbaur dengan masalah-masalah teologi dan disebut dengan ketuhanan dalam makna umum (ilāhiyyāt bi al-ma‘nā al-’a‘amm). Kadangkala masalah-masalah lain seperti: Hari Kebangkitan (ma‘ād) dan sarana-sarana kebahagiaan abadi manusia, bahkan masalah-masalah yang menyangkut kenabian dan keimaman (al-imāmah) juga dimasukkan ke dalamnya, sebagaimana dijumpai pada bagian ketuhanan dari buku Al-Syifā’, karya Ibn Sina.

Tentunya, kalau memang kelompok keempat masalah rasional-teoretis ini didisiplinkan (sesuai kriteria) sebagai masalah-masalah asli suatu ilmu dan tidak ada sebagian dari mereka yang dibahas di dalamnya sebagai pemaksaan atau penyimpangan, maka subjek utama ilmu ini seharusnya menjadi sedemikian luas sehingga, boleh jadi, mengidentifikasi satu subjek utama untuk berbagai macam masalah bukan pekerjaan yang mudah. Untuk itu, sudah ditempuh pelbagai upaya menentukan subjek utama dan menjelaskan bahwa semua predikat ini adalah sifat-sifat esensialnya (‘awāridh dzātiyyah), walaupun upaya ini tidak begitu berhasil.

Alhasil, ada tiga alternatif [dalam upaya identifikasi subjek utama filsafat/metafisika] di atas: pertama, semua masalah teoretis selain fisika dan matematika didisiplinkan sebagai sebuah ilmu dengan memaksakan (takalluf) satu subjek utama untuknya; atau kedua, kriteria koherensi dan kesatuan masalah-masalah itu diidentifikasi pada kesatuan tujuan; atau ketiga, setiap kelompok masalah teoretis yang memiliki subjek tertentu dikukuhkan jadi ilmu tersendiri, termasuk sehimpunan masalah umum tentang realitas dibahas dalam sebuah ilmu bernama “filsafat pertama”, dan ini identik dengan satu dari beberapa makna teknis istilah ‘filsafat’.

Baca juga :   Istilah Ilmu dalam Filsafat

Tampaknya, alternatif terakhirlah yang lebih relevan. Karena itu, beragam masalah yang dikenal dalam filsafat Islam dengan nama falsafah ‘filsafat’ atau hikmah ‘kebijaksanaan’ dapat kita tempatkan menjadi beberapa ilmu tertentu. Alternatif ini dapat disimpulkan dari sejumlah perkataan Shadrul Muta’allihin, terutama dalam Al-Asfār Al-Arba‘ah, di awal-awal perjalanan ketiga dari Ketuhanan dalam Makna Khusus dan perjalanan keempat dari Psikologi Filosofis.

Dengan kata lain, kita akan mempunyai serangkaian ilmu kefilsafatan yang sama-sama berbasis pada metode rasional, tetapi istilah ‘filsafat’ secara mutlak (tak berkualifikasi) akan kita gunakan untuk menunjuk filsafat pertama.

Dengan demikian, tujuan utama buku ini menjadi jelas, yaitu memaparkan masalah-masalah filsafat pertama dalam pengertian di atas tadi. Namun, lantaran pemecahan masalah-masalah ini bergantung pada masalah-masalah seputar pengetahuan, buku ini akan menyajikan, pertama-tama, studi-studi epistemologi, setelah itu barulah menelaah masalah-masalah ontologi dan metafisika.

Bertolak dari posisi filsafat yang identik dengan filsafat pertama atau metafisika dengan subjek utamanya, yaitu realitas mutlak (mawjūd muthlaq), bukan mutlak realitas (muthlaq mawjūd), kita dapat mendefinisikannya sebagai berikut: ilmu yang membahas keadaan-keadaan realitas mutlak, atau ilmu yang menelaah hukum-hukum umum keberadaan (wujūd/existence); atau sehimpunan proposisi dan masalah yang dibahas dengan poros realitas qua realitas (mawjūd bi mā huwa mawjūd). Kata mawjūd ‘realitas’ lebih diprioritaskan untuk digunakan di sini daripada kata wujūd ‘keberadaan’ karena aspek kelebihannya sebagai kata yang juga relevan sepenuhnya dengan pendapat autentisitas kuiditas (ashālat al-māhiyyah). Maka, sebelum pendapat autentisitas keberadaan (ashālat al-wujūd) terbukti benar, akan lebih tepat kiranya subjek utama filsafat dideskripsikan sedemikian rupa hingga mengakomodasi kedua pendapat ini.

Beberapa ciri khas filsafat telah banyak dideskripsikan. Yang terpenting di antara mereka berikut di bawah ini:

Baca juga :   Falsafatuna: Filsafat Islam terhadap Filsafat Barat

Berbeda dengan ilmu-ilmu empiris dan naratif, pemecahan masalah filsafat menggunakan metode rasional. Namun demikian, metode yang sama juga digunakan dalam logika, teologi, psikologi filosofis, dan sejumlah ilmu lain seperti: etika dan matematika. Oleh karena itu, metode ini tidak bisa diacu sebagai ciri khas filsafat pertama;
Filsafat bertugas membuktikan benar-salahnya prinsip-prinsip penilaian (mabādi’ tashdīqiyyah) pelbagai ilmu. Dan itulah salah satu dasar mengapa ilmu-ilmu lain membutuhkan filsafat sehingga ia disebut sebagai induk ilmu-ilmu (umm al-‘ulūm);
Dalam filsafat dapat diperoleh kriteria pemilahan hal-hal riil dan hakiki dari hal-hal yang ilusif (wahmī) dan konvensional (i‘tibāriy). Maka dari itu, tujuan utama filsafat terkadang dianggap untuk mengetahui hal-ihwal yang senyatanya ada dan hakiki serta memilahnya dari hal-hal ilusif. Tetapi, sebaiknya ciri khas ini ditempatkan sebagai tujuan epistemologi.
Konsep-konsep filsafat sama sekali tidak diperoleh lewat indra atau pengalaman (indrawi) seperti konsep-konsep: sebab dan akibat, niscaya dan mungkin, material dan imaterial (mujarrad). Konsep-konsep ini secara teknis diistilahkan dengan objek-objek sekunder akal filosofis (al-ma‘qūl al-tsānī al-falsafiy).

Setelah mengamati ciri-ciri khas tersebut, mudah dimengerti kiranya mengapa masalah-masalah filosofis hanya bisa dibuktikan dan dipecahkan dengan metode rasional, dan mengapa pula hukum-hukum filosofis tidak diperoleh dengan merampatkan (generalisasi) hukum-hukum dari pelbagai ilmu empiris.

(Visited 40 times, 1 visits today)

Leave a reply