Sekilas Sejarah Awal Filsafat

0
104

STUDISYIAH.COM–Pemikiran, seiring dengan penciptaan manusia, sama-sama melampaui perjalanan sejarah; di mana pun manusia hidup, pemikiran merupakan ciri yang tak terpisahkan dari dirinya dan, di mana pun kakinya menjejak, pemikiran dan penalaran senantiasa menyertainya.

Tidak ada informasi pasti dan data akurat mengenai pemikiran tak tertulis manusia kecuali dugaan para arkeolog yang didasarkan pada peninggalan-peninggalan sepanjang temuan mereka. Bagaimanapun, penulisan pemikiran terjadi jauh setelah kafilah sejarah peradaban manusia berjalan dan, tentu saja, lebih lambat dari saat bahasa tulisan ditemukan.

Dibanding yang lain, pemikiran manusia tentang keberadaan (wujūd), awal dan akhirnya berjalan-berkelindan, pada mulanya, dengan keyakinan agama. Karena itu, dapat dikatakan bahwa pemikiran filosofis paling kuno harus diselidiki dalam pemikiran keagamaan Timur.
Para sejarawan filsafat percaya bahwa bunga-rampai pemikiran paling kuno yang murni atau sebagian besarnya filosofis berasal dari kalangan bijak-bestari Yunani, kira-kira enam abad sebelum kelahiran Isa Al-Masih a.s. Para sejarawan itu juga menyebutkan nama-nama mereka yang berupaya mengenal keberadaan, permulaan dan keberakhiran alam raya. Dalam menafsirkan kemunculan dan perubahan pelbagai realitas, mereka merumuskan beragam pandangan yang kadangkala bertentangan. Pada saat bersamaan, mereka tidak menutup-nutupi fakta bahwa butir-butir pemikiran mereka lebih-kurang dipengaruhi oleh kepercayaan agama dan kebudayaan Timur.

Alhasil, atmosfer Yunani yang terbuka untuk dialog dan kritik pada masa itu memuluskan landasan bagi perkembangan dan kemajuan pemikiran filosofis. Kawasan itu pun berubah menjadi basis pelatihan filsafat.

Adalah wajar pemikiran awal filosofis tidak begitu teratur sistematis; masalah-masalah penelitian tidak terklasifikasi dengan tepat, sehingga nama, judul dan metode pun tidak terletakkan untuk tiap-tiap kategori masalah. Pendek kata, semua pemikiran disebut saja sebagai ilmu, kebijaksanaan (al-hikmah) atau pengetahuan (al-ma‘rifah) dan sebagainya.

Baca juga :   Sekilas Sejarah Filsafat Abad Pertengahan

Kemunculan Sofisme dan Skeptisisme

Pada abad 5 sebelum Masehi, dilaporkan adanya sekelompok sarjana yang, dalam bahasa Yunani, dikenal dengan nama ‘sofis’ yang berarti orang bijak atau cendekiawan. Akan tetapi, biarpun menguasai luas ilmu pengetahuan pada masanya, mereka tidak meyakini adanya kebenaran-kebenaran pasti, bahkan menafikan keberadaan sesuatu yang benar-benar diketahui secara pasti.

Menurut laporan para sejarawan filsafat, mereka ini adalah pengajar-pengajar profesional dalam seni retorika dan debat. Melatih para pengacara untuk terampil di pengadilan adalah pekerjaan mereka yang sangat diminati pada waktu itu. Profesi ini menuntut para pengacara untuk sanggup mengukuhkan sembarang klaim dan menolak segala klaim tandingan. Bergumul dengan profesi mengajar yang tercemari falasi (mughālatah/fallacy) lambat-laun menyebabkan mereka berpola-pikir menolak mentah-mentah kebenaran di luar pikiran manusia.

Barangkali Anda pernah mendengar cerita seseorang yang bercanda mengatakan bahwa di rumah si fulan ada gula-gula yang dibagikan secara gratis. Dengan segala kepolosan, orang-orang bergegas menuju rumah si fulan dan berkerumun di halamannya. Sedikit demi sedikit, si pembuat berita pun mulai ragu hingga khawatir akan kehilangan kesempatan mendapat gula-gula gratis, maka dia segera ikut berbaris bersama kerumunan orang-orang itu.
Nada-nadanya, para sofis juga bernasib serupa dengan orang di atas. Dengan mengajarkan metode-metode yang sarat modus falasi demi meneguhkan atau menyangkal suatu klaim, perlahan-lahan muncul suatu aliran pemikiran pada diri mereka sendiri bahwa, pada dasarnya, nilai benar dan salah itu bergantung pada pikiran hingga, pada konklusinya, tidak ada kebenaran di luar pikiran manusia.

Nama ‘sofis’, yang semula berarti orang bijak dan sarjana, lantaran terlanjur disematkan pada orang-orang seperti di atas, keruan saja kehilangan makna dasarnya dan lambat-laun dipakai sebagai simbol serta isyarat bagi pola-pikir dan penalaran menyesatkan. Dari nama inilah kata Arab sūfastiy dan safsatah diserap.

Baca juga :   Fitrah Ilahi (1): Membahas Tuhan dan Agama saja sudah Bawaan Fitrah

Masa Pertumbuhan Filsafat

Sarjana paling masyhur yang berdiri menentang kaum sofis dan menyanggah gagasan-gagasan mereka adalah Socrates (470-399 SM). Dialah orang yang menyebut dirinya dengan nama philosophus ‘pencinta kebijaksanaan’. Nama ini lantas di-Arab-kan menjadi faylasūf dan, darinya pula, kata falsafah diserap.

Para sejarawan filsafat menyebutkan dua motif Socrates memilih nama tersebut: kerendahan pribadinya yang selalu mengakui kebodohan diri sendiri, dan sindiran sinis terhadap para sofis yang menyebut diri mereka orang bijak. Dengan memilih nama ini, tampaknya Socrates hendak memahamkan mereka, “Anda yang aktif berdebat, berdiskusi dan mengajar demi tujuan material dan politik tidaklah layak menyandang gelar ‘orang bijak’. Bahkan, saya yang menolak gagasan-gagasan Anda dengan argumen-argumen yang kokoh tidak merasa layak menyandang gelar itu, tetapi saya hanya menamakan diri sebagai pencinta kebijaksanaan.”
Setelah Socrates, muridnya yang selama bertahun-tahun berguru padanya, Plato (428-347 SM), berupaya memantapkan prinsip-prinsip filsafat. Kemudian Aristoteles (385-322 SM), murid Plato, membawa filsafat hingga ke puncak perkembangannya, memformalkan prinsip-prinsip berpikir dan bernalar dalam bentuk ilmu logika, sekaligus merumuskan perangkap-perangkap pikiran dalam bab falasi.

Sejak Socrates menyebut dirinya sebagai filosof, istilah filsafat digunakan sebagai lawan dari sophistry (ke-sofis-an), dan memuat seluruh ilmu hakiki (real sciences) seperti: fisika, kimia, kedokteran, astronomi, matematika, dan teologi. Hanya ilmu-ilmu yang berbasis konvensi seperti: sintaksis (nahwu) dan morfologi (sharaf), berada di luar wilayah filsafat.

Atas dasar itu, filsafat dianggap sebagai kata umum untuk seluruh ilmu hakiki dan dibagi menjadi dua kelompok umum: ilmu teoretis dan ilmu praktis. Ilmu-ilmu teoretis meliputi ilmu-ilmu fisika, matematika, dan metafisika. Ilmu-ilmu fisika pada gilirannya meliputi kosmogoni, mineralogi, botani, dan zoologi; matematika meliputi aritmetika, geometri, astronomi, dan musik. Metafisika dibagi menjadi dua kelompok: masalah-masalah umum seputar keberadaan (wujūd/existence) dan teologi. Ilmu-ilmu praktis bercabang tiga: etika atau akhlak, ekonomi rumah, dan politik.

Baca juga :   Sekilas Sejarah Masuknya Filsafat ke Dunia Islam

Akhir Filsafat Yunani

Setelah masa Plato dan Aristoteles, berlalulah satu kurun panjang dimana murid-murid kedua tokoh ini aktif mengoleksi, menyistematisasi dan mengomentari pendapat-pendapat kedua guru mereka. Murid-murid ini agaknya mampu mempertahankan ramainya pasar filsafat, Namun, tidak lama berselang, keramaian itu berganti dengan kemandekan; kegairahannya berangsur hilang dari peredaran. Di Yunani, tinggal segelintir pelanggan yang berminat membeli produk-produk ilmu pengetahuan. Guru-guru seni dan ilmu pengetahuan berpindah ke dan menetap di Aleksandria, karam dalam penelitian dan pendidikan. Kota ini terus menjadi pusat ilmu dan filsafat sampai abad 4 setelah Masehi.

Akan tetapi, tatkala Kekaisaran Romawi memeluk agama Kristen dan menyebar-luaskan doktrin Gereja sebagai keyakinan dan ajaran resmi, mereka mulai menentang suasana bebas pemikiran dan ilmu pengetahuan. Sampai akhirnya Justinian, Kaisar Romawi Timur, pada 529 M, menerbitkan perintah menutup seluruh universitas dan sekolah di Athena dan Aleksandria. Para sarjana lalu berlarian karena takut dan mengungsi menyelamatkan diri ke pelbagai kota dan negeri lain. Dan dengan begitu, cahaya obor ilmu dan filsafat padam di wilayah Kekaisaran Romawi.

Sumber: Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Amuzeh-e Falsafeh, Pelajaran 1.

(Visited 72 times, 1 visits today)

Leave a reply