Sekilas Sahabat Menurut Akal dan Sejarah

0
46

Syiah meyakini bahwa Ali adalah sahabat Nabi paling utama. Kedudukannya dalam Islam berada langsung di bawah Nabi SAW. Pada saat yang sama, Syiah menganggap bahwa sikap ghuluw (mengkultuskan) Ali adalah haram dan dosa. Syiah meyakini bahwa menganggap Ali sebagai Tuhan atau serupa dengan itu adalah kafir hukumnya dan keluar dari barisan Muslimin. Syiah berlepas diri dari orang dan aqidah semacam itu. Tapi sayang, sebagian pihak terjebak dalam kekeliruan sehingga menyamaratakan Syiah dengan kelompok-kelompok menyimpang ini, padahal ulama-ulama Syiah justru menganggap kelompok ini keluar dan Islam.

Syiah meyakini bahwa di antara sahabat Nabi SAW, terdapat pribadi-pribadi agung yang telah disebutkan keutamaannya oleh Al-Quran dan hadis. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa semua sahabat itu tidak ada yang salah atau perbuatan-perbuatan mereka benar semuanya, tanpa kecuali.

Dalam banyak ayat Al-Quran, terutama pada surah Al-Bara’ah, Al-Nur, dan Al-Munafiqin, Al-Quran bercerita tentang kaum munafik yang notabene adalah sebagian sahabat itu sendiri, dan mengecam mereka dengan keras, meskipun mereka adalah sahabat Nabi SAW.

Selain itu, di antara sahabat Nabi, terdapat pula orang yang telah menyulut api fitnah sehingga pecah peperangan sesama kaum Muslimin sesudah wafat Nabi SAW, melanggar baiat yang telah diberikan kepada khalifah yang sah, dan menumpahkan darah ribuan kaum Muslimin. Tentu orang-orang seperti itu tidak lagi pantas dianggap bersih dan suci.

Dengan kata lain, bagaimana mungkin kita dapat memutuskan kedua belah pihak yang terlibat pertikaian, misalnya pihak-pihak yang terlibat dalam perang Jamal dan Shiffin, bahwa mereka semua itu benar? Sungguh itu penilaian yang kontradiktif dan tidak dapat diterima.

Memang ada pihak yang masih menerima sikap kontradiktif ini dan berargumentasi dengan ijtihad para sahabat. Yakni, memang ada pihak yang benar dan yang salah, akan tetapi karena kedua pihak itu telah mengamalkan ijtihad, maka pihak yang keliru sekalipun tetap mendapat pahala, karena ia telah berbuat dengan ijtihad, dan kekeliruannya dimaafkan.

Baca juga :   Wahyu dalam Riwayat: Studi Kritis atas Kisah Waraqah bin Naufal

Cara berpikir seperti ini tidak dapat diterima, karena bagaimana mungkin kita dapat membenarkan seseorang yang melanggar baiat dan ikrar setianya pada khalifah Nabi SAW dengan alasan ijtihad, tapi kemudian sengaja menyulut api peperangan dan menyebabkan pertumpahan darah orang-orang saleh? Jika dosa penumpahan darah dapat dimaafkan karena alasan ijtihad, itu berarti semua perbuatan dosa dapat dimaafkan karena alasan ijtihad. Argumentasi ini tidak dapat diterima.

Syiah meyakini bahwa seorang manusia, meskipun sahabat Nabi SAW, tergantung pada amal perbuatannya sendiri, dan ini sesuai dengan prinsip Al-Quran yang menyatakan:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa” (QS. Al-Hujurat, 13).

Atas dasar ini, maka untuk menentukan kualitas sahabat, kita juga harus mengukurnya dari amal perbuatan mereka supaya keputusan yang kita ambil logis dan dapat diterapkan pada semuanya.

Maka siapa saja di antara sahabat Nabi yang selama bersama Nabi SAW berjuang tulus dan terus dalam garis ini dalam menjaga Islam dan setia pada Al-Quran sesudah wafat beliau, Syiah mengakui dia dan mengkategorikannya sebagai orang saleh. Tetapi sahabat yang munafiq di zaman Nabi SAW dan selalu mengganggu beliau atau berubah sesudah beliau meninggal dunia, dan yang telah merugikan Islam dan kaum Muslimin, tentu Syiah tidak akan mencintainya. Allah berfirman:

“Engkau takkan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir mencintai orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, meskipun mereka adalah orang tua mereka sendiri, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau keluarga dekat mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah ditetapkan iman oleh Allah dalam hati mereka” (QS. Al-Mujadilah, 22).

Ya, orang-orang yang menentang atau mengganggu Rasul, baik pada masa hidup atau sesudah wafat beliau, menurut keyakinan Syiah tidaklah pantas mendapat pujian atau penghormatan. Tetapi juga harus ditegaskan bahwa Syiah juga tidak membolehkan mencaci dan menghujat siapa pun, termasuk para sahabat. Menilai seseorang telah berbuat keliru bukan berarti mencacinya.

Baca juga :   Wacana: Antara Syiah dan Rafidlah

Juga harus dinyatakan sesungguh-sungguhnya bahwa tidak sedikit sahabat Nabi SAW yang telah berjuang habis-habisan untuk menyebarkan agama Islam sehingga Allah memuji mereka dan memuji para penerus mereka (tabi’in) yang mengikuti jalan para sahabat yang saleh, pujian yang juga diberikan kepada siapa saja menempuh jalan yang lurus hingga hari akhir.

“Para pemeluk Islam awal-awal sekali, al-sabiqun al-awalum, dari golongan Muhajirin dan Anshar dan para pengikut mereka dengan kebaikan, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah” (QS. Al-Taubah, 100).

(Visited 44 times, 1 visits today)

Leave a reply