Prinsip-prinsip Filsafat

0
331

Jelas, sebelum membahas masalah-masalah suatu ilmu, perlu dikenali prinsip-prinsip ilmu itu sendiri. Lantas, apakah prinsip-prinsip filsafat itu? Dan dalam ilmu manakah prinsip-prinsip ini ditelaah?

Ada dua macam prinsip yang melandasi setiap disiplin ilmu, termasuk filsafat atau metafisik, yaitu: prinsip pengertian dan prinsip penilaian.

Prinsip Pengertian
Mengenali prinsip-prinsip pengertian (mabādi’ tashawwuriyyah) suatu ilmu yaitu mengetahui konsep dan esensi subjek ilmu serta konsep tiap-tiap subjek masalahnya, dan upaya ini lazimnya dilakukan dalam ilmu itu sendiri. Artinya, definisi subjek utama ilmu dipaparkan di bagian pendahuluan buku dan definisi subjek setiap masalah ilmu dijelaskan di pendahuluan setiap pembahasan masalah tersebut.

Akan halnya filsafat, lantaran subjek utama ilmu ini adalah realitas yang, sebagai pengertian dan konsep, bersifat aksiomatis (badīhiy) dan tidak membutuhkan definisi, maka ia tidak memerlukan prinsip-prinsip pengertian. Sedangkan definisi subjek setiap masalah filsafat diulas di pendahuluan pembahasan masalah tersebut, sebagaimana pola ini juga berlangsung dalam ilmu-ilmu lain.

Prinsip Penilaian
Adapun prinsip-prinsip penilaian (mabādi’ tashdīqiyyah) ilmu dibagi menjadi dua macam: afirmasi atas keberadaan subjek utama ilmu, dan afirmasi atas prinsip-prinsip yang digunakan untuk meneliti dan memecahkan masalah-masalahnya.

Namun, lagi-lagi, keberadaan subjek utama filsafat, yakni realitas, tidak lagi perlu dibukti-pastikan, karena keberadaan realitas itu sendiri adalah juga aksiomatis dan tidak bisa diingkari oleh orang berakal mana pun. Paling tidak, setiap orang menyadari keberadaan dirinya sendiri sebagai sebuah realitas, dan kesadaran ini saja sudah cukup untuk ia yakin bahwa konsep ‘realitas’ mempunyai ekstensi (mishdāq), lalu ia memulai studi dan penyelidikan atas ekstensi-ekstensi lainnya. Demikianlah sebuah masalah filsafat lantas muncul dan, pada gilirannya, menjadi ajang perselisihan antara kaum sofis, skeptis juga idealis di satu pihak, dan kaum filosof di lain pihak.

Baca juga :   Sekilas Sejarah Filsafat Abad Pertengahan

Adapun macam kedua dari prinsip-prinsip penilaian, yakni prinsip-prinsip yang berfungsi sebagai dasar untuk memecahkan masalah-masalah ilmu, terbagi menjadi dua kelompok: pertama, prinsip-prinsip non-aksiomatis (nazdariy: teoretis) yang harus dibuktikan dalam ilmu lain. Prinsip-prinsip ini disebut juga dengan postulat (ushūl mawdhū‘ah). Dan, sebagaimana telah disebutkan, postulat yang paling umum pun dilaksanakan pembuktian [atas validitasnya] dalam filsafat pertama. Artinya, ada sebagian masalah filsafat pertama yang berfungsi sebagai pembuktian atas postulat-postulat semua ilmu.

Namun, filsafat pertama sendiri, pada dasarnya, tidak memerlukan postulat-postulat dan prinsip-prinsip non-aksiomatis serupa, meskipun mungkin saja dalam ilmu-ilmu kefilsafatan lain seperti: teologi, psikologi filosofis, dan filsafat etika, diperlukan sejumlah postulat yang telah terbukti dalam filsafat pertama atau ilmu kefilsafatan lainnya atau bahkan dalam ilmu-ilmu empiris.

Sementara kelompok kedua adalah prinsip-prinsip berupa aksioma-aksioma dan tidak perlu pembuktian seperti: prinsip non-kontradiksi. Prinsip-prinsip semacam ini hanya dibutuhkan untuk menelaah masalah-masalah filsafat pertama, tetapi karena bersifat aksiomatis, mereka sama-sekali tidak perlu dibuktikan dalam filsafat pertama, apalagi dalam ilmu lain. Oleh sebab itu, dalam konteks ini, filsafat pertama tidak perlu apa pun dari ilmu yang lain, entah ilmu rasional atau empiris atau naratif. Dan inilah yang merupakan satu elemen dari identitas terpenting filsafat pertama.

Dalam hal ini, tentu saja logika juga epistemologi mesti dikecualikan mengingat pembuktian rasional yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah filsafat pertama berpijak di atas kaidah-kaidah logika. Di samping itu, pembuktian tersebut juga dilakukan atas dasar keyakinan bahwa kebenaran filosofis bisa diketahui secara rasional. Maka, sesuai dasar ini, keberadaan akal dan kemampuannya dalam memecahkan masalah-masalah filosofis sudah terasumsikan tuntas dengan sendirinya.

Meski demikian, pada hakikatnya, apa yang dibutuhkan filsafat pertama secara fundamental dari logika dan epistemologi tidak lebih dari prinsip-prinsip aksiomatis dua ilmu ini. Dan, prinsip-prinsip aksiomatis ini sesungguhnya tidak bisa ditempatkan sebagai masalah-masalah yang perlu dipecahkan dan dibuktikan. Adapun pelbagai uraian dan penjelasan mengenai prinsip-prinsip itu dalam logika dan epistemologi lebih tepat disebut sebagai cara mengingatkan dan membangkitkan kesadaran (isyārah li al-tanbīh) yang sebelumnya sudah diketahui.

Baca juga :   Ekuivokasi dalam Filsafat Islam
(Visited 385 times, 1 visits today)

Leave a reply