Nashiruddin Thusi

0
135

mstory-084527_nasiruddinaltusi

Abu Ja‘far Nashiruddin Muhammad bin Muhammad bin Hasan Thusi, atau yang biasa dikenal dengan Nashiruddin Thusi, lahir pada hari Sabtu, 11 Jumadil Ula 597 H (18 Februari 1201 M), di sebuah daerah bernama Thus. Berdasarkan pandangan sebagian sejarawan, keluarga Thusi berasal dari sebuah daerah bernama Jahrud. Ayahnya, Muhammad bin Hasan, adalah seorang faqih, ulama, dan ahli hadis (muhaddits) tersohor di kota Thus.

Thusi mempelajari al-Qur’an, Fikih, Hadis, Sejarah dan ilmu-ilmu bahasa, seperti Nahwu (Sintaktis), Sharaf (Morfologi), dan sastra dari ayahnya sendiri, mempelajari Matematika di bawah asuhan Kamaluddin Muhammad Hasib, serta mempelajari Logika dan Filsafat pada pamannya sendiri, Syihabuddin Ali bin Abu Manshur. Demi menyempurnakan ilmu pengetahuannya, Thusi pindah ke Nisyabur di permulaan masa remajanya. Di kota ini, Thusi berguru kepada Fariduddin Damad Nisyaburi dan mengkaji buku Al-Isyārāt wa Al-Tanbīhāt karya Ibn Sina darinya. Selama beberapa masa, ia juga berguru pada beberapa ilmuwan tenar seperti Quthbuddin Mishri, Kamaluddin Yunusi Maushilī, dan Abu Sa‘adat Isfahani.

Kendati Thusi sangat menyenangi pelbagai disiplin ilmu pengetahuan, ia lebih menyukai Filsafat dan Teologi. Sebagaimana pernah dia tegaskan sendiri, “Sesuai wasiat ayahku, aku mulai mengembara. Setiap kali aku menemukan seorang guru mengajarkan sebuah disiplin ilmu pengetahuan, aku pasti memanfaatkan kesempatan untuk berguru kepadanya. Namun, lantaran sebuah dorongan batin untuk mengenal mana yang hak dan mana yang batil, aku lebih mendalami beberapa bidang tertentu seperti Filsafat dan Teologi.”

Tatkala usianya masih dua puluh tahun, Thusi Nashiruddin Thusi telah menguasai Matematika, Astronomi, Fiqih, Ushul Fiqih, Filsafat, dan Teologi. Kesungguhan dan kegigihan Thusi dalam belajar telah menjadikannya sebagai ilmuwan terkemuka dalam seluruh jurusan ilmu pengetahuan rasional (aqli) dan referensial (naqli). Lebih dari itu, dalam setiap jurusan ilmu pengetahuan yang berkembang kala itu, ia adalah seorang mahaguru sehingga ia memperoleh julukan Ustādz al-Basyar (Guru Umat Manusia).

Baca juga :   Imam Mahdi

Thusi senantiasa menghabiskan waktunya dalam menelaah, menyusun, menulis, dan menerjemahkan buku. Di samping itu, Thusi juga pernah mengetuai observatorium Maraghah. Ia juga memiliki jasa-jasa penting yang lain, seperti mengumpulkan seluruh buku berharga, baik yang klasik maupun yang baru. Mayoritas buku ini dikoleksi dari berbagai perpustakaan: Baghdad, Syam, dan daerah-daerah lain yang berada di bawah kekuasaan Hulagu Khan. Jumlah seluruh buku ini mencapai empat ribu jilid. Thusi berhasil membangun sebuah perpustakaan besar dengan buku-buku tersebut. Lebih penting lagi, ia mengubah observatorium itu menjadi sebuah pusat penelitian dan riset ilmiah besar kala itu. Ia mengumpulkan banyak ilmuwan dan periset dari seantero wilayah kekuasaan Islam dan melakukan riset dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Pada masa kekhalifah Abbasiyah, al-Qa’im Bi’amrillah (442 H—468 H), Thusi pernah secara resmi diangkat sebagai guru besar teologi. Dia mendapat gelar Syaikh al-Thā’ifah. Saat itu dia menggapai puncak ketenarannya. Kuliahnya dihadiri oleh lebih dari 300 pemikir dari berbagai mazhab. Berdasarkan sebuah penelitian, disebutkan bahwa karya Syekh Thusi sebanyak 47 buah. Namun, yang sampai ke tangan kita hanyalah sebagian, sedangkan sebagian lainnya sudah musnah. Karya-karya dia yang masih tersisa dapat dibagi dalam delapan kategori;

Pertama, bidang tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur’an yang mencakup kitab-kitab al-Tibyān, al-Masā‘il al-Rajabiyyah, al-Masā‘il al- Dimsyaqiyah. Kedua, bidang hadis yang mencakup kitab Tahdzīb dan Istibshār. Ketiga, bidang ilmu rijal yang mencakup kitab-kitab al-Fihrist, Rijāl wa Ikhtiar al-Rijāl. Keempat, bidang ilmu kalam atau teologi yang mencakup kitab-kitab Talkhīsh al-Syafi, al-Ghaybah, al-Mufshih fi al-Imāmah, al-Iqtishād fī ma Yajibu ‘alā al-Ibad, al-Naqd ‘alī Ibn Syadzan, Fī Mas’alat al-Ghar, Muqaddimah fī al-Madkhal ilā ‘Ilm al-Kalām, Riyādhat al-Uqūl, Ma Yua’llal wa Ma lā Yua’llal, Ushūl al-Aqā‘id, dan al-Masā‘il fī al-Farq Bayna al-Nabi wa al-Imām. Kelima, bidang ushūl fikih, yaitu Kitab al-Iddah fī al-Ushūl. Keenam, bidang fikih yang meliputi kitab-kitab Al-Nihāyah, Al-Mabsuth dan Al-Khilaf. Ketujuh, bidang doa dan ibadah yang meliputi kitab-kitab; Misbāh al-Mutahajjid, Hidāyat al-Mustarsyid wa Bashīrah al- Muta’abbid, Mukhtashar Amāli Yawm wa Laylah, Manāsik al-Hajj. Kedelapan, kitab Amali dan beberapa kitab lain termasuk; Al-Majālis fī al-Akhbār (al-Amālī) dan Maqtal al-Husayn a.s.

Baca juga :   Imam Khomeini; Mujtahid dalam Fiqih, Filsafat, Tasawuf sampai Politik

Thusi meninggal dunia pada 18 Dzulhijjah 672 H, bertepatan dengan hari raya Ghadir Khum dan dimakamkan di Kazhimain, Irak.

(Visited 41 times, 1 visits today)

Leave a reply