Mengetahui Esensi Tuhan

0
276

Tak syak lagi bahwa Tuhan adalah Realitas Mutlak; esensi dan segenap sifat-Nya juga tak terbatas. Namun di sisi lain, kita dan seluruh yang berhubungan dengan keberadaan kita seperti: ilmu, kuasa, hidup, ruang dan waktu, semuanya serba terbatas. Oleh karena itu, dengan segala keterbatasan ini, bagaimana mungkin kita dapat mengetahui esensi dan sifat yang mutlak dan tak terbatas? Bagaimana mungkin pengetahuan kita yang terbatas ini dapat menyingkap wujud nir-batas?

Ya, dari satu sisi, kita dapat melihat dan memberikan isyarat umum ihwal esensi dan sifat-sifat agung Tuhan. Akan tetapi, untuk mencapai hakikat esnsi dan sifat-Nya secara detail adalah mustahil bagi kita.

Dari sisi lain, wujud nir-batas dari segala dimensi ini tidak memiliki keserupaan dan kesamaan. Dan ketakterbatasan ini hanyalah Tuhan, sebab sekiranya Dia memiliki keserupaan dan persamaan, maka kedua-duanya menjadi terbatas.

Sekarang bagaimana kita dapat memahami wujud yang tak memiliki kesamaan dan keserupaan?

Segala sesuatu yang kita lihat selain-Nya adalah wujud yang mungkin (mumkin al-wujud), sedangkan sifat- sifat Tuhan sebagai Yang-Niscaya Ada (wajib al-wujud) berbeda dengan sifat yang lainnya.

Kita tidak berasumsi bahwa kita tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat wujud Tuhan, tentang ilmu, kuasa, kehendak dan hidup-Nya. Akan tetapi, kita berasumsi bahwa kita memiliki pengetahuan global tentang wujud dan sifat-sifat Tuhan. Dan kedalaman serta batin seluruh hal-hal ini tidak akan pernah kita ketahui. Kaki akal seluruh orang-orang bijak dunia, tanpa kecuali, dalam masalah ini tampak lumpuh:

Pada akal seorang hakim hingga kapan Anda menggapai?
Tak ‘kan pernah terlintas dalam benakmu jalan ini.
Akal tak ‘kan memahami kedalaman Dzat-Nya,
bilamanakah sampai bongkahan kayu ke dasar laut! (Payam-e Qur’an, jld. 4, hlm. 33).

Baca juga :   Tauhid dan Syirik

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Imam Al-Shadiq a.s. dikatakan, “Diamlah bilamana pembahasan sampai pada esensi Allah” (Tafsir Nur Al-Tsaqalayn, jld. 5, hlm. 170). Artinya, jangan membahas ihwal esensi atau dzat Allah. Dalam masalah ini, akal buntu dan tidak akan pernah mencapai tujuannya. Berpikir tentang esensi nir-batas melalui akal yang terbatas adalah mustahil, karena segala yang dirangkum oleh akal bersifat terbatas, dan terbatas bagi Tuhan adalah mustahil.

Dengan ungkapan yang lebih jelas, tatkala kita menyaksikan jagad raya dan seluruh keajaiban makhluk-makhluk, dengan segenap kompleksitas dan keagungannya, atau bahkan melihat wujud diri kita sendiri, secara umum, kita memahami bahwa jagad raya ini memiliki pencipta dan Sumber Awal. Pengetahuan ini adalah pengetahuan global yang merupakan tahapan akhir bagi kekuatan pengetahuan manusia tentang Tuhan. Namun, semakin kita mengetahui rahasia-rahasia keberadaan, semakin juga kita mengenal keagungan-Nya serta jalan pengetahuan global tentang-Nya semakin kuat.

Akan tetapi, ketika kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah hakikat Tuhan? Dan bagaimanakah Dia? Ketika mengarahkan tangan ke arah realitas dzat Tuhan, kita tidak akan mendapatkan sesuatu selain keheranan dan rasa takjub. Kita akan mengatakan bahwa jalan untuk menuju ke arah-Nya adalah terbuka, dan jalan untuk menyentuh hakikatnya adalah tertutup.

hal ini dapat didekatkan pula dengan perumpamaan. Kita semua tahu bahwa ada kekuatan alam yang disebut sebagai daya gravitasi. Segala sesuatu yang terlepas akan jatuh dan tertarik ke bawah. jika daya gravitasi ini tidak ada, ketenangan dan ketentraman bagi seluruh makhluk di muka bumi tidak akan ada.

Ilmu tentang adanya gravitasi bumi bukanlah sesuatu yang diketahui oleh para ilmuwan saja. Anak-anak yang berakal sehat pun dapat mencerap realitas gravitasi bumi ini dengan baik. Akan tetapi, hakikat gravitasi bumi itu apa, apakah ia adalah gelombang-gelombang frekuensi atau atom-atom atau kekuatan lain?

Baca juga :   Taubat Orang Murtad

Dan anehnya adalah gravitasi bumi bertentangan dengan segala sesuatu yang kita kenal dari alam semesta ini. Secara lahiriah, untuk transformasi dari satu titik ke titik yang lain tidak memerlukan waktu yang cukup. Berbeda dengan cahaya yang memiliki gerakan tercepat dalam dunia materi ini. Akan tetapi, ketika mengalami transformasi dari satu titik ke titik yang lain, ia masih memerlukan waktu jutaan tahun lamanya. Namun, gravitasi bumi dapat berpindah dalam satu detik dari satu titik bumi ke titik bumi yang lain dalam waktu yang cukup pendek dan atau sekurang-kurangnya kecepatan yang dimilikinya lebih singkat dari yang kita dengar hingga kini.

Kekuatan macam apakah yang memiliki efek seperti ini? Bagaimanakah hakikat kekuatan ini? Tidak ada seorang pun yang memiliki jawaban yang jelas atas pertanyaan-pertanyaan ini.
Kita hanya memiliki pengetahuan global tentang kekuatan gravitasi ini sebagai salah satu makhluk. Kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya secara detail. Bagaimana kita dapat menguak ihwal Pencipta dunia materi dan hakikat metafisis yang merupakan wujud nir-batas dan dapat mengetahui kedalaman dzat-Nya?

Akan tetapi, dengan kondisi seperti ini pun kita dapat menyaksikan bahwa Tuhan selalu hadir, mengawasi setiap tempat dan bersama setiap wujud di alam semesta ini.

Seratus ribu jelmaan yang keluar dari-Mu,
seratus ribu pandangan aku menyaksikan-Mu.

Sumber:
Nashir Makarim Syirazi, Payam-e Qur’an, Qom, 1375 HS.
Nashir Makarim Syirazi, Pursesyha va Pasukhha, Majma Jahani, Qom, 1429 H.

(Visited 457 times, 1 visits today)

Leave a reply