Memecahkan Berbagai Masalah Fundamental Kehidupan

0
157

Tatkala seseorang berusaha mencari solusi atas berbagai persoalan fundamental pandangan dunia dan berusaha mengenal dasar-dasar agama yang benar, ia akan menghadapi beberapa pertanyaan, yaitu: pertama, cara apakah yang harus ia tempuh untuk memecahkan persoalan tersebut? Kedua, jalur apa saja yang tersedia untuk memperoleh pengetahuan yang sahih? Ketiga, manakah jalur yang harus dipilih untuk memperoleh pengetahuan itu?

Kajian teknis dan luas mengenai pertanyaan-pertanyaan ini berada pada bagian Pengetahuan dari ilmu Filsafat, yakni Epistemologi. Di sana, dibahas berbagai pengetahuan manusia dan nilai-nilainya. Sementara di sini, kami tidak akan mem-bahasnya, mengingat tidak begitu relevan dengan maksud penyusunan buku ini. Kendati demikian, di sini hanya akan dibahas masalah-masalah yang diperlukan.

Macam-macam Pengetahuan
Pengetahuan manusia, dari satu sudut pandang, dapat dibagi menjadi empat macam:
1. Pengetahuan Indrawi. Seseorang akan memperoleh pengetahuan ini melalui panca indranya, tentunya tanpa menafikan peran khas akal dalam proses perolehan itu. Pengetahuan ini biasanya digunakan di berbagai cabang ilmu empirik seperti: Fisika, Kimia, Biologi.
2. Pengetahuan Rasional. Pengetahuan ini tersusun dari konsep-konsep abstraktif (mafahim intiza’iyah) yang disebut juga dengan konsep kedua (ma’qulat tsanawiyah). Dalam hal ini, akal mempunyai peranan utama untuk memperolehnya, walaupun dalam kondisi umumnya digunakan juga indra dan eksperimen dalam proses abtraksi konsep atau dalam membentuk premis-premis analogis. Ruang lingkup pengetahuan rasional ini adalah Logika, Filsafat, Matematika.
3. Pengetahuan Tekstual. Pengetahuan ini memiliki peran sekunder karena ketergantungannya pada pengetahuan sebelumnya, yaitu pengetahuan tentang sumber informasi yang tepercaya (otoritas) dan diperoleh melalui informasi orang yang jujur. Misalnya, pengetahuan para pemeluk agama yang mereka peroleh dari ucapan para pemuka agama. Bisa jadi keyakinan mereka yang diperoleh dari pengetahuan otoritatif (ta’abbudi) ini lebih kokoh dibandingkan dengan keyakinan yang mereka peroleh melalui indera dan eksperimen.
4. Pengetahuan Kehadiran (Hudhuri) atau Penyaksian batin (Syuhudi). Berbeda dengan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya, pengetahuan ini terkait langsung dengan wujud objeknya (ma’lum), tanpa melalui perantara gambaran konseptual dalam-pikiran (mafhum dzihni), serta bebas dari kekeliruan. Akan tetapi, pengetahuan kehadiran ini biasanya disertai oleh penafsiran konseptual subjeknya. Maka, kekeliruan amat mungkin terjadi pada penafsiran yang menyertai pengetahuan ini.

Macam-macam Pandangan Dunia
Berdasarkan macam pengetahuan di atas tadi, pandangan dunia mengenai penciptaan alam semesta ini dapat dibagi menjadi empat macam pula:
1. Pandangan dunia empiris; yaitu pandangan universal seputar wujud yang diperoleh melalui data-data empirik.
2. Pandangan dunia filosofis yang diperoleh melalui analisis rasional dan penalaran akal.
3. Pandangan dunia religius yang diperoleh dari jalur kepercayaannya pada para pemimpin agama dan pada ucapan-ucapan mereka.
4. Pandangan dunia irfani (gnostik) yang diperoleh melalui jalur kasyf (penyingkapan) dan syuhudi (penyaksian batin).

Baca juga :   Fitrah Ilahi (1): Membahas Tuhan dan Agama saja sudah Bawaan Fitrah

Selanjutnya, yang perlu dicermati ialah, apakah persoalan-persoalan mendasar di dalam pandangan dunia dapat dipe-cahkan oleh empat jalur pandangan di atas ini ataukah tidak? Jelas, bahwa pertanyaan ini mendahului penimbangan atas keunggulan satu di atas lainnya.

Analisis Kritis
Mengingat jangkauan pengetahuan empirik itu terbatas pada fenomena-fenomena alam materi, kita tidak mungkin dapat mengetahui dasar-dasar pandangan dunia mengenai penciptaan alam semesta dan mengatasi berbagai persoalan yang bersangkutan hanya mengandalkan data-data penge-tahuan tersebut. Sebab, persoalan-persoalan semacam ini di luar jangkauan ilmu-ilmu empiris. Ilmu empiris manapun tidak berbicara seputar masalah-masalah tersebut, baik mena-fikan ataupun menetapkannya. Sebagai contoh, kita tidak mungkin dapat menetapkan ataupun, na’udzu billah, menafikan wujud Allah melalui penelitian di laboratorium. Pengalaman indrawi tidak mampu menilai ada tiadanya sesuatu di luar lingkaran materi.

Karenanya, pandangan dunia empiris (sesuai dengan penjelasan yang lalu atas istilah “pandangan dunia”) tiada lain adalah fatamorgana dan tidak dapat dikatakan sebagai pan-dangan dunia mengenai wujud dan alam semesta dalam arti yang sebenarnya. Maksimalnya, ia dapat disebut sebagai “pengetahuan tentang alam materi”. Dan, pengetahuan semacam ini tidak mampu menuntaskan persoalan-persoalan mendasar dalam pandangan dunia.

Adapun pengetahuan yang diperoleh melalui jalur otoritas (ta’abbudi) –sesuai dengan yang telah dijelaskan– berlaku dan bernilai secara sekunder, karena kita harus membuktikan terlebih dahulu keberadaan pengetahuan sebelumnya sebagai sumber bagi pengetahuan ini. Misalnya, sehubungan dengan masalah Kenabian, kita harus menetapkan terlebih dahulu kenabian seorang nabi supaya risalah dan seluruh sabdanya itu dapat diakui. Sebelum itu, kita pun harus membuktikan adanya Sang Pengutusnya, yaitu Allah swt. Jelas bahwa kita tidak akan dapat menetapkan keberadaan Sang Pengutus dan kenabian seorang rasul melalui lisan rasul itu sendiri. Misalnya, kita tidak dapat mengatakan bahwa mengingat Al-Qur’an telah menjelaskan keberadaan Allah, maka masalah keberadaan Allah itu dianggap tuntas (berdasarkan firman-Nya itu sendiri).

Baca juga :   Islam: Agama Sempurna

Yang benar adalah, setelah kita dapat membuktikan keberadaan Allah dan kenabian seorang nabi, dan kita telah mengenalnya secara pasti, juga kita telah membuktikan bahwa Al-Qur’an itu adalah kitab Allah yang hak, barulah kita dapat menerima berbagai macam keyakinan far’iyah (parsial) lainnya dan ajaran-ajaran yang bersifat praktis dengan bersandar kepada informasi orang yang jujur dan sumber yang tepercaya.

Adapun mengenai persoalan-persoalan prinsipal, kita harus menetapkannya terlebih dahulu melalui pengetahuan yang lain. Dengan demikian, pengetahuan autoritatif (ta’abbudi) ini tidak mempunyai peran langsung dalam menyelesaikan berbagai persoalan prinsipal di dalam pandangan dunia seputar wujud dan penciptaan alam semesta.

Adapun mengenai pengetahuan kehadiran dan penyaksian batin, kita memerlukan pembahasan yang luas dan panjang. Mengingat bahwa pertama: pandangan dunia seputar penciptaan alam semesta merupakan pengetahuan yang terbentuk dari gambaran-gambaran konseptual di dalam pikiran, sementara pada konteks kehadiran (hudhuri) tidak ada tempat lagi bagi gambaran semacam itu. Dengan demikian, penisbahan gambaran konseptual kepada konteks kehadiran lebih merupakan toleransi dan ditilik dari kapasitasnya sebagai basis kemunculan gambaran konseptual tersebut.

Kedua, menjelaskan berbagai hal kehadiran dan penyaksian batin melalui kata-kata dan konsep membutuhkan kemampuan dan kekuatan nalar tertentu yang tidak dapat dicapai kecuali dengan dasar-dasar dan latar belakang yang cukup panjang, berupa kemampuan analisis rasional dan filosofis. Seorang yang tidak mempunyai kekuatan semacam ini terpaksa menggunakan kata-kata, ungkapan-ungkapan dan konsep-konsep yang abu-abu (mutasyabih) sehingga sangat mungkin malah menjadi faktor yang berdampak pada distorsi dan penyimpangan.

Ketiga, seringkali terjadi kesamaran dan kekeliruan antara hakikat realitas yang disaksikan dalam konteks penyaksian batin itu yang hakiki dengan gambaran-gambaran khayalan serta penafsiran konseptual terhadap hakikat tersebut. Bahkan, kekeliruan dan kekaburan itu bisa juga menimpa sekalipun pada subjek penyaksian batin (musyahid) itu sendiri.

Keempat, seseorang tidak mungkin mencapai berbagai hakikat batin kecuali setelah melakukan sair-suluk irfani (perjalanan ruhani) bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi, keima-nan dan keyakinan seseorang terhadap metode sair-suluk, yang dianggap sebagai pengetahuan praktis, bergantung kepada dasar-dasar teoritis dan persoalan-persoalan yang mendasar dalam pandangan dunia.

Oleh karenanya, sebelum seseorang itu mulai mengamalkan sair-suluk, ia harus mampu menuntaskan persoalan-perseoalan itu dengan baik. Sedangkan pengetahuan kehadiran itu baru bisa diperoleh tatkala ia berada di dalam atau di puncak perjalanan sair-suluk tersebut. Pada hakikatnya, irfan hakiki itu baru akan dapat dicapai oleh seseorang tatkala ia berusaha dengan sungguh-sungguh dan penuh ikhlas beribadah kepada Allah. Sementara usaha dan suluknya itu sendiri bergantung kepada pengetahuan tentang Allah swt. dan tentang cara ibadah kepada-Nya.

Baca juga :   Tauhid dan Syirik

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kita tarik dari ulasan di atas adalah bahwa satu-satunya jalan bagi seseorang yang beru-saha untuk mencari solusi dalam menghadapi masalah-masalah pokok pandangan dunia adalah jalan logika atau metode rasional. Maka itu, pandangan dunia yang sebenarnya adalah pandangan dunia filsafi.

Akan tetapi, perlu kita ketahui bahwa membatasi upaya mencari solusi atas masalah-masalah tersebut pada metode rasional dan premis-premis filosofis tidak berarti bahwa untuk pencapaian pandangan dunia semacam itu bergantung kepada pemecahan atas seluruh persoalan Filsafat. Upaya itu cukup dengan mengkaji sebagian masalah filsafat yang sederhana dan tampak gamblang. Dengan cara inilah kita dapat membuktikan wujud Allah swt. Hal ini merupakan masalah yang paling penting dalam pandangan dunia, walaupun studi khusus mengenai masalah-masalah ini dan cara menghadapi berbagai kritik serta keraguan dan pemecahannya mem-butuhkan kejelian filosofis secara luas.

Begitu pula ketika kita membatasi berbagai pengetahuan yang dapat membuahkan dan menyelesaikan masalah-masalah yang mendasar melalui pengetahuan rasional, bukan berarti kita membuang pengetahuan-pengetahuan lainnya untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Bahkan kita dapat menggunakan argumen-argumen rasional yang sebagian premisnya dihasilkan dari jalur pengetahuan kehadiran atau indra dan eksperimen. Sebagaimana juga kita dapat meng-gunakan pengetahuan autoritatif (ta’abbudi) untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah rincian yang biasanya dibuktikan dengan ayat Al-Qur’an dan hadis yang merupakan sumber agama.

Akhirnya, tatkala pandangan dunia dan ideologi yang be-nar itu dapat dicapai, seseorang akan melangsungkan usa-hanya hingga sampai ke mukasyafah dan musyahadah (penyingkapan ruhani dan penyaksian batin) melalui usaha yang gigih dalam menempuh jenjang-jenjang sair-suluk sehingga dapat menyak-sikan–tanpa melalui konsep-konsep mental– berbagai hakikat yang dibuktikan oleh argumen-argumen rasional.[RED]

Sumber:
Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Amuzesy-e Aqa’id, pelajaran 4.

(Visited 89 times, 1 visits today)

Leave a reply