Lingkup Kajian Ilmu Kalam

0
147

STUDISYIAH.COM–Dapat segera ditegaskan bahwa Al-Quran sendiri berperan signifikan dalam mendorong pengembangan pemikiran dan pendalaman terhadap kandungan ayat-ayatnya dan menggali rahasia-rahasianya, karena di samping memotivasi manusia untuk berpikir dan bertadabur, ia juga dalam banyak kesempatan menjelaskan hukum dan aturan agama dengan menerangkan falsafat dan hikmah di dalamnya.

Misalnya, ia menjelaskan shalat sebagai faktor mengingat Tuhan dan menghindarkan pelakunya dari perbuatan-perbuatan buruk (Al-Ankabut, 45); ia juga menerangkan hukum puasa sekaligus sebagai faktor ketakwaan kepada Allah SWT (Al-Baqarah, 183), juga ia menguraikan hukum zakat sebagai kesucian spiritual (Al-Taubah, 103), demikian pula ia menyebutkan konsep jihad melawan kaum musyrik sebagai upaya mencabut akar-akar fitnah dan kerusakan di bumi (Al-Taubah, 39). Dan masih banyak contoh lain yang dapat dijumpai dalam kitab suci ini.

Logika lurus Al-Quran ini telah menjadi fokus dan komitmen para imam maksum sebagai pengajar tema-tema Kalam dan ajaran-ajaran akidah. Tidak hanya aktif dalam tanya-jawab Kalam, mereka bahkan menyinggung falsafah dan hikmah serta hukum-hukum Tuhan dalam mengajarkan ushuluddin agama. Hal-hal ini dapat dijumpai pertama-tama dalam berbagai pidato, surat dan kata mutiara Imam Ali bin Abi Thalib a.s., juga dapat ditemukan dalam pidato monumental Siti Fathimah a.s., kemudian juga dapat dirujuk dalam riwayat dan hadis para imam suci Ahlul Bait a.s. Jumlah besar dari hal-hal tersebut telah dinukil dalam Nahj Al-Balaghah dan ‘Ilal Al-Syara’i karya Syekh Shaduq.

Setelah mereka, barulah kita jumpai peran para mutakallim ternama Syiah yang melanjutkan peran para imam suci a.s. dalam dua ruang lingkup ilmu Kalam, yakni ajaran-ajaran akidah agama dan falsafah hukum agama. Banyak karya telah mereka tulis, sebagaimana Syekh Shaduq telah mengarang buku-buku seputar tauhid, kenabian, imamah, hari kebangkitan, dan tema-tema lainnya. Karya masterpiecenya, “Al-Tawhid”, merupakan sumbangsih ilmiah besar untuk dunia Islam. Karya besar lain Syekh Shaduq ialah “‘Ilal Al-Syara’i” dalam ringkup falsafah hukum.

Baca juga :   Cara Mudah Mengenal Allah (1): Nilai-Penting dan Keunggulan

Di antara mutakallim Syiah terkemuka abadd ke-3 H ialah Fadhl bin Syadzan Al-Nayshaburi (w. 260 H). Ia banyak mengarang buku-buku Kalam dan membahas dasar-dasar akidah Islam, di antaranya buku “Kitab Al-‘Ilal” (Syaikh Al-Tha’ifah, Al-Fahrast, hlm. 124) yang mengulas falsafah hukum-hukum parsial dan praktis Islam, dan hampir semua isinya dikutip oleh Syekh Shaduq dalam “’Ilal Al-Syara’i” (bab 182).

Mulla Hadi Sabzawari juga dalam buku “Asrar Al-Hikam” membahas masalah-masalah Kalam dalam dua ruang lingkup tersebut

Atas dasar itu, dapat disimpuljan bahwa lingkup kajian dan wilayah masalah-masalah ilmu Kalam tidak terbatas pada apa yang dikenal dengan nama Ushul Al-‘Aqa’id (dasar-dasar akidah), tetapi juga mencakup penjelasan ilmiah dan aspek hikmah di balik penetapan hukum parsial dan praktis agama. Maka kedua lingkup dan wilayah ini menjadi area kerja ilmu Kalam dan tanggung jawab ilmiah para mutakallim, karena berbagai kritik dan isu serta penentangan yang dinyatakan terhadap Islam tidak hanya tertuju pada ajaran-ajaran akidah agama, tetapi juga menyasar falsafah hukum praktisnya. Selain itu, baik Al-Quran maupun hadis sama-sama memberikan perhatian terhadap dua lingkup ini.

(Visited 172 times, 1 visits today)

Leave a reply