Kumail bin Ziyad, Pezuhud dan Ahli Ibadah yang Abadi dengan Nama Doa

0
50

STUDISYIAH.COM–Bernama lengkap Kumail bin Ziyad bin al-Nahik al-Nakha’i al-Shuhbani al-Kufi. Ia termasuk tabi’in dan sahabat terkemuka Imam Ali a.s. dan Imam Husain a.s. Kumail orang pertama yang mengusulkan penurunan Utsman dari kekhalifahan dan pengangkatan Imam Ali a.s. sebagai khalifah.

Pada masa pemerintahan Imam Ali a.s. ia menjadi gubernur kota Hit [1]. Ketika pasukan Muawiyah merebut kota Hit, Imam Ali a.s. menyalahkan Kumail akibat keteledorannya dalam mempertahankan kota itu.

Dalam referensi-referensi Syi’ah, banyak riwayat yang dinukil dari Kumail, di antaranya doa yang kelak dikenal masyhur dengan namanya: Doa Kumail. Namun dalam sumber-sumber Ahli Sunnah, ia termasuk perawi yang sedikit meriwayatkan hadis, dan terkadang dicela. Ia dikenang sebagai orang yang berada di jajaran pezuhud (zuhhād) dan ahli badah (ubbād).

Nasab dan Keluarga

Kumail adalah putra Ziyad bin Nahik dari suku Nakha’. Rasulullah SAW berkenaan dengan suku Nakha’ bersabda, “Ya Allah, berkahilah suku Nakha!”.[2] Muhammad Dasyti menyebutkan Haris bin Ziyad, pembunuh anak-anak kecil Muslim dan pendukung Ubaidillah bin Ziyad, sebagai saudara Kumail. [3] Dalam sumber-sumber sejarah tidak disebutkan tahun lahirnya Kumail, namun Zirikli menuliskan bahwa ia lahir tahun 12 H.[4]

Periode Imam Ali a.s.

Pusara Kumail bin Ziyad, Irak

Kumail tergolong dari Tabi’in dan sahabat khusus Imam Ali a.s. dan Imam Husain a.s. [5] Dia termasuk orang Syi’ah yang, di awal kekhilafahan Imam Ali a.s., berbaiat pada beliau dan ikut-serta dalam berbagai peperangan seperti: Perang Shiffin. [6] Ia juga pemegang rahasia Imam Ali a.s. [7]

Bersama Amr bin Zurarah, Kumail termasuk orang yang pertama mengusulkan penurunan Utsman bin Affan dari kekhalifahan dan pengangkatan Imam Ali a.s. sebagai khalifah.[8] Kumail termasuk dari sepuluh orang yang, di masa kekhalifahan Utsman, diasingkan dari Kufah ke Syam (Suriah).[9]

Baca juga :   Al-Biruni; Sang Ustadz Fil Ulum

Pejabat Negara

Dalam pemerintahan Imam Ali a.s., Kumail menjabat sebagai gubernur kota Hit di pinggiran Baghdad. [10]
Ketika Kumail menerima berita bahwa pasukan Muawiyah yang dipimpin oleh Sufyan bin Auf hendak menyerang kota Hit, ia berpikir bahwa mereka berada di Qerqesa, maka tanpa izin Imam Ali a.s., ia menarik 50 pasukan bersenjata di kotanya dan dia sendiri beserta para pendukungnya bergerak menuju ke Qerqesa. Pasukan Muawiyah memanfaatkan kesempatan ini dan menyerang kota Hit. Lewat sepucuk surat, Imam Ali a.s. memperingatkan Kumail atas tindakannya itu. [11] Surat ini tercatat dalam Nahjul Balaghah, no. 61. [12]

Setelah kesyahidan Imam Ali a.s., Kumail bergabung dalam barisan sahabat-sahabat Imam Hasan Al-Mujtaba a.s. [13]

Perawi Hadis

Kumail meriwayatkan hadis dari Imam Ali a.s., Umar bin Khattab, Ibnu Mas’ud dan yang sahabat yang lain. Sementara Abdurrahman bin ‘Abis, Abu Ishak Sabi’i, A’masy dan yang lain meriwayatkan hadis darinya (Kumail). [14]

Dalam referensi-referensi Syi’ah, banyak hadis yang diriwayatkan dari Kumail. Namun Ahli Sunnah meyakini sedikit hadis yang dinukil darinya. Ibnu Hibban dan Ibnu Mu’in menyakini Kumail sebagai orang yang dipercaya (tsiqah), namun di sebagian sumber Ahli Sunnah ia dicela dan riwayat-riwayatnya tidak dapat dijadikan sandaran.[15]

Doa Kumail

Kumail meriwayatkan doa Nabi Khidir ini dari Imam Ali a.s. Karena ia belajar dan meriwayatkan doa ini dari Imam Ali a.s., maka doa itu terkenal dengan namanya: Doa Kumail.

Di sebagian referensi Syi’ah, ada beberapa wasiat Imam Ali a.s. yang diriwayatkan oleh Kumail [16] dan ringkasannya dimuat dalam kitab hadis, Tuhaf al-‘Uqul. [17]

Kesyahidan

Imam Ali a.s. sudah mengetahui tentang terbunuhnya Kumail. [18] Mayoritas sejarawan menyebutkan Kumail wafat pada 82 H.[19] Tetapi Thabari [20] meyakini wafatnya jatuh pada tahun 83 H, sementara Ibnu Hajar Al-Asqalani sesuai riwayat Yahya bin Mu’in mencatat wafatnya pada tahun 88 H.[21] Ia meninggal dunia di usia 70 tahun.[22]

Baca juga :   Syeikh Thabarsi: Mufasir Sastrawan

Kumail dibunuh atas perintah Hajjaj bin Yusuf Tsaqafi.[23] Ketika memanggil Kumail, Hajjaj sembunyi, namun ketika Hajjaj menekan kabilah dan keluarganya, Kumail menyerahkan diri kepadanya. Dan setelah terjadi dialog di antara keduanya, Hajjaj mengeluarkan perintah pembunuhan atasnya.[24] Makam Kumail berada di jalan utama kota Najaf menuju kota Kufah, di daerah Tsawwaih (Hay al-Hannanah) dekat Masjid Hannanah.[25]

Catatan Kaki
[1] Hit adalah salah satu kota perbatasan antara Irak dan Suriah, di pinggir sungai Efrat yang sekarang menjadi bagian provinsi Ramadi. Dari kota itulah rombongan-rombongan bergerak menuju Aleppo. Hit adalah kota subur dengan pagar tembok berdiri kokoh.
[2] Asad al-Ghābah, jld. 1, hlm. 75; al-Thabaqāt al-Kubrā, jld. 1, hlm. 261
[3]Muhammad Dasyti, hlm. 599, catatan kaki surat no. 61
[4] Zarikili, jld. 5, hlm. 234.
[5] Quthb Rawandi, Minhāj al-Barā’ah, jld. 1, hlm. 219; Mufid, Ikhtishāsh, hlm. 7.
[6] Al-Ishābah, jld. 5, hlm. 486; Thabaqāt Ibn Sa’ad, jld. 6, hlm. 217; Mufid, Ikhtishāsh, hlm. 108
[7] Husaini Zubaidi, Tāj al-‘Arus(1414 H), jld. 15, hlm. 668.
[8] Ansāb al-Asyraf, jld. 5, hlm. 517
[9] Tārikh al-Thabari/terjemah, jld. 6, hlm. 2195 , 2199
[10] Muhammad Dasyti, hlm. 591.
[11] Ansāb al-Asyraf, jld.2, hlm. 473.
[12] Muhammad Dasyti, hlm. 599 (surat no. 61).
[13] Syaikh Thusi, hlm. 97. 486.
[14] Al-Ishābah, jld. 5, hlm. 486.
[15] Al-Ansāb, jld. 13, hlm. 68.
[16] Wasāil al-Syi’ah, jld. 5, hlm. 354; Bihār al-Anwār, jld. 1, hlm. 187, 189, 223, dan 258; jld. 2, hlm. 298; jld. 23, hlm. 44, 47- 48; jld. 33, hlm. 399; jld. 58, hlm. 84; jld. 63, hlm. 424-425; jld. 71, hlm. 314-319; jld. 74, hlm. 276, 271, 278; jld. 74, hlm. 714; jld. 74, hlm. 414; jld. 75, hlm. 75; jld. 80, hlm. 284; jld. 81, hlm. 229
[17] Tuhaf al-‘Uqul, hlm. 171-176.
[18] Bihar al-Anwār, jld. 41, hlm. 316; al-Manāqib, jld. 2, hlm. 271.
[19] Al-Ishābah, jld. 5, hlm. 486; Tarikh Khalifah, hlm. 182; Dzahabi, Tarikh al-Islam, jld. 6, hlm. 177
[20] Tarikh Thabari, jld. 8, hlm. 3716
[21] Tahdzib al-Tahdzib, jld. 8, hlm. 402.
[22-23-24] Al-Ishābah, jld. 5, hlm. 486.
[25] Alawi, Rahnamāye Mushawwar Safare Ziyārati-e Iraq, hlm. 145.

Baca juga :   Syarif Radhi: Ulama Begawan Sastra
(Visited 18 times, 1 visits today)

Leave a reply