Kritik atas Skeptisisme: Memakan Anak-anaknya Sendiri

0
119

STUDISYIAH.COM–Setiap orang berakal sehat percaya bahwa dirinya tahu sesuatu dan dia bisa mengetahui hal-hal lain. Karena itu, ia berupaya mendapat informasi tentang apa saja yang dibutuhkan dan diinginkannya. Contoh paling konkret dari upaya itu telah dilakukan oleh para ilmuwan dan filosof hingga berhasil meletakkan pelbagai bidang sains dan filsafat.

Jadi, kemungkinan pengetahuan atau kenyataannya bukanlah persoalan yang bisa diragukan apalagi diingkari oleh siapa pun yang berakal sehat, berpikiran jernih dan tidak dikacaukan oleh isu-isu. Hal yang terbuka untuk dikaji dan layak didiskusikan ialah identifikasi medan pengetahuan, sarana-sarana mencapai pengetahuan yang pasti-benar, metode untuk membedakan pemikiran yang benar dari yang tidak benar, dan masalah-masalah lainnya.

Dalam catatan sejarah, gelombang besar Skeptisisme berkali-kali menghantam Eropa hingga tidak sedikit dari kalangan pemikir besar ikut tertelan lenyap ke dalamnya. Sejarah filsafat menyaksikan pelbagai mazhab pemikiran yang mengingkari sepenuhnya [kemungkinan] pengetahuan seperti: Sofisme, Skeptisisme, dan Agnostisisme.

Jika memang ada orang-orang yang secara mutlak mengingkari pengetahuan, barangkali justifikasi terbaik untuk mereka ialah mereka sedang menderita waswas mental yang akut, suatu keadaan yang juga menimpa sebagian kalangan dalam masalah lain. Keadaan ini lebih merupakan sejenis penyakit jiwa.

Walhasil, tanpa harus melakukan pelacakan sejarah mengenai realitas orang-orang ini, menyelidiki motif di balik statemen-statemen mereka, atau meneliti benar-tidaknya mereka meyakini pendirian seperti itu, kita tetap bisa menyoroti statemen dan pendirian yang dilaporkan dari mereka sebagai isu dan pertanyaan yang mesti dijawab sesuai dengan telaah filosofis, sementara masalah-masalah lain seperti di atas biarlah ditangani oleh pakar sejarah dan ahli terkait.

Tinjauan atas Klaim-klaim Skeptisisme
Statemen-statemen para Sofis dan Skeptis, dilihat dari satu sisi, bisa kita bagi menjadi dua: bagian yang berhubungan dengan ada (wujūd), dan bagian yang berhubungan dengan pengetahuan.

Sebagai contoh, Gorgias, tokoh Sofis paling ekstrem, konon pernah menyatakan, “Tidak ada sesuatu apa pun; kalaupun ada, ia tidak bisa diketahui; dan kalaupun bisa diketahui, ia tidak bisa dikomunikasikan.” Kalimat pertama dalam pernyataan ini berkaitan dengan Ada sebagai subjek yang akan kita perbincangkan pada Ontologi. Sedangkan kalimat kedua relevan dengan studi sekarang mengenai Epistemologi.

Sebelum lebih jauh mendalami Epistemologi, perlu ditegaskan bahwa setiap orang yang meragukan segala sesuatu tidak akan dapat meragukan Ada/realitas dirinya, Ada keraguannya sendiri, Ada daya-daya pengetahuan seperti: daya lihat dan daya dengar, Ada forma-forma dalam-pikiran, dan Ada keadaan-keadaan jiwa mereka. Kalau dia masih saja menyatakan klaim ragu mengenai hal-hal ini, bisa dipastikan dia sedang sakit dan, karenanya, perlu segera disembuhkan, atau berbohong dan beritikad buruk dan, karenanya, perlu diingatkan dan diluruskan.

Baca juga :   Filsafat Ilmiah

Demikian pula, orang yang berbicara atau menulis buku tidak mungkin meragukan Ada lawan bicara atau kertas dan pena yang dipakainya untuk menulis. Paling-paling, dia bisa mengatakan bahwa dia mengetahui semua hal itu di dalam dirinya, tetapi meragukan Ada mereka di luar dirinya. Begitulah tampaknya yang hendak dinyatakan oleh Berkeley dan beberapa Idealis lainnya saat mereka menerima semua objek pengetahuan sebagai forma-forma dalam-pikiran belaka dan menolak Ada eksternalnya.

Kendatipun begitu, kaum Idealis ini mengakui Ada orang-orang lain yang juga mempunyai pikiran dan pengetahuan. Akan tetapi, pengakuan semacam ini tidak berarti penolakan mutlak atas Ada dan pengetahuan, melainkan penolakan atas realitas adaan-adaan (mawjud) material atau, sebagaimana dilaporkan dari Barkeley, penolakan atas sebagian Ada dan peraguan atas sebagian objek pengetahuan.

Sekarang, bila seseorang mengklaim bahwa pengetahuan pasti-benar itu mustahil diperoleh, kita perlu ajukan pertanyaan berikut, “Apakah Anda mengetahui klaim Anda ini secara pasti-benar atau Anda meragukannya?” Jika dia menjawab mengetahuinya secara pasti-benar, setidaknya dia telah mengakui satu pengetahuan yang pasti-benar dan, dengan demikian, dia sendiri telah menggugurkan klaimnya sendiri mengenai kemustahilan memperoleh pengetahuan yang pasti-benar.

Namun, jika dia menjawab, “Saya tidak tahu klaim saya itu secara pasti-benar”, jawaban ini merupakan pengakuan dirinya bahwa pengetahuan pasti-benar itu tidak mustahil diperoleh. Dengan begitu, klaimnya bahwa mustahil memperoleh pengetahuan pasti-benar, untuk kedua kalinya, telah digugurkan oleh jawabannya sendiri.

Akan tetapi, jika seseorang menyatakan, “Saya me­ragukan kemungkinan memperoleh pengetahuan yang pasti-benar”, perlu ditanyakan kepadanya, “Apakah Anda mengetahui bahwa Anda punya keraguan semacam itu atau tidak?” Jika dia menjawab, “Saya mengetahui bahwa diri saya mempunyai keraguan tersebut”, ini berarti tidak hanya telah mengakui kemungkinan diperolehnya penge­tahuan pasti-benar, tetapi dia juga mengakui kenyataan faktual pengetahuan yang pasti-benar itu (yaitu Ada keraguan yang dialami dirinya sendiri).

Jika dia berusaha konsisten dan menjawab, “Saya juga ragu bahwa diri saya mempunyai keraguan semacam itu”, jawaban seperti ini tidak bebeda dengan jawaban orang sebelumnya: dia menyatakan demikian dia sedang sakit atau karena beritikad buruk yang memerlukan penanganan non-teoretis.

Baca juga :   Sekilas Sejarah Filsafat Abad Pertengahan

Dialog seperti di atas juga bisa ditempuh bersama orang-orang yang membela relativisme semua pengetahuan, yakni kalangan yang mengklaim bahwa tidak ada proposisi (pengetahuan) yang benar secara mutlak, universal dan permanen.

Kepada mereka ini kita bisa bertanya: apakah proposisi “tidak ada pengetahuan yang benar secara mutlak, universal dan permanen” ini klaim yang benar secara mutlak, universal dan permanen ataukah relatif, partikular dan temporer? Jika klaim relativisme mereka ini dianggap benar selamanya dalam semua kasus, tanpa syarat dan kualifikasi apa pun, maka setidaknya dapat dipastikan adanya satu proposisi atau satu klaim yang benar secara mutlak, universal dan permanen.

Namun, jika klaim realitivisme ini pun masih bersifat relatif, itu berarti klaim ini tidak benar pada sebagian kasus. Maka, dalam kasus-kasus yang padanya klaim relativisme tidak berlaku benar, terdapat pengetahuan dan proposisi yang benar secara mutlak, universal dan permanen.

Sanggahan terhadap Skeptisisme
Salah satu isu andalan kaum Sofis dan Skeptis yang mereka nyatakan dalam pelbagai rumusan dan dengan berbagai contoh ialah keraguan berikut:

Terkadang seseorang memperoleh pengetahuan pasti-benar akan adanya sesuatu melalui pancaindra, tetapi kemudian ia menyadari bahwa dirinya ternyata salah. Maka, ada fakta yang baru dia sadari bahwa pengetahuan indrawi tidak terjamin akan selalu benar sehingga muncul pertanyaan dan kemungkinan berikut: dari mana bisa dipastikan bahwa persepsi dan pengetahuan indrawi lain pada dirinya tidak salah; mungkin saja pada suatu hari dia kelak akan menyadari kesalahan semuanya.

Begitu pula, adakalanya seseorang memperoleh keyakinan pasti-benar akan masalah tertentu melalui argumen rasional, tetapi kemudian mengetahui bahwa argumennya keliru, lantas keyakinannya pun berubah menjadi keraguan. Di sini, dia baru menyadari bahwa keyakinan dan pengetahuan rasional pun tidak terjamin pasti-selalu benar. Dengan demikian, kemungkinan kekeliruan pada pengetahuan rasional tadi menjalar ke pengetahuan rasional lainnya. Kesimpulannya, baik indra maupun akal tidak dapat dipercaya; yang tersisa bagi manusia tidak lebih dari keraguan.

Berikut ini sejumlah sanggahan atas argumen di atas:

Pertama
Dengan argumen di atas, kalangan Skeptis hendak mencapai konklusi yang mereka inginkan, yaitu kebenaran klaim Skeptisisme dan kepercayaan pasti akan kebenaran klaim tersebut. Setidaknya, argumen itu dirancang oleh mereka untuk meyakinkan klaim mereka sendiri kepada lawan bicara, yakni mereka berharap lawannya tahu-percaya pada kebenaran klaim mereka. Padahal, klaim skeptisistik mereka menyatakan: pengetahuan (yang benar) apa pun mustahil diperoleh sama sekali.

Baca juga :   Apakah Islam Jadi Sempurna dengan Adanya Filsafat dan Logika?

Kedua
Menemukan kekeliruan pada pengetahuan indrawi dan rasional merupakan bukti bahwa pengetahuan manusia tidak sesuai dengan fakta. Bukti ini berarti pula pengakuan akan adanya pengetahuan [pasti-benar] tentang sebuah fakta, yaitu fakta terjadinya kesalahan pada pengetahuan.

Ketiga
Implikasi lain dari menemukan kesalahan ialah, suka atau tidak, kita harus menerima pengetahuan pasti-benar bahwa terdapat realitas dimana pengetahuan salah kita tidak sesuai dengannya. Jika kita menolak adanya realitas itu, maka kesalahan pengetahuan akan hilang pengertiannya.

Keempat
Implikasi lainnya ialah pengetahuan yang salah ini sendiri, yakni forma pikiran yang tidak sesuai dengan fakta, merupakan realitas yang kita ketahui secara pasti-benar.

Kelima
Pada implikasi terakhir juga harus diakui secara pasti-benar adanya subjek pengetahuan salah, demikian pula adanya indra dan akal yang berfungsi salah.

Keenam
Argumentasi di atas itu sendiri sudah merupakan penalaran rasional, meskipun dalam kategori falasi (mughālathah). Berargumentasi dengan metode rasional sama artinya dengan mengakui validitas akal dan pengetahuan-pengetahuan rasionalnya.

Ketujuh
Lebih dari itu, ada satu pengetahuan lain di sini yang, disadari atau tidak, sudah diasumsikan pasti-benar, yaitu pengetahuan kita bahwa pengetahuan yang salah, dari segi ia salah, tidak mungkin benar.

Dengan demikian, argumen kaum Skeptis di atas sesungguhnya menegaskan adanya sejumlah pengetahuan yang pasti-benar. Karena itu, kemungkinan memperoleh pengetahuan [yang pasti-benar] tidak bisa diingkari atau diragukan secara mutlak.

Semua sanggahan di atas dikemukakan sebagai jawaban destruktif (jawāb naqdhiy) terhadap argumen para Skeptis. Adapun dalam rangka menjawab secara konstruktif (jawāb halliy) dan menyingkapkan aspek falasi (wajh al-mughālathah) mereka, dapat dijelaskan bahwa kita membuktikan salah atau benarnya pengetahuan indrawi dengan argumen-argumen rasional.

Adapun menganggap temuan terjadinya kesalahan pada sejumlah pengetahuan rasional sebagai kemungkinan kesalahan yang merambat ke pengetahuan rasional lainnya adalah anggapan yang salah, karena kemungkinan kesalahan seperti itu hanya dapat muncul pada pengetahuan spekulatif atau non-swanyata. Akan halnya pengetahuan swanyata rasional (badīhiyyāt ‘aqliyyah) yang menjadi landasan argumen-argumen filosofis sama sekali tidak mungkin salah.

Sumber: Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Al-Manhaj Al-Jadid fi Ta’lim Al-Falsafah, daras 12.

(Visited 24 times, 1 visits today)

Leave a reply