Istilah Ilmu dalam Filsafat

0
121

Satu dari sekian kata yang mempunyai penggunaan beragam sekaligus menjebak adalah ilmu (‘ilm). Makna harfiah kata ini dan pelbagai sinonimnya dalam bahasa lain seperti: dânesy dan dânestan dalam bahasa Persia, kiranya sudah sangat jelas hingga tidak lagi perlu dijelaskan. Akan tetapi, ilmu juga memiliki beragam makna teknis; yang paling penting di antaranya berikut ini:

 Pertama, keyakinan yang sesuai (mutâbiq) dengan fakta (wâqi‘), sebagai lawan dari kenirtahuan sederhana (jahl basît) dan kenirtahuan ganda (jahl murakkab), meskipun ia berada dalam satu proposisi.

 Kedua, himpunan proposisi yang diamati berhubungan satu sama lain, meskipun berupa proposisi-proposisi individual (syakhshiy) dan partikular (juz’iy). Dalam pengertian inilah ilmu sejarah berarti pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa tertentu sejarah, ilmu geografi yaitu pengetahuan tentang kondisi-kondisi tertentu kawasan-kawasan di bumi, ilmu Rijal berarti pengetahuan tentang perawi-perawi hadis dan biografi tokoh-tokoh.

Ketiga, himpunan proposisi universal (kulli) yang berkisar pada poros tertentu dan, meskipun berdasarkan konvensi (i‘tibâriy), tiap-tiap proposisi ini bisa berlaku pada sekian banyak objek. Dalam makna inilah ilmu non-hakiki dan konvensional seperti: tata bahasa dan kesusastraan, disebut sebagai ilmu dan, pada makna ini pula, proposisi-proposisi individual dan partikular seperti di atas (kedua) tidak terbilang sebagai ilmu.

Keempat, himpunan proposisi-proposisi universal hakiki (haqîqiy) dan nonkonvensioal yang berkisar pada poros tertentu. Makna dan pengertian ini mencakup seluruh ilmu teoretis dan ilmu praktis, termasuk teologi dan metafisika, tetapi tidak berlaku pada proposisi-proposisi individual dan konvensional.

 Kelima, himpunan proposisi-proposisi hakiki yang bisa dibuktikan kebenarannya dengan pengalaman indrawi. Dalam pengertian inilah istilah ‘ilmu’ digunakan kaum positivis. Karena itu, ilmu-ilmu dan pengetahuan non-empiris tidak dianggap sebagai ilmu.

Baca juga :   Allamah Thabathaba’i: Mufasir, Filosof, Mujtahid dan Sufi

 Pembatasan istilah ilmu atau sains pada ilmu-ilmu empiris ( no. 5) tidak perlu diperdebatkan sejauh kaitannya dengan semata-mata peletakan dan konvensi istilah. Akan tetapi, konvensi istilah ini, oleh kaum positivis, didasarkan pada pandangan khas mereka bahwa lingkup pengetahuan hakiki dan pasti-benar manusia terbatas hanya pada hal-hal indrawi dan empiris.

 Sejurus dengan itu, mereka menganggap kegiatan berpikir tentang apa saja di luar batasan itu sebagai upaya sia-sia dan nirguna. Sialnya, makna inilah yang justru menyebar luas dalam skala dunia sehingga menempatkan ilmu dan sains berhadap-hadapan dengan filsafat. tentunya ini terlepas dari Penilaian seputar lingkup pengetahuan pasti-benar (al-ma’refat al-haqîqiyyah) manusia, sanggahan atas kaum positivis, dan bukti atas adanya pengetahuan pasti-benar di luar medan indra dan pengalaman akan kita tunda sampai pada tempatnya (praktis (Âmûzesh-e Falsafeh, jil. I, Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Sazman-e Tablighat-e Islami, Qom, 1378 HS/2000 M).

(Visited 41 times, 1 visits today)

Leave a reply