Islamofobia, Akibat Kebodohan dan Kedangkalan Membaca Teks Suci

0
119

STUDISYIAH.COM–Harusnya, semakin lama hidup, semakin dewasa; semakin panjang pengalaman, semakin bijak. Sudah banyak genarasi di Barat juga di Timur yang datang-pergi silih berganti. Tidak sedikit pula peradaban yang dibangun dan dihancurkan. Semestinya, umat manusia ini sudah kenyang dengan pengalaman dan kaya memori pahit-manisnya memulai, membangun dan mempertahankan kehidupan bersama secara dewasa dan bijak.

Kini, di era yang tak terbayangkan oleh orang-orang yang pernah ada bahkan satu abad sebelum ini, manusia dan dunianya tentu lebih maju dan supercanggih. Serbacepat, serbataktis, serbapraktis. Tapi, aapakah kemegahan peradaban mutakhir ini menyimpan kemewahan nilai-nilai kemanusiaan; keadilan dan kedamaian? Jika Timur Tengah disebut jantung dunia, orang di sana seperti Al Jabiri menderita menatap bangsa-bangsa Muslim di sana sebagai objek dan korban.

Catatan satu kata dari Al Jabiri ini mengingatkan setiap Muslim sebelum menyesali perlakuan subjek dan aktor penindasan. Dua faktor inilah, yakni internal dan eksternal dunia Islam, yang disoroti oleh pemikir Muslim, Dr. Muhsin Labib, dalam wawancara singkat baru-baru ini berbahasa Persia. Berikut ini terjemahan Bahasa Indonesia:

 

Bisakah Islam membantu orang di dunia saat ini untuk pertumbuhan spiritual?

Muhsin Labib: Saya bisa saja menjawab, bisa! Tapi bukankah kita dihadapkan pada fakta Islam sebagai agama tidak direpresentasi oleh satu masyarakat yang padu dan utuh dalam memahami ajaran-ajarannya, bahkan tak sepakat dalam menentukan sumber-sumber ajarannya?

Sulit untuk memastikan sebuah agama yang, secara sosiohistoris, tidak membentuk satu umat yang satu dalam prinsip-prinsipnya bagaimana akan menjadi pilihan utama sebagai benteng bagi spiritualitas. Penyebab utamanya adalah hilang elemen penting di dalamnya, yaitu otoritas sentral dan tunggal sebagai pemegang hak eksklusif menjelaskan ajarannya dan merepresentasinya. Ini bisa terjadi bila umat Islam dibentuk ulang dengan akal sehat lalu merumuskan ajarannya secara komprehensif dan sistematis. Singkatnya, selain kitab suci dan umat, diperlukan otoritas sentral dan tunggal.

Baca juga :   Dinamika Sejarah dalam Al-Quran

Bagaimana menilai alasan kecenderungan studi Islam di negara-negara Barat?
Muhsin Labib: Kecenderungan studi Islam di dunia Barat memang cukup terlihat, namun itu hanya tertuju pada tema-tema filosofis yang hanya berkembang dalam bagian kecil masyarakat, yaitu masyarakat Muslim Syiah yang, hingga saat ini, ditolak atau mengalami isolasi bahkan diskriminasi dari sekelompok agamawan di kalangan masyarakat Muslim Sunni.

Beberapa percaya bahwa perilaku kelompok ekstremis seperti: ISIS dan al-Qaeda, telah meningkatkan Islamofobia di Barat, dan bahwa orang-orang di negara-negara Barat melihat kelompok-kelompok ini sebagai mewakili Muslim.  Lalu, bagaimana kesalahpahaman ini bisa diubah?

Islamofobia muncul karena dua faktor: internal dan eksternal. Ekstremisme yang dilahirkan skriptualisme adalah bagian tak terpisahkan dari doktrin dalam banyak teks yang dianggap sebagai ajaran agama oleh mayoritas umat Islam. Faktor eksternal islamofobia meluas karena beragam subfaktor, antara lain minimnya informasi tentang adanya dua mazhab besar dalam tubuh umat Islam sejak awal kehadirannya dalam sejarah. Kalau saja informasi tentang mazhab Syiah yang rasional, humanis dan relevan ini diakses, mungkin islampfobia tidak terlalu besar. Subfaktor eksternal lain adalah konflik kepentingan juga bebapa subfaktor lainnya.

Dengan penyebaran Korona, banyak kalangan percaya bahwa beralih ke agama dapat membantu orang dalam mengatasi situasi yang serbasulit. Pendapat Anda?
Muhsin Labib:  Saya justru mengkhawatirkan terjadinya eksodus dari agama, seperti dilontarkan oleh pemikir anti-agama, Yuval Noah Harari, karena frustrasi dan kecewa kepada Tuhan yang dianggap tidak melakukan intervensi melenyapkan pandemi, wabah yang telah merenggut banyak nyawa dan menghancurkan kehidupan ekonomi masyarakat relijius yang sebagian besarnya adalah kelas bawah dalam struktur sosial dan ekonomi.

Apa saran Islam untuk mengatasi kesulitan dan menjadi lebih kuat menghadapinya?
Muhsin Labib: Terbukti, dunia yang besar ini dikendalikan oleh segelintir elit kaya yang lebih berkuasa dari otoritas politik negara, bahkan mereka mengendalikan negara-negara kuat dan maju. Pandemi Korona boleh jadi akibat sebuah kecerobohan, tapi yang pasti, virus ini bukan kebetulan dan pasti dimanfaatkan oleh mereka.

Baca juga :   Selamat Hari Raya Idul Fitri! Hari Minggu, besok ini, Kita Lebaran
(Visited 45 times, 1 visits today)

Leave a reply