Imam Ali a.s., Sahabat Terbaik Nabi SAW

0
177

STUDISYIAH.COM–Ali ibn Abi Thalib adalah amirul mukminin dan, secara hukum, khalifah pertama Rasulullah SAW, kendati faktanya tidak demikian. Penetapan hukum ini berdasar pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Al-Quran juga dengan gamblang menjelaskan kemaksumannya, keterjagaan dan kesuciannya dari segala salah dan dosa, seperti dalam ayat Tath-hir dari surah Al-Ahzab [33]: 33.

Nabi Muhammad SAW melakukan mubahalah (sumpah dengan kutukan) dengan menyertakan Ali ibn Abi Thalib, Fathimah dan kedua anaknya: Hasan dan Husain. Mereka berempat disebut al-qurba (keluarga). Wajib hukumnya mencintai mereka. Berkali-kali disebutkan bahwa keluarga Nabi SAW adalah padanan Al-Quran. Siapa yang berpegang pada keduanya akan selamat, sementara yang meninggalkan keduanya akan tersesat.

Ali ibn Abi Thalib a.s. tumbuh dan besar di bawah asuhan Rasulullah SAW. Sejak kecil, ia disuap oleh Nabi. Ia adalah seorang murid yang senantiasa setia pada gurunya. Ali ibn Abi Thalib memerankan seorang saudara tanpa pamrih apa pun bersama Nabi SAW. Ia adalah orang pertama yang memeluk Islam, orang pertama yang shalat bersama Nabi SAW dan orang pertama yang lebur dirinya di jalan Allah.

Ali ibn Abi Thalib a.s. mengorbankan dirinya demi kemenangan agama Allah dalam situasi yang paling sulit sekalipun sepanjang berhadap-hadapan dengan masyarakat Arab Jahiliyah. Pengorbanannya dilakukan pada kedua periode perkembangan Islam: Mekkah dan Madinah. Pengorbanannya tidak hanya dilakukan semasa Nabi SAW masih hidup, namun berlangsung hingga ajal menjemput Nabi SAW dan setelah beliau wafat. Ali ibn Abi Thalib luruh dalam prinsip dan agama Allah, sebagaimana ia adalah personifikasi kebenaran. Ia tidak pernah berpaling dari kebenaran walau seujung rambut.

Dhirar ibn Dhamrah Al-Kannani memerikan sifat-sifat mulai Ali ibn Abi Thalib kepada Muawiyah ibn Abi Sufyan. Mendengar sifat-sifat yang disandang Ali, dia langsung menangis. Mereka yang mendengarkan penyifatan itu juga ikut menangis. Kemudian ia memohon kepada Allah untuk memberikan kemurahan kepadanya dengan ucapannya:

“Demi Allah! Ali adalah orang yang memiliki pandangan yang jauh ke depan dan sangat kuat. Ucapannya menyelesaikan setiap masalah, hukuman yang dijatuhkan mencerminkan keadilan. Ilmu memancar dari dirinya, hikmah selalu menghiasinya. Ia menjauhkan dirinya dari dunia dan gemerlapnya, meraih malam dan keheningannya menjadi teman.

Dari Ali banyak pelajaran yang dapat diambil. Ia adalah orang yang berpikir panjang. Ia senantiasa membalikkan tangannya (untuk berdoa) dan sering berbicara kepada dirinya sendiri. Ia menyukai pakaian yang sederhana dan makanan secukupnya. Bila berada di tengah-tengah kerumunan orang, ia tidak terlihat berbeda dengan orang lain. Bila seseorang hendak mendekatinya, ia lebih dahulu menghampiri ke arah orang tersebut. Ia pasti menjawab bila ditanya. Bila diundang, pasti datang. Ia senantiasa memberikan kabar bila kami menanyakan sesuatu.

“Demi Allah! Walaupun ia senantiasa mendekatkan dirinya kepada para sahabat, atau ia berada dekat-dekat dengan mereka, para sahabat segan berbicara dengannya. Keseganan itu muncul dari wibawa yang dimilikinya. Ia tersenyum bak mutiara yang tersusun. Ia senantiasa menghormati orang-orang alim, dan dekat dengan kalangan mustadh’afin. Orang kaya tidak akan memanfaatkannya dalam kebatilan, sebagaimana orang lemah tidak pernah berputus asa akan keadilannya” (Al-Isti’ab, jld. 3, hlm. 44).

Ali ibn Abi Thalib membantu Rasulullah SAW sejak permulaan dakwah. Ia berjuang bersama beliau. Perjuangannya dalam sejarah dakwah Nabi SAW tidak dapat dibandingkan dengan para sahabat yang lain. Perjuangan yang dilakukannya berakhir pada suatu titik di mana malam tidak dapat membohongi pagi dan kebenaran muncul dalam dimensinya yang murni. Ia berbicara sebagai pemimpin agama. Ia membungkam asa para setan setelah terlebih dahulu membenamkan harapan serigala-serigala Arab dan keinginan-keinginan Ahlul Kitab.

Baca juga :   Lailatul Qadar (1)

Setelah Rasulullah SAW menetapkan langkah-langkah dakwahnya untuk mengubah masyarakat Jahiliah dalam masa yang singkat, jalan semakin terbuka untuk mencapai tujuan besar Islam. Di sisi lain, terbukanya jalan berarti semakin sulit dan panjangnya perjalanan dakwah Islam. Kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi membutuhkan rancangan yang sempurna dan pemimpin yang sadar akan masalah ini. Pribadi pemimpin sepeninggal Nabi SAW harus seorang yang tidak berbeda jauh kepribadiannya dengan Nabi SAW sendiri, baik dari sisi iman, kesempurnaan, keikhlasan, kematangan intelektual dan memiliki pengalaman yang cukup.

Tentunya, secara alami, risalah penutup (baca: Islam) sebagai inti sari dakwah para nabi dan pewaris usaha yang telah dilakukan sebelumnya dan sebagai ajaran ilahi, hendaknya memiliki agenda yang jelas tentang masa depannya. Atas dasar ini, dengan perintah Allah SWT, Nabi SAW memilih seorang pribadi yang lebur dan menyatu wujudnya dengan eksistensi dakwah Islam. Pribadi tersebut harus fana’ dan lebur dalam tujuan Islam, dan tidak boleh terkotori oleh konsep-konsep Jahiliyah. Ia harus memiliki keutamaan-keutamaan seperti: kesadaran penuh akan tanggung jawab yang diemban, keimanan, keikhlasan dan siap berkorban di jalan Allah.

Ali ibn Abi Thalib adalah satu-satunya sahabat yang dipersiapkan oleh Rasulullah SAW untuk mengemban tugas ini. Ali adalah tokoh puncak pemikiran dan politik sepeninggal Nabi SAW yang mampu menyambungkan proses perubahan panjang yang telah digariskan beliau. Hal itu akan dilakukan dengan bersandarkan pada kaedah-kaedah yang jelas yang telah dipersiapkan oleh Rasulullah untuk membimbing kaum Muhajirin dan Anshar.

Konsep hidup Jahiliyah yang telah melekat erat dalam kehidupan sosial waktu itu tidak hancur hanya dengan perang Badr, Hunain dan di sela-sela sebuah perjanjian sekaitan dengan penghancuran dan pemusnahan. Jelas, secara alamiah, ia akan muncul kembali dengan mengambil baju Islam agar dapat leluasa tampil di tengah masyarakat baru setelah puluhan tahun. Secara alamiah sikap dan ide-ide Jahiliah perlahan-lahan akan merambah posisi-posisi kepemimpinan, baik secara langsung maupun tidak.

Dari sini, kembali kepada ide-ide dan kebiasaan Jahiliyah dan menggabungkannya dengan kepemimpinan yang mendapat legalitas syariat di tengah masyarakat Islam, memiliki dampak yang sangat berbahaya dari setiap dimensi permasalahannya. Sementara di sisi lain, prinsip-prinsip kepemimpinan Islam sendiri belum sempurna secara disadari dan menjadi sebuah keniscayaan, bahkan dinanti oleh setiap pemimpin yang memiliki kesadaran politik dan sosial yang sangat rendah sekalipun. Bila ini dapat dibayangkan, bagaimana Rasulullah SAW tidak pernah memikirkan kondisi dan kemungkinan yang seperti ini?

Bila diandaikan bahwa risalah Islam bertujuan untuk mengubah realitas sebuah masyarakat Jahiliyah, maka seyogianya untuk memperhatikan dengan sungguh-sungguh kenyataan ini dari setiap usaha untuk mengaburkan masalah yang sebenarnya. Setelah itu menyiapkan langkah-langkah perubahan baik untuk rencana jangka pendek maupun jangka panjang. Risalah Islam sendiri telah memiliki rancangan tersebut yang merupakan keharusan logis sebuah syariat.

Rancangan Islam terimplementasikan pada ajaran-ajaran bagaimana dan kepada siapa seorang muslim harus merujuk masalah-masalah keagamaan dan politik. Islam memerintahkan umatnya untuk merujuk kepada para imam yang terjaga dari perbuatan dosa. Itu pun setelah Nabi SAW mengangkat Ali pada peristiwa Ghadir Khum sebagai pemimpin kaum mukminin, dan beliau meminta para sahabat waktu itu untuk melakukan baiat kepadanya.

Baca juga :   Bagaimana Wahyu Diturunkan?

Rencana Nabi SAW berbenturan dengan realitas dan arus lemah yang kembali menunjukkan kurangnya kesadaran umat yang semestinya dapat membentuk lingkaran yang aman untuk melindungi kepemimpinan. Mayoritas kaum muslimin belum memahami secara mendalam bahwa kekuatan Jahiliyah bekerja sama di belakang layar untuk menggulingkan revolusi Islam. Problem yang dihadapi tidak hanya sekedar mengganti seorang pemimpin dengan pemimpin yang lain. Masalah yang dihadapi adalah penggantian rancangan Islam yang revolusioner dengan rancangan Jahiliyah yang berselimutkan Islam.

Peristiwa Saqifah (peristiwa pemilihan khalifah sepeninggal Nabi SAW di tempat bernama Saqifah Bani Saidah) menggugurkan rancangan kepemimpinan yang telah disiapkan oleh Nabi SAW. Lebih-lebih setelah kejadian tersebut, Nabi SAW telah tiada. Kejadian Saqifah membenarkan berita Al-Quran: “Muhammad hanyalah seorang utusan Allah. Sebelumnya telah diutus beberapa utusan. Apakah bila ia mati atau terbunuh, akankah kalian kembali pada kondisi kalian sebelumnya?”(Al Imran, 144).

Nabi SAW telah menetapkan Ali ibn Abi Thalib sebagai pelindung risalah, umat dan negaranya. Ia telah mewajibkan kepada Ali untuk menjaga risalah dan syariat, sebagaimana ia juga telah diwajibkan untuk mendidik umat dan menjaga negara yang baru berdiri dan masih rentan terhadap goyangan.

Ali ibn Abi Thalib a.s. telah melakukan usaha untuk mengembalikan permasalahan-permasalahan yang ada kepada tempat yang seharusnya. Ia mengingkari prosesi Saqifah dan hasil kejadiannya dengan cara bertahan tidak melakukan baiat dan tidak mau bersikap kooperatif dengan penguasa terpilih dari peristiwa Saqifah. Usaha yang telah dilakukan tidak banyak manfaatnya, bahkan kondisi yang ada sedemikian rupa sehingga beliau harus memilih antara tersungkurnya pemerintahan yang ada, baik secara politis dan teritorial, atau melindungi negara dengan menerima mereka yang tidak layak menjadi pemimpinnya.

Pada awalnya, Ali a.s. mengambil sikap pertama sebagaimana dicatat oleh sejarah, ketika beliau berkata, “Aku berdiam diri ketika melihat kebanyakan orang telah berpaling dari Islam. Mereka berdoa untuk yang membenarkan agama Muhammad SAW. Kondisi ini membuat aku khawatir, bila tidak membantu Islam dan pengikutnya. Aku sedang melihat keretakan dan kehancuran. Kehancuran ini bagiku sangat berat sekali untuk ditanggung daripada hilangnya kepemimpinan yang merupakan hakku. Kepemimpinanku yang kuanggap hanya sesuatu yang sangat tidak berarti, akan lenyap bagaikan hilangnya fatamorgana atau awan yang lenyap” (Allamah Majlisi, Bihar Al-Anwar, jld. 33, hlm 596-597).

Sikap yang diambil oleh Ali a.s. dapat dilihat dari ujian yang dihadapinya selama 25 tahun. Semua kepahitan dihadapinya dengan penuh kesabaran dengan harapan ia dapat membantu terwujudnya persatuan di kalangan umat Islam dan tidak adanya bentrokan negara muda yang telah dirintis pendiriannya oleh Nabi SAW. Itu semua dilakukan dengan membiarkan haknya terambil untuk sementara. Ia menjadi konsultan bagi para khalifah sekaligus penasihat mereka.

Di samping itu, Ali ibn  Abi Thalib a.s. tidak lupa untuk melakukan hal-hal lain yang lebih penting seperti; mengumpulkan Al-Quran sekaligus menafsirkannya. Beliau juga memberikan pencerahan kepada umat dengan menjelaskan makna-makna Al-Quran dan hakikatnya. Semua itu dilakukan tanpa meninggalkan upaya menyingkap konspirasi yang dilakukan oleh beberapa kelompok dari kaum muslimin.

Imam Ali a.s. juga sering meluruskan pemahaman-pemahaman yang salah tentang Islam dan praktek-praktek yang mengatasnamakan Islam. Pada saat yang sama beliau juga mengkader sejumlah sahabat yang masih beriman dan meyakini rancangan Nabi tentang kepemimpinan Islam, dan berusaha agar ini dapat menyebar dan tidak lupa mengingatkan untuk berkorban demi terwujudnya rancangan Nabi SAW.

Baca juga :   Sekilas Sahabat Menurut Akal dan Sejarah

Setelah bersabar selama dua puluh lima tahun, Ali ibn Abi Thalib a.s. mulai memetik hasil dari usahanya. Tersingkaplah hakikat yang selama ini terpendam. Semuanya tampak di depan generasi yang mulai sadar. Mereka tahu bahwa Ali a.s. adalah yang paling layak untuk menjadi khalifah sepeninggal Nabi. Hanya Ali a.s. satu-satunya yang mampu untuk memperbaharui apa yang telah rusak selama ini. Sebuah kondisi yang sangat sulit dan kompleks sementara keberpisahan mereka dari kebenaran telah semakin jauh. Mengenai masalah ini, Ali a.s. berkata, “Demi Allah! Aku tidak memiliki sedikit pun perasaan untuk menjadi khalifah, kalianlah yang meminta dan memaksaku untuk menjadi khalifah” (ibid., jld. 32, hlm. 50).

Setelah menjadi khalifah kaum muslimin, Ali ibn Abi Thalib a.s. menyampaikan garis besar politiknya, “Ketahuilah! Aku telah menerima permintaan kalian untuk menjadi khalifah, namun aku akan berbuat sesuai dengan pengetahuanku. Aku tidak akan memerintah dengan mengikuti ucapan atau peringatan orang lain (sesuai dengan khalifah terdahulu)” (ibid., jld. 32, hlm. 36).

Pada kesempatan lain, beliau mengucapkan, “Wahai Allah! Engkau mengetahui bahwa tidak satu pun dari kami (Ahlul Bait) yang ingin berebut kekhalifahan dan mengais runtuhan puing-puing. Yang menjadi perhatian kami adalah mengembalikan ajaran-ajaran agama-Mu sekaligus melakukan perubahan di negeri-Mu, sehingga hamba-hamba-Mu yang dizalimi merasa aman karena hak-haknya dilindungi dan batasan-batasan agama yang selama ini dilalaikan dapat ditegakkan kembali” (ibid., jld. 34, hlm. 111).

Ali ibn Abi Thalib a.s. sendiri melakukan usaha sebisa mungkin untuk merealisasikan keadilan sosial dan politik di tengah masyarakat. Beliau menjaga keamanan, kebebasan, kesejahteraan, dan stabilitas negara dengan menjaga persatuan umat melalui upaya-upaya mendidik, mengajari dan memberikan umat hak-haknya secara sempurna.

Tidak lupa, Imam Ali a.s. pun memberhentikan pejabat-pejabat korup dan menggantikannya dengan orang-orang saleh yang dapat dipercaya, tanpa meninggalkan pengawasan yang ketat. Usaha terakhir ini dilakukan untuk menjauhkan lingkaran pemerintahan dari orang-orang yang tamak dan rakus akan kekuasaan. Ia konsisten pada sikapnya; terbuka dan selalu bersikap benar di setiap dimensi masalah. Ia tidak akan memerintah dengan perbuatan yang memalukan seperti menipu dan mencurangi. Beliau berjalan searah dengan rancangan yang telah disiapkan oleh saudara dan anak pamannya, Muhammad Rasulullah SAW.

Usaha Imam Ali a.s. mendapat penentangan keras dari seluruh kekuatan tamak yang merasa posisi politik, sosial dan ekonominya terancam. Semua kekuatan yang ada saling bahu membahu. Mereka yang ikut dalam kasus pembunuhan Utsman menyuarakan slogan untuk meminta pertanggungjawaban atas kejadian itu kepada Imam Ali a.s. sebagai khalifah terpilih. Ada pula kekuatan yang kemudian muncul dalam peristiwa nakitsin (pasukan Jamal yang kemudian dikenal dengan perang Jamal), qasithin (pasukan Muawiyah yang kelak dikenal dengan perang Shiffin) dan mariqin (kaum Khawarij).

Setelah melakukan perjuangan yang sulit, Imam Ali ibn Abi Thalib a.s. sendiri menjadi syahid; tubuhnya bersimbah dengan darahnya yang suci. Itu terjadi di mihrab shalatnya di Masjid Kufah pada malam lailat al-qadr tahun ke-40 Hijriah. Ia telah meraih kemenangannya dengan mereguk manisnya syahadah dan menang di jalan agama dan kebenaran demi menegakkan Islam. Sebuah kemenangan revolusi nilai ilahi atas nilai Jahiliyah.

Sumber: A’lam Al-Hidayah, Ali ibn Abi Thalib a.s., majma Jahani Ahl Bayt, Qom, 2007

(Visited 66 times, 1 visits today)

Leave a reply