Hukum-hukum Puasa (1)

0
88

puasaSatu dari sekian kewajiban dan ritual tahunan dalam Islam untuk membina jiwa seseorang adalah puasa. Puasa ialah meninggalkan hal-hal—yang akan tiba penjelasannya—dari azan Subuh sampai Maghrib untuk menaati perintah Allah. Untuk mengenal hukum-hukum puasa, pertama-tama kita harus mengenal macam-macamnya.

Macam-macam Puasa
Ada empat macam puasa:
1. Puasa wajib
2. Puasa haram
3. Puasa sunah
4. Puasa makruh

Puasa-puasa Wajib
Ada lima puasa wajib:
1. Puasa bulan Ramadhan.
2. Puasa qodho.
3. Puasa kaffarah.
4. Puasa karena nazar.
5. Puasa qodho ayah yang wajib atas anak lelaki terbesar.

Puasa-Puasa Haram
Ada empat puasa yang diharamkan
1. Puasa pada hari raya Idul Fitri (hari pertama dari bulan Syawal).
2. Puasa pada hari raya Idul Adha (hari kesepuluh dari bulan Zulhijah).
3. Puasa sunah seorang anak yang membuat orang tua terganggu.
4. Puasa sunah seorang anak yang dilarang oleh orang tuanya (berdasarkan ihtiyath wajib).

Puasa-puasa Sunah
Adapun puasa yang disunnahkan yaitu puasa pada hari-hari dalam setahun—selain puasa-puasa haram dan makruh. Akan tetapi, ada hari-hari tertentu yang lebih ditekankan dan dianjurkan, antara lain:
1. Setiap hari Senin dan hari Jum’at.
2. Hari diutusnya Muhammad Saw. sebagai nabi (27 Rajab).
3. Hari raya Ghadir (18 Zulhijah).
4. Hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. (17 Rabi’ul Awal).
5. Hari Arafah (9 Zulhijah), selama puasa tidak menjadi kendala dalam membaca doa-doa hari itu.
6. Sepanjang bulan Rajab dan bulan Syaban.
7. Tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan.

Puasa-puasa Makruh
Sementara puasa yang makruh adalah sebagai berikut:
1. Puasa tamu tanpa seizin tuan rumah.
2. Puasa tamu yang dilarang tuan rumah.
3. Puasa anak tanpa seizin ayahnya.
4. Puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharam).
5. Puasa hari Arafah jika menjadi penghalang untuk mem-baca doa-doa hari itu.
6. Puasa seseorang pada hari yang dia tidak tahu apakah itu hari Arafah atau hari raya Idul Adha.

Baca juga :   Filsafat dan Hikmah Puasa

Niat Puasa
1. Puasa termasuk ibadah dan harus dikerjakan dalam rangka melaksanakan perintah Allah Swt.
2. Seseorang bisa berniat pada setiap malam bulan Rama-dhan untuk puasa esok harinya, dan lebih baik berniat pada malam pertama bulan Ramadhan untuk puasa sebulan penuh.
3. Pada puasa wajib, niat puasa tidak boleh terlambat sampai azan Subuh tanpa uzur.
4. Pada puasa wajib, jika karena ada uzur—seperti lupa atau bepergian—tidak berniat puasa, maka selama tidak mengerjakan sesuatu yang membatalkan puasa, bisa berniat untuk puasa sebelum waktu Zuhur tiba.
5. Niat tidak harus diucapkan dengan kata-kata, bahkan sudah cukup sebatas kesadaran untuk tidak me-ngerjakan hal-hal yang membatalkan puasa dari Subuh sampai Maghrib demi melaksanakan perintah Allah Swt.

Sumber: Muhammad Falah Zaadeh, Amuzesy-e Akham, Wizeh-e Pesaran, Qom 1379 HS

(Visited 46 times, 1 visits today)

Leave a reply