Hubungan antara Kalam Syiah dan Kalam Muktazilah

0
157

Bukan rahasia lagi bila Syiah dan Muktazilah berselisih tajam dalam sekian banyak masalah keyakinan; tidak jarang dijumpai kontak intelektual dan ajang perdebatan untuk saling melancarkan bantahan; masing-masing tokoh mazhab mendeksripsikannya dalam karya-karya mereka.

Namun pada saat yang sama, kedua mazhab Islam ini ternyata tidak memiliki banyak perbedaan krusial dalam doktrin-doktrin prinsipal. Ini tercermin terutama dalam upaya sebagian pemuka tokoh dua mazhab untuk memperoleh peluang saling mendekatkan diri. Misalnya, salah satu aliran Syiah, yakni Zaidiyah, mengikuti Muktazilah lantaran pemimpin aliran, Zaid bin Ali, pernah berguru pada Washil bin ‘Atha’, pemimpin Muktazilah. Sedemikian rupa sampai-sampai pengikut aliran Syiah Zaidiyah ini menganggap tokoh-tokoh Muktazilah lebih utama di atas para imam suci Ahlul Bait Nabi SAW. (Subhani, Ja‘far, Al-Madzahib Al-Islamiyah, hlm. 241).

Akan halnya Syiah Imamiyah senantiasa konsisten menjaga jaraknya dari Muktazilah; banyak perbedaan prinsipal di antara mereka. Bahkan, sekelompok Syiah Imamiyah di Kufah meninggalkan Zaid ibn Ali tatkala mereka mendengar pimpinan aliran Zaidiyah ini mengikuti jejak kepercayaan sang guru, Washil (Masykhur, Muhammad Jawad, Tarikh-e Syi‘ah va Firqeha-ye Islami, hlm. 59). Namun demikian, mereka tetap teguh untuk tidak memutuskan hubungan dengan Muktazilah.

Perlu kiranya juga dicatat tebal di sini bahwa kedekatan hubungan Muktazilah dan Syiah ini, sebagaimana telah ditegaskan, tidak serta merta memenuhi kriteria sebagai bukti atas keidentikan dan kesamaan dua mazhab ini dalam pola pemikiran dan prinsip-prinsip keyakinan mereka (Al-Mîzân fî Tafsîr Al-Qur’ân, jld. 5, hlm. 279; Syawâriq Al-Ilhâm, jld. 1, hlm. 50). Catatan ketidaksamaan ini digarisbawahi oleh Wilferd F. Madelung yang kemudian menjadi titik penceraian dirinya dari kebanyakan kaum Orientalisme. Ia menulis:

Baca juga :   Garis-garis Umum Akidah Syiah (1) : Tauhid

Kedekatan Syiah dan Muktazilah telah menyebabkan para sejarawan Islam, entah di Abad Pertengahan ataukah di abad-abad belakangan ini, terkecoh oleh godaan yang membujuk mereka untuk menyimpulkan bahwa kedua mazhab ini, dari segi proses kelahiran mereka, saling bergantung satu sama lain. Namun terdapat sejumlah argumen dan indikasi yang menolak kesimpulan ini, di antaranya:

Ajaran-ajaran golongan Muktazilah dan Syiah Pertama (abad II Hijriah) akhir-akhir ini kembali diangkat ke meja panjang penelitian serius. Ada lebih banyak lagi dokumen dan bukti yang memperlihatkan bahwa pada kurun itu, dua gerakan ini tidak berhubungan satu sama lain. Mereka bukan hanya secara prinsipal tidak sama, walaupun dalam ajaran dan pemikiran mereka mengenai imamah yang, terutama bagi Syiah Imamiyah, dianut dengan status ‘doktrin’, akan tetapi ketidaksamaan mereka ini juga bermunculan dalam sederetan masalah yang lebih bernuasa Kalam dan berkaitan dengan zat Tuhan dan sifat-sifat-Nya, dengan kebebasan manusia serta qadha dan qadar. Kaum Muktazilah sudah lama meletakkan batasan-batasan tradisional yang begitu ketat hingga menengarai syirik setiap bentuk penyimpangan dan, dengan begitu, mereka sesungguhnya telah membuat jurang dalam yang tak terseberangi. Faktor inilah yang lantas mengakibatkan berbagai benturan yang berlarut-larut dan perselisihan pandangan yang begitu keras di antara dua mazhab.

Pengalaman pahit sepanjang perselisihan pendapat dan pertikaian antara Imamiyah dan Muktazilah

Tuduhan-tuduhan kekafiran yang dilancarkan Muktazilah terhadap Syiah (Syi‘eh dar Hadits-e Digaron, terj. Ahmad Aram, diedit oleh Mahdi Muhaqqiq).

Bantahan yang sama juga dikemukakan oleh Allamah Thabathaba’i. Dalam tanggapannya, ia menulis:

Prinsip-prinsip ajaran yang diriwayatkan dari para imam Ahlul Bait Nabi SAW dan diakui kebenarannya oleh kaum Syiah sesungguhnya tidak relevan dengan watak pemikiran Muktazilah, sama sekali (Al-Mîzân fî Tafsîr Al-Qur’ân, jld. 5, hlm. 279).

Baca juga :   Wacana: Antara Syiah dan Rafidlah

Atas dasar ini, pemahaman keliru dari sebagian Orientalis seperti: micheal Cock, atau bahkan dari kalangan pemikir Muslim seperti: Ahmad Amin (Amin, Ahmad, Dhuhâ Al-Islâm, jld. 3, hlm. 683-684) mengenai pengaruh Muktazilah terhadap pemikiran kalam Syiah dan hutang budi Syiah pada kalam Muktazilah adalah sama sekali tak berdasar. Ilmu Kalam dan, secara khusus, Kalam Syiah berakar dari dalam Al-Quran dan Sunnah; kelahirannya merupakan akibat dari faktor-faktor internal, yakni Al-Quran dan hadis-hadis Nabi saw. dan para imam suci Ahlul Bait as. Meski demikian, faktor-faktor eksternal seperti: budaya sekitar dan agama-agama yang lain serta kebangkitan penerjemahan, turut berperan dalam evolusi dan perkembangan selanjutnya. Syiah telah menggagas pemikiran kalam mereka jauh sebelum kemunculan mazhab Muktazilah (“Kalom-e Eslomi: ‘Avomel va Zamenh-ho-ye Peydoyesy” dalam Qabasot, no. 38).[RED]

(Visited 70 times, 1 visits today)

Leave a reply