Hikmah Mengangkat Tangan ketika Berdoa

0
17

Umumnya, pertanyaan seperti ini dikemukakan oleh masyarakat umum. Allah SWT tidak memiliki ruang dan tempat, mengapa ketika memanjatkan doa, kita mengarahkan mata ke langit dan menengadahkan tangan ke langit? Memangnya, al’iyâdzubillah, Tuhan bersemayam di langit?

Pertanyaan ini juga pernah go-on pada masa para imam ma‘shum as. Hisyam bin Hakam berkata, “Seorang kafir zindiq datang kepada Imam ash-Shadiq as dan bertanya ihwal ayat ‘ar-Rahmân ‘ala al-‘arsyi-stawa.’

Imam dalam menjelaskan ayat ini berkata, “Allah SWT tidak memerlukan sedikit pun kepada ruang dan makhluk. Akan tetapi, seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.”

Si kafir zindiq bertanya kembali, “Lalu tiada bedanya ketika berdoa, Anda menengadahkan tangan ke langit atau menurunkan tangan Anda ke bumi?”

Beliau barkata, “Masalah ini, dalam ilmu dan kekuasan Tuhan adalah sama saja. Akan tetapi, Allah SWT memberikan aturan kepada para kekasih dan hamba-Nya untuk menengadahkan tangan mereka ke langit, ke arah ‘Arsy Ilahi. Lantaran sumber rezeki berada di sana. Kami akan buktikan hal ini dengan apa yang ditegaskan oleh Al-Qur’an dan Nabi saw Beliau bersabda, ‘Tengadahkan tangan-tangan Kamu kepada Allah SWT.’ Dan sabda ini disepakati oleh seluruh umat.’” (Bihâr Al-Anwâr, jld. 3, hlm. 330; Tauhid Al-Shaduq, hlm. 248, hadis ke-1, bab ke-36; bab Al-Radd ‘ala Al-Tsanawiyah wa Al-Zanâdiqah).

Dalam hadis yang lain diriwayatkan dari Imam Amirul Mukminin Ali as, dalam kitab al-Khishâl, “Ketika salah seorang dari Kamu telah menunaikan shalat, tengadahkanlah tangan Kamu ke langit dan sibukkan dirimu dengan berdoa.”

Seseorang berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Bukankah Tuhan ada di mana saja?

Imam bersabda, “Benar! Ia berada di mana saja.”

Orang itu berkata lagi, “Lalu mengapa para hamba menengadahkan tangan mereka ke langit?”

Baca juga :   Kepeloporan Syi’ah dalam Ulumul Quran

Imam berkata, “Apakah engkau tidak membaca (dalam Al-Quran), ‘Rezeki kamu berada di langit dan apa saja yang dijanjikan kepadamu?’ Dengan demikian, dari manakah manusia mencari rezeki kecuali dari tempatnya. Tempat rezeki dan janji Tuhan bersemayam di langit (Bihâr Al-Anwâr, jld. 90, hlm. 308, hadis ke-7. Hadis yang dinukil di atas terdapat juga pada Nûr Al-Tsaqalain, jld. 5, hlm. 124 dan 125).

Sesuai dengan riwayat ini, umumnya rezeki seluruh manusia berasal dari langit; hujan yang memberikan kehidupan bumi yang mati tercurahkan dari langit, cahaya mentari yang menjadi sumber kehidupan bersinar dari langit, dan udara yang menjadi penyebab kehidupan berada di langit. Langit dikenal sebagai sumber berkah dan rezeki Ilahi. Dan ketika berdoa, memohon kepada Sang Pencipta dan Pemilik rezeki, perhatian kita hendaknya tertuju ke langit supaya masalah yang sedang kita hadapi terpecahkan.

Dalam sebagaian riwayat disebutkan filsafat lain untuk hal ini. Filsafat berdoa ke arah langit itu adalah menunjukkan kerendahan dan kehinaan di haribaan Tuhan, lantaran umat manusia ketika menunjukkan kerendahan atau penyerahan di hadapan seseorang atau sesuatu, mereka mengangkat tangannya ke atas (Tafsir Payâm-e Qur’ân, jld. 4, hlm. 270).

(Visited 55 times, 1 visits today)

Leave a reply