Generasi Tokoh Hadis dan Penyusun Kitab Induk Hadis

0
79

Ada tiga Muhammad pertama yang merupakan tokoh terdepan dalam penyusunan empat kitab induk hadis. Yang pertama adalah Muhammad bin Ya’qub Kulaini, penyusun kitab Al-Kafi. Ia wafat pada 328 H. Di dalam kitab tersebut, Kulaini telah mencatat sebanyak 16.099 hadis beserta sanad-sanadnya.

Kedua adalah Muhammad bin Ali bin Husain bin Musa bin Babaweih Qummi yang wafat pada tahun 381 H. Ia dikenal juga dengan panggilan nasab Abu Ja’far Shaduq. Ia telah menyusun 1.400 kitab tentang ilmu hadis. Yang terbesar di antara kitab-kitab Shaduq adalah kitab Man La Yahdhuruhu Al-Faqih yang memuat 9.044 hadis mengenai hukum-hukum syariat dan sunah-sunah.

Ketiga adalah Muhammad bin Hasan Thusi yang terkenal dengan gelar Syekh Tha’ifah (guru mazhab). Ia telah menulis kitab Tahdzib Al-Ahkam, dan menyusunnya ke dalam 393 bab, dan mencatat hadis sebanyak 13.590 hadis. Kitab Thusi lainnya adalah Al-Istibshar yang memuat 920 bab sehingga mencakup 5.511 hadis. Inilah empat kitab induk yang menjadi rujukan utama Syiah.

Kemudian tibalah peran tiga Muhammad terakhir yang juga tergolong sebagai tokoh kitab induk hadis. Pertama adalah Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi. Ia terkenal dengan nama Al-Majlisi. Kitab besar yang ditulis Al-Majlisi adalah kitab Bihar Al-Anwar; fi Al-Ahadits Al-Marwiyyah ‘an Al-Nabiy wa Al-A’immah min Alih Al-Athhar. Kitab ini disusun sebanyak 26 jilid tebal. Dapat dikatakan bahwa kitab ini telah menjadi pegangan kaum Syiah. Sebab, tidak ada kitab induk hadis yang paling lengkap selain kitab Biharul Anwar. Sehingga Tsiqatul Islam Allamah Nuri menulis sebuah kitab yang berjudul Al-Faidh Al-Qudsi fi Ahwal Al-Majlisi dan dicetak di Iran, yakni sebuah kitab yang secara khusus mengulas ihwal kehidupan Al-Majlisi.

Baca juga :   Syeikh Thabarsi: Mufasir Sastrawan

Kedua adalah Muhammad bin Murtadha bin Mahmud, seorang tokoh besar ilmu hadis dan guru utama di dua bidang ilmu aqli dan naqli. Ia lebih dikenal dengan nama Muhsin Kasyani dan julukan ‘Al-Faydh’. Kitab hadis yang ditulis olehnya berjudul Al-Wafi fi ‘Ilm Al-Hadits, yang ketebalannya mencapai 14 jilid, dan setiap jilidnya merupakan kitab tersendiri. Kitab Al-Wafi menghimpun hadis-hadis yang tercatat di dalam empat kitab induk terdahulu berkenaan dengan akidah, hukum syariat, akhlak dan sunah-sunah. Usia Muhsin Kasyani mencapai 84 tahun dan wafat pada tahun 1091 H. Dalam usianya yang panjang itu, ia telah mengarang kurang lebih dua ratus kitab dari pelbagai bidang ilmu.

Ketiga adalah Muhammad bin Hasan Hurr Syami ‘Amili Masyghari, seorang ulama hadis yang masyhur di kalangan ahli hadis dengan gelar Syaikh Al-Syuyukh (guru para guru). Ia menulis kitab Tafshil Wasa’il Al-Syi’ah ila Tahshil Ahadits Al-Syari’ah, dan penyusunannya mengacu pada kitab-kitab fikih.

Di antara kitab-kitab induk hadis, kitab hadis Al-‘Amili ini tergolong sebagai kitab yang paling banyak diakses oleh ulama. Di dalamnya telah tercatat hadis-hadis yang dinukil dari 80 kitab induk hadis, 70 dari jumlah itu dinukil dengan perantara, dan dicetak berkali-kali di Iran. Bisa dikatakan bahwa kaum Syiah sekarang lebih berkutat pada kitab ini. Muhammad ‘Amili dilahirkan pada bulan Rajab 1033 H. dan wafat pada tahun 1204 H. di Thus, Khurasan (sebuah propinsi di bagian barat Iran).

Dan Syekh Allamah Tsiqatul Islam Husain bin Allamah Nuri telah menghimpun hadis-hadis yang tidak dicatat oleh penulis Wasa’il Al-Syi’ah, dan menyusunnya di dalam sebuah kitab berjilid berdasarkan susunan bab-bab kitab ini dan meletakkan judul Mustadrak Al-Wasa’il wa Mustanbat Al-Masa’il padanya. Secara umum, kitab ini bentuk lain dari kitab Wasa’il Al-Syiah. Dan dapat dikatakan bahwa kitab Syekh Nuri ini merupakan kitab hadis Syiah yang paling besar, dimana Syekh telah menyelesaikannya pada tahun 1319 H. Ia wafat pada 28 Jumadil Akhir 1320 H.

Baca juga :   Kandungan Pidato Sayyidah Fathimah a.s.

Dan masih banyak kitab-kitab induk hadis yang disusun oleh ulama-ulama besar hadis Syiah. Di antaranya adalah kitab Al-‘Awalim sebanyak 100 jilid, karya seorang ahli hadis yang tersohor bernama Syekh Abdullah bin Nurullah Bahrani. Ia hidup semasa dengan Allamah Majlisi, pengarang kitab Bihar Al-Anwar yang telah kami singgung di atas tadi.

Selain Al-’Awalim adalah kitab Syarh Al-Istibshar fi Ahadits Al-A’immat Al-Athhar yang disusun Syekh Qasim bin Muhammad bin Jawad ke dalam beberapa jilid besar, mirip dengan kitab Bihar Al-Anwar. Syekh Qasim dikenal dengan panggilan Ibnu Al-Wandi dan panggilan dan panggilan Faqih Al-Kazhimi. Ia hidup semasa dengan Syekh Muhammad bin Hasan Al-Hurr; pengarang kitab Wasa’il Al-Syi’ah sebagaimana telah disinggung. Syekh Qasim adalah salah seorang murid utama datuk saya, Allamah Sayid Nuruddin; saudara Sayid Muhammad pengarang kitab Al-Madarik.

Selain itu adalah kitab Jami’ Al-Akhbar fi Idhah Al-Istibshar. Kitab ini tergolong kitab hadis yang besar yang disusun ke dalam banyak jilid oleh Syekh Allamah Abdul Lathif bin Ali bin Ahmad bin Abu Jami’ Haritsi Hamadani Syami ‘Amili. Ia menimba ilmu dari Syekh Hasan bin Abu Manshur bin Al-Syahid Syekh Zainuddin ‘Amili, penulis kitab Al-Ma’alim dan Al-Muntaqa, dan salah seorang ulama abad ke-10 Hijriah.

Selain itu adalah kitab induk besar yang berjudul Al-Syifa fi Hadits Al Al-Mushthafa. Kitab ini mencakup beberapa jilid tebal, disusun oleh seorang ulama peneliti hadis yang ulung, yaitu Syekh Muhammad Ridha, putra seorang ahli fikih; Syekh Abdul Lathif Tabrizi. Ia telah menuntaskan penulisan kitab tersebut pada tahun 1158 H.

Selain itu adalah kitab Jami’ Al-Ahkam yang tercetak hingga mencapai 25 jilid besar, disusun oleh Allamah Abdullah bin Sayid Muhammad Ridha Syubbari Kazhimi. Pada masa itu, ia dikenal sebagai guru besar kaum Syiah dan penulis unggul. Dapat dikatakan bahwa setelah era Allamah Majlisi, tidak ada ulama yang mengarang kitab lebih banyak daripada karya-karyanya. Sayid Muhammad Ridha wafat di Kazhimain pada tahun 1242 H.

Baca juga :   Akal Perempuan dalam Hadis

Sumber: Hasan Shadr, Al-Syi’ah wa Funun Al-Islam, Qom, 2007.

(Visited 94 times, 1 visits today)

Leave a reply