Garis-garis Umum Akidah Syiah (5): Hari Kebangkitan dan Pengadilan

0
141

STUDISYIAH.COM–Syiah meyakini bahwa suatu hari nanti, seluruh umat manusia akan dibangkitkan dari kubur dan dilakukan hisab atau evaluasi atas perbuatan-perbuatan mereka di dunia. Yang berbuat baik akan mendapatkan surga, sementara yang berbuat keburukan dimasukkan ke dalam nereka.

Allah, tiada Tuhan selain-Nya. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak dapat diragukan kedatangannya” (QS. Al-Nisa’, 87).

Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan duniawi, neraka adalah tempat tinggalnya, sedangkan yang takut pada kebesaran Tuhannya dan mencegah dirinya dari mengikuti hawa nafsu, surga adalah tempat tinggalnya” (QS. Al-Nazi’at, 37-41).

Syiah percaya bahwa dunia ini adalah jembatan yang harus dilewati oleh manusia untuk sampai ke tempatnya yang abadi. Atau dengan kata lain, dunia adalah sekolah, pasar, atau ladang bagi hari akhir. Imam Ali ibn Abi Thalib a.s. berkata tentang dunia, “Sesungguhnya dunia adalah kampung kebenaran bagi yang benar dalamnya…, kampung kekayaan bagi yang membekali dirinya, kampung belajar bagi yang mengambil pelajaran, masjid kekasih Allah, mushalla para malaikat Allah, tempat turunnya wahyu, dan tempat berniaganya kekasih-kekasih Allah” (Nahj Al-Balaghah, mutiara no. 131).

Argumen Atas Kenyataan Hari Kebangkitan
Syiah meyakini bahwa bukti-bukti atas kenyataan dan  kejadian hari akhir sudah sangat jelas, di antaranya:

Pertama, kehidupan dunia tidak mungkin merupakan tujuan akhir dari penciptaan manusia, karena apalah artinya kehidupan jika ia hanya datang untuk beberapa saat, bahkan manusia di dalamnya harus menghadapi berbagai macam persoalan kemudian mati dan berakhirlah segala sesuatu? Ini tidak mungkin.

Apakah kamu mengira bahwa Kami ciptakan kamu sia-sia dan kamu tidak kembali kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun, 115).

Dalam ayat ini ada isyarat bahwa kehidupan dunia akan menjadi sia-sia jika tanpa hari akhir.

Kedua, keadilan Ilahi menuntut pemisahan orang-orang saleh dari orang-orang bejat, supaya masing-masing mendapat ganjaran yang setimpal.

Apakah orang-orang yang berbuat maksiat mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang beriman dan berbuat baik, sama antara hidup dan mati mereka? Sungguh buruk kesimpulan mereka” (QS. Al-Jatsiyah, 21).

Ketiga, kasih sayang Allah SWT yang luas menuntut tidak terputusnya curahan anugrah-Nya dan kontinuitas proses kesempumaan manusia (al-takamul al-basyari) bagi orang-orang yang siap dan pantas mendapatkannya.

Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang[462]. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman” (QS. Al-An’am, 12).

 Al-Quran berbicara kepada orang-orang yang meragukan hari akhir:

Mereka berkata, ‘Apabila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang haricur, apakah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?’ Katakan, ‘Jadilah batu, besi, atau makhluk lain yang kamu anggap tidak mungkin.’ Maka mereka akan berkata, ‘Siapakah yang menghidupkan kami?’ Katakan, ‘Dialah yang telah menciptkan kamu pada kali pertama’” (QS. Al-Isra’, 49-51).

Maka, apakah Kami letih dengan penciptaan pertama? Sungguh mereka dalam keraguan tentang penciptaan baru” (QS. Qaf, 15).

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami tapi lupa dengan penciptaannya sendiri dan berkata, ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulung-tulang yang telah hancur-lebur ini?’ Katakan, ‘Yang pertama kali menciptakannya, Dialah yang akan menghidupkannya.’ Sungguh Dia Maha Mengetahui tentang ciptaan-Nya” (QS. Yasin, 78-80).

Selain itu, penciptaan manusia bukan sesuatu yang sulit bila dibandingkan dengan penciptaaan langit dan bumi. Tuhan yang mampu menciptakan alam luas ini, yang mengandung aneka keajaiban dan kelebihan, tentu saja mampu menghidupkan orang mati.

Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya kuasa menghidupkan orang mati. Ya, sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Ahqaf, 33).

Kebangkitan Jasmani
Syiah meyakini bahwa tubuh dan jiwa atau ruh manusia bersama-sama akan dibangkitkan di akhirat dan bersama-sama pula akan menempuh kehidupan baru, sebab keduanya telah bersama-sama hidup di dunia. Karena itu bersama-sama pula harus menerima balasan yang setimpal, pahala atau hukuman.

Baca juga :   Islam, Agama Sempurna

Di samping itu, sebagian besar ayat Al-Quran yang berbicara mengenai kebangkitan justru mengisyaratkan kebangkitan jasmani, seperti jawaban Al-Quran atas kebingungan orang-orang yang menentang kebangkjtan jasmani yang mempertanyakan bagaimana tulang belulang yang telah hancur dapat kembali hidup:

Katakanlah, yang menghidupkannya adalah yang pertama kali menciptakannya” (QS. Yasin, 79).

Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang belulangnya? Tentu Kami bisa, dan Kami kuasa mengumpulkan jari jemarinya dengan sempuma” (QS. Al-Qiyamah, 3-4).

Ayat-ayat di atas dan yang senada dengan jelas menunjukkan adanya kebangkitan jasmani. Demikian pula ayat-ayat yang berbicara mengenai kebangkitan dari kubur.

Ya, memang sebagian besar ayat yang berbicara mengenai hari kebangkitan menegaskan adanya kebangkitan jasmani dan ruhari.

Kehidupan Sesudah Kematian
Syiah meyakini bahwa apa yang ada di dunia sana, alam sesudah kematian, kiamat, surga, dan neraka, jauh dari apa yang kita ketahui di kehidupan dunia yang terbatas ini.

Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai Balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan” (QS. Al-Sajdah, 17).

Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa Allah SWT berfirman:

“Kupersiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didingar oleh telinga, dan belum pernah terbersit dalam hati seseorang”. (Hadis ini dirwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan ahli hadis lain serta dicantumkan oleh para mufassir dalam kitab-kitab mereka seperti: Tabarsi, Alusi, dan Qurtubi).

Kehidupan kita di dunia ini, bila dibandingkan dengan kehidupan di akhirat, ibarat kehidupan janin dalam rahim ibunya, yaitu serba terbatas dan tidak dapat menangkap apa yang ada di luar rahim. Janin tidak mengetahui apa itu matahari, bulan, udara, bunga, deburan ombak di laut, dan sebagainya, meskipun si janin anggaplah memiliki akal dan kecerdasan. Demikian pula keadaan kita dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

Hari Kebangkitan dan Amal Ibadah
Syiah meyakini bahwa pada hari kiamat nanti, setiap orang akan menerima buku catatan amalnya. Orang saleh akan menerimanya dengan tangan kanannya, sementara orang berdosa akan menerima dengan tangan kirinya.

Adapun orang yang menerima kitabnya dengan tangan kanannya, maka ia berkata, ‘Bacalah kitabku. Aku yakin akan sampai pada hisab amalku.’ Ia berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, yang buah-buahannya amat dekat dengannya” (QS. Al-Haqqah, 19-23).

Sementara orang yang menerinia kitabnya dengan tangan kirinya berkata, Wahai, alangkah baiknya jika aku tidak menerinia kitabku dan tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.’” (QS. Al-Haqqah, 25-26).

Akan tetapi, bagaimana bentuk buku catatan itu dan bagaimana ia ditulis yang data-datanya tidak dapat diingkari oleh siapa pun, adalah sesuatu yang tidak jelas bagi kita. Seperti yang sudah disinggung, hari kebangkitan mengandung banyak misteri yang tidak dapat dijangkau oleh manusia. Hanya saja kita tidak dapat mengingkari keberadaannya.

Kesaksian di Hari Kiamat
Syiah meyakini bahwa Allah SWT menyaksikan semua perbuatan kita. Demikian pula halnya dengan tangan, kaki, kulit, bumi yang kita huni, dan sebagainya adalah saksi-saksi lain di luar Allah SWT.

Hari ini Kami tutup mulut mereka sementara tangan-tangan mereka berbicara kepada Kami dan kaki-kaki mereka bersaksi atas apa yang mereka perbuat” (QS. Yasin, 65).

Dan mereka berkata kepada kulit-kulit mereka, ‘Mengapa kalian bersaksi atas kami?’ Kulit-kulit itu berkata, ‘Allah yang telah membuat segala sesuatu berbicara, Dialah yang telah membuat kami berbicara’” (QS. Fushshilat, 21).

Hari itu bumi menceritakan berita-beritanya karena Tuhanmu telah memerintahkannya” (QS. Al-Zalzalah, 4-5).

Sirat Mustaqim dan Timbangan Amal
Syiah meyakini bahwa di akhirat nanti akan ada timbangan amal dan jembatan sirat mustaqim, yaitu jembatan yang terbentang di atas neraka, yang akan dilalui oleh setiap orang. Jalan ke surga pun harus dengan melintas di atas neraka.

Baca juga :   Garis-garis Umum Akidah Syiah (1) : Tauhid

Setiap kamu pasti akan mendatangi neraka. Bagi Tuhanmu hal itu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami menyelamatkan orang-orang yang taqwa dan membiarkan orang-orang yang tersungkur di dalamnya” (QS. Maryam, 71-72).

Akan tetapi, keberhasilan melewati jalan yang berbahaya ini bergantung pada amal perbuatan manusia itu sendiri, sebagainiana dalam sebuah hadis disebutkan:

“Di antara mereka ada yang berjalan seperti kilat. Di antara mereka ada yang berjalan seperti larinya kuda. Di antara mereka ada yang berjalan merangkak. Di antara mereka ada yang berjalan kaki. Di antara mereka ada yang berjalan bergantung, kadang disambar api dan kadang lepas dari sambaran api” (Kanz Al-Ummal, hadits nomor 39036, Shahih Al-Bukhari, jld. 8, hlm. 146, bab “Al-Shirath Jembatan Neraka”).

Sedangkan yang disebut timbangan amal, sebagaimana namanya, ialah alat untuk menimbang amal manusia. Pada hari itu, semua amal manusia akan ditimbang dan dihisab satu persatu:

Dan Kami akan memasang tinibangan yang akurat pada hari kiamat. Tidak seorang pun akan dirugikan. Dan meskipun seberat biji sawi, Kami tetap akan memberikan ganjaran padanya. Cukuplah Kami sebagai penghitung” (QS. Al-Anbiya’, 47).

Adapun orang yang timbangannya berat, maka ia akan berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Tetapi orang yang timbangannya ringan, maka tempatnya adalah neraka” (QS. Al-Qari’ah, 6-9).

Syiah percaya bahwa keselamatan manusia pada hari itu bergantung pada amalnya. Khayalan dan angan-angannya sama sekali tidak dapat menyelamatkannya dari panasnya api neraka. Ia hanya dapat berharap dari ketaqwaan dan kesucian dirinya.

Tiap orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya” (QS. Al-Muddatstsir, 38).

Demikianlah penjelasan singkat mengenai sirat mustaqim dan timbangan amal. Adapun rinciannya, kita sama sekali tidak mengetahuinya, karena alam akhirat jauh lebih agung dan lebih luas dari alam dunia kita. Karena itu, sangat sulit bahkan mustahil bagi kita untuk dapat memahami permasalahan yang berkaitan dengan alam itu.

Syafaat di Hari Kiamat
Syiah meyakini bahwa para nabi, imam maksum, dan wali-wali Allah akan memberi syafaat kepada sebagian pendosa dengan izin Allah SWT sebagai bagian dari pemberian maaf Allah kepada hamba-hamba-Nya. Akan tetapi perlu dicatat bahwa izin itu hanya diberikan kepada orang-orang yang tidak memutus hubungan dengan Allah SWT dan para kekasih-Nya.

Dengan demikian, syafaat tidak berlaku mudak, tapi dengan syarat-syarat tertentu yang ada hubunganya dengan amal dan niat kata.

Mereka tidak akan memberikan syafaat kecuali terhadap orang yang diridhai Allah” (QS. Al-Anbiya’, 28).

Syafaat, seperti yang pernah disinggung, adalah sebuah metode pendidikan dan alat untuk mencegah seseorang bergeliniang dalam dosa serta putus hubungan dengan para kekasih Allah, sekaligus mendorongnya meninggalkan perbuatan dosa dan kembali kepada Allah.

Tidak dapat diragukan bahwa maqam pemberi syafaat agung adalah milik Rasulullah SAW, baru kemudian para nabi, imam-imam suci, para ulama, syuhada, mukminin, bahkan Al-Quran dan amal saleh. Diriwayatkan dari Imam Al-Shadiq a.s.:

“Tidak seorang pun, baik dari generasi awwalin, orang-orang pertama, maupun generasi akhirin, orang-orang kemudian, kecuali memerlukan syafaat Nabi Muhammad SAW di hari akhir” (Bihar Al-Anwar, jld. 8, hlm. 42).

Dalam riwayat lain dari Nabi SAW diriwayatkan:

“Pemberi syafaat ada lima kelompok: Al-Quran, kasih sayang, amanah, Nabi kamu, dan Ahlul Bait Nabi kamu” (Kanz Al-Ummal, hadis no. 39-41).

Dalam hadis lain dari Imam Al-Shadiq a.s.:

“Jika hari kiamat tiba, Allah bangkitkan orang berilmu, ulama, dan ahli ibadah. Ketika keduanya bersimpuh di hadapan Allah, kepada ahli ibadah dikatakan, ‘Masuklah ke surga!’ Sementara itu kepada ulama dikatakan, ‘Berdirilah di sini dan berikan syafaat kepada orang-orang karena baiknya pengajaranmu kepada mereka!’” (Bihar Al-Anwar, jld. 8, hlm. 56, hadis no. 66). Dalam hadis ini terkandung filsafat syafaat yang menarik.

Alam Barzakh
Syiah meyakini bahwa di antara alam dunia dan alam akhirat, ada alam ketiga yang disebut dengan alam barzakh, yaitu alam di mana ruh manusia berada di sana sesudah kematian hingga datangnya hari kiamat.

Baca juga :   Agama: antara Pilihan dan Keharusan

Dan di belakang mereka ada alam barzakh sampai hari mereka dibangkitkan” (QS. Al-Mu’minun, 100).

Tetapi pengetahuan kita tentang alam ini sebetulnya tidak banyak kecuali bahwa arwah orang-orang saleh akan berada di tempat yang mulia dan mendapat nikmat yang berlmpah.

Jangan kamu kira orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, tapi sesungguhnya mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki” (QS. Al- Imran, 169).

Sementara arwah orang-orang yang zalim, para tiran dan pendukung-pendukungnya akan tersiksa, sebagaimana yang dinyatakan Allah tentang Fira’un dan keluarganya.

Kepada mereka ditayangkan neraka pagi dan petang, dan pada saat datangnya hari kiamat (ia berkata), ‘Masukkan keluarga Firaun dalam siksa yang paling berat’” (QS. Al-Mu’min, 46).

Selain kedua kelompok di atas, ada kelompok lain yang tidak termasuk salah satu dari keduanya, yaitu mereka yang dosa-dosanya tidak sebesar kelompok kedua. Mereka tidak mendapat siksaan, tapi juga tidak memperoleh kenikmatan. Mereka seakan tidur dan baru bangun ketika kiamat tiba.

Dan pada saat datangya hari kiamat, orang-orang berdosa bersumpah bahwa mereka tidak tinggal dalam kubur kecuali sebentar” (QS. Al-Rum, 55).

Dan orang-orang yang diberi ilmu dan inian berkata (kepada para pendosa), ‘Kamu telah tingga! (di dalam kubur) atas ketetapan Allah hingsa hari kebangkitan. Dan ini adalah hari kebangkitan, tapi kamu tidak tahu’” (QS. Al-Rum, 56).

Dalam sebuah hadis Nabi SAW disebutkan:

“Kuburan itu boleh jadi merupakan taman dari taman-taman sorga atau lubang dari lubang-lubang api neraka” (Shahih Al-Turmudzi, jld. 4, Kitab Sifat al-Qiyamah, bab 67 hadis no. 246; Bihar Al-Awar, jld. 6, hlm. 214 dan 218.)

Balasan Spritual dan Material
Syiah meyakini bahwa pembalasan di hari kiamat mencakup dua sisi, material dan spiritual, karena kebangkitan mengandung sisi material dan spiritual.

Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang taqwa (ialah surga) yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, makanannya abadi (tak habis-habisnya) begitupun naungannya. Itulah kesudahan orang-orang yang bertaqwa sedang kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka” (QS. Al-Ra’d, 35).

Bidadari-Bidadari (pasangan-pasangan) yang suci bagi orang-orang yang beriman, Katakanlah, ‘Apakah kamu ingin aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikilan itu?’ Yaitu untuk orang-orang yang bertaqwa pada sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka itu kekal di dalamnya, dan ada pasangan-pasangan yang suci serta keridhaan dari Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya” (QS. Al Imran, 15).

Dan tentang neraka, “Jilatan apinya sangat menyakitkan.” Semua itu menunjukkan dimensi material pembalasan di hari akhir.

Akan tetapi yang lebih penting dari pada itu semua ialah balasan spiritual yang tercermin dalam pancaran cahaya makrifat Ilahi, kedekatan ruhani pada Allah Al-Khaliq, dan penampakan keindahan dan keagungan-Nya, penampakan jamal dan jalal, suatu kenikmatan yang tiada tara, yang tidak dapat dilukiskan oleh kata-kata maupun pena. Di beberapa ayat Al-Quran, setelah menyebutkan sejumlah kenikmatan material surga, mengungkapkan bahwa ridha Allah lebih besar dan bahwa itulah keuntungan yang agung (lih. QS. Al-Taubah, 72).

Ya, memang tiada kenikmatan yang lebih besar dari pada mendapatkan diri bahwa Allah ridha kepadanya. Dalam hadis qudsi dari Imam Ali ibn Husain a.s. disebutkan bahwa Allah SWT berfirman:

“Ridha-Ku dan cinta-Ku kepadamu lebih baik dan lebih besar dari apa yang kamu miliki sekarang” (Tafsir Al-Mizan, jld. 9, tafsir QS. Al-Taubah, 72).

Sungguh, tidak ada yang lebih nikmat dari pada diseru oleh Allah SWT:

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke surga-Ku” (QS. Al-Fajr, 27-30).

Sumber: Nashir Makarim Syirazi, I’tiqade-ma, Qom, 1375 HS.

(Visited 110 times, 1 visits today)

Leave a reply