Garis-garis Umum Akidah Syiah (3): Al-Quran dan Kitab-kitab Samawi

0
126

nur alquranAllah SWT telah menurunkan sejumlah kitab samawi untuk menuntun umat manusia ke jalan yang lurus, antara lain: kitab suci Ibrahim dan Nuh, Taurat, Injil, dan Al-Quran. Kitab-kitab suci ini merupakan kitab paling sempurna. Jika kitab-kitab ini tidak turun, maka manusia akan tersesat dalam perjalanannya menuju Allah SWT dan dalam beribadah kepada-Nya. Manusia juga akan kehilangan dasar-dasar takwa, akhlak, pendidikan, dan aturan-aturan sosial yang dibutuhkannya.

Kitab-kitab samawi ini menyirami rohani manusia bagaikan hujan yang mengguyur bumi dan menumbuhkan di dalamnya bibit-bibit taqwa, akhlak, ma’rifatullah, pengetahuan, dan al-hikmah. Rasul beriman atas apa yang telah diturunkan Tuhannya kepadanya. Demikian pula orang-orang beriman. Mereka semuanya beriman pada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para utusan-Nya.

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya” (QS. Al-Baqarah: 285).

Tapi sayang, banyak di antara kitab-kitab samawi itu telah diselewengkan oleh tangan-tangan jahil dan orang-orang bodoh serta disusupi pikiran-pikiran yang menyesatkan, kecuali Al-Quran yang, oleh sebab-sebab yang akan kami jelaskan nanti, tidak dapat dijangkau oleh penyelewengan tangan-tangan kotor.

Al-Quran laksana matahari yang memancarkan cahaya sepanyang zaman menerangi hati manusia. Dalam Al-Quran disebutkan baha telah datang dari sisi Allah kepada umat manusia cahaya dan kitab yang jelas. Melaluinya, Allah memberi petunjuk jalan-jalan keselamatan kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya.

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus” (QS. Al-Ma’idah:15-16).

Al-Quran, Mukjizat Terbesar

Al-Quran adalah mukjizat utama Nabi Muhammad SAW. Tapi bukan hanya dan sisi kefasihan dan keunggulan bahasa, keindahan keterangan-keterangannya, dan kesempurnaan maknanya semata, melainkan Al-Quran juga mencakup aspek-aspek lainnya. Untuk mengetahui hal ini lebih jauh silahkan baca buku-buku aqidah dan ilmu kalam.

Karena itu, Syiah meyakini bahwa tidak seorang pun dapat membuat kitab seperti Al-Quran atau bahkan sebuah surat sekalipun. Al-Quran menantang siapa saja, bahkan secara berulang-ulang, agar mereka membuat seperti Al-Quran. Tapi tidak seorang pun yang mampu memenuhi tantangan ini.

“Katakanlah, seandainya manusia dan jin bekerjasama untuk membuat yang seperti al-Quran, niscaya mereka takkan dapat membuat Yang sepertirnya, sekalipun mereka saling mendukung satu sama lainnya” (QS. Al-Isra’: 88)

Baca juga :   Mengenal Tuhan, apakah Harus? Ini Dalil-dalilnya

“Dan jika kamu ragu tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah sebuah surah yang seperti al-Quran dan ajaklah orang-orangmu, selain Allah, untuk membantumu, jika memang kamu benar” (QS. Al-Baqarah: 23).

Syiah meyakini bahwa Al-Quran tidak akan surut dengan berlalunya zaman. Malah kemukjizatannya semakin berkibar dan keagungannya semakin tampak. Dalam sebuah hadis dari Imam Ja’far Al-Shadiq a.s. dikatakan, “Sesungguhnya Allah SWT tidak menjadikan Al-Quran hanya untuk suatu masa atau suatu kelompok manusia saja. Tapi ia aktual untuk setiap zaman dan sesuai untuk setiap masyarakat hingga hari kiamat. (Bihar Al-Anwar, jld. 2, hlm. 280).

Al-Quran tidak Mengalami Perubahan

Syiah meyakini bahwa Al-Quran yang ada di tangan kaum Muslimin saat ini adalah Al-Quran yang sama dengan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, tanpa sedikitpun mengalami penambahan atau pengurangan.

Para penulis wahyu telah membukukan al-Quran sejak hari-hari pertama turunnya wahyu. Kaum Muslimin senantiasa membacanya siang dan malam dan pada saat melakukan shalat lima waktu. Banyak di antara mereka yang hafal Al-Quran di luar kepala. Dalam hal ini, para penghapal dan pembaca Al-Quran memperoleh kedudukan khusus dalam masyarakat muslim.

Banyak hal menyebabkan Al-Quran terpelihara dari penyimpangan dan perubahan, di samping itu, Allah sendiri telah menjamin akan menjaganya sampai kapanpun. Oleh karena itu, Al-Quran tidak akan mengalami penyimpangan atau perubahan.

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran dan Kami pula yang akan memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9).

Para pakar dan ulama terkemuka Islam, baik Sunni maupun Syiah sepakat bahwa Al-Quran terpelihara dengan baik dan tidak mengalami sedikitpun perubahan atau tahrif. Kalau toh ada yang berpandangan bahwa telah terjadi tahrif dalam Al-Quran, baik dan pihak Syiah atau dari pihak Sunni, itu hanya oleh segelintir orang yang notabene hanya bersandar pada beberapa riwayat dan oleh ulama kedua belah pihak telah dinyatakan palsu, maudhu’, dan ditolak mentah-mentah, atau dipahami dalam arti perubahan yang bersifat maknawi (tahrif maknawi) yang berarti telah terjadi penyimpangan terhadap makna ayat Al-Quran, bukan redaksi kata dan kalimatnya. Atau paling tidak, telah terjadi pencampuradukan antara tafsir ayat di satu pihak dan teks asli al-Quran di pihak lain.

Dengan demikian, orang-orang yang berpikiran sempit senantiasa menuding Syi’ah atau Sunni telah meyakini tahrif, padahal ulama-ulama terkemuka kedua mazhab ini telah menolak mentah-mentah adanya tahrif dalam Al-Quran. Sesungguhnya mereka itu, di satu sisi, dengan bodoh telah meragukan Al-Quran, dan di sisi lain, telah membuat celah untuk mempertanyakan keabsahan kitab samawi nan agung ini. Selain itu, mereka telah memberikan pengabdian besar kepada musuh dan orang-orang yang mengincar Islam.

Baca juga :   Agama: antara Pilihan dan Keharusan

Mengamati perjalanan sejarah pembukuan Al-Quran (jam’ Al-Qur’an) sejak zarnan Nabi SAW dan perhatian besar yang diberikan kaum Muslimin untuk menulis Al-Quran, menghafalnya, dan membacanya, serta adanya penulis-penulis wahyu sejak hari-hari pertama turunnya Al-Quran, semua ini mengungkapkan kepada kita suatu kebenaran yang tidak dapat diingkari bahwa tangan-tangan jahil tidak akan mampu menjamah Al-Quran untuk melakukan tahrif sampai kapanpun.

Syiah tidak mempunyai kitab suci selain Al-Quran yang beredar luas di tangan kaum Muslimin ini. Untuk menelusuri hal ini, bukanlah sesuatu yang sulit. Rumah-rumah mereka, masjid, perpustakaan, dan sebagainya penuh dengan Al-Quran. Bahkan berbagai musium malah menyimpan naskah-nskah manuskrip Al-Quran kuno yang berumur ratusan tahun. Semuanya sama, sedikitpun tidak ada perbedaan. Dan jika dulu penelusuran ini dirasa sulit, tapi masa kita sekarang ini, sama sekali tidak ada kesulitannya, bahkan setiap orang bisa melakukannya dengan baik dan ia akan sampai pada kesimpulan bahwa tudingan-tudingan itu semuanya palsu.

“Maka berilah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan kemudian mengikuti apa yang terbaik daripadanya” (QS. Al-Zumar: 17-18).

Dewasa ini, institusi-institusi pendidikan agama, Hauzah Ilmiah, aktif mengkaji ilmu-ilmu Al-Quran secara luas, yang salah satu kajian pentingnya ialah kajian tentang tidak adanya tahrif dalam Al-Quran.

Al-Quran dan Kebutuhan Manusia
Syiah meyakini bahwa segala kebutuhan manusia, materi maupun rohani, telah dijelaskan prinsip-prinsip dasarnya telah oleh Al-Quran. Kitab suci ini telah menjelaskan pokok-pokok pikiran tentang politik dan pemerintahan, hubungan antarmasyarakat, prinsip-
prinsip tentang pergaulan, peperangan, perdamaian, tata hukum, ekonomi, dan sebagainya. jika semua prinsip ini diterapkan, pasti akan membawa kesejahteraan dalam kehidupan manusia.

“Dan Kami turunkan kepadamu Alkitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. Al-Nahl: 89).

Oleh karena itu, Syiah yakin bahwa Islam selamanya tidak dapat dipisahkan dari masalah pemerintahan dan politik. Bahkan Islam menyeru umatnya agar memegang kendali urusan mereka sendiri supaya dapat menghidupkan nilai-nilai tinggi agama dan mendirikan masyarakat yang islami, masyarakat yang menegakkan keadilan sejati terhadap kawan maupun lawan.

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah penegak-penegak keadilan dan saksi-saksi untuk Allah walaupun atas dirimu sendiri, kedua orang tua, atau keluarga dekat” (QS. Al-Nisa’: 135).

“Dan jangan sekali-sekali kebencianmu kepada suatu kaum mendorongmu untuk tidak berlaku adil. Berlakulah adil! Sesungguhnya keadilan itu lebih dekat kepada taqwa” (QS. Al-Ma’idah: 8).

Baca juga :   Taubat Orang Murtad

Membaca, Mengkaji dan Mengamalkan Al-Quran

Syiah percaya bahwa membaca Al-Quran merupakan salah satu ibadah yang paling utama di antara ibadah-ibadah lainnya, karena membaca Al-Quran dapat membantu pembacanya melakukan telaah dan kajian terhadap Al-Quran, sedangkan telaah dan kajian itu sendiri merupakan sumber amal saleh. Allah menyeru Nabi-Nya:

“Bangunlah pada malam hari kecuali sedikit, yaitu separuhnya atau kurangi sedikit, atau tambahkan sedikit, dan bacalah Al-Quran secara tartil” (QS. Al-Muzammil: 2-4).

“Dan menyeru seluruh kaum Muslimin, bacalah apa yang mudah dari Al-Quran” (QS. Al-Muzammil: 20).

Akan terapi, seperti yang telah disinggung di atas, bacaan tersebut harus dapat mengantarkannya seseorang hingga melakukan telaah dan kajian atas Al-Quran, baik makna dan kandungannya, kemudian menjadikannya sebagai pengantar untuk mengamalkan nilai-dan hukumnya.

“Apakah mereka tidak menelaah al-Quran? Ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Dan Kami telah permudah Al-Quran untuk pelajaran, maka apakah ada yang mau mmgambil pelajaran? (QS. Al-Qamar:17).

“Dan adalah kitab yang Kami turunkan, penuh berkah, maka ikutilah ia” (QS. Al-Anfal: 155).

Maka, orang-orang yang membatasi diri hanya pada bacaan dan hafalan, namun tidak mengikutinya dengan pengkajian dan pengamalan, sungguh telah merugi besar, karena betapa pun ia telah mengamalkan pembacaan dan penghafalan, tetaapi sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan dua rukun lainnya yang lebih utama, yaitu mengkaji dan mengamalkan .

Pelengkap

Tak dapat dipungkiri bahwa ada tangan-tangan jahat yang berusaha mengalihkan kaum Muslimin dari melakukan kajian terhadap ayat-ayat Al-Quran dan pengamalannva. Pada masa Umayyah dan Abbasiyyah misalnya, tangan-tangan itu menyibukkan kaum Muslimin dengan isu keqadiman dan kebaharuan Al-Quran sehingga membuat umat Islam pecah menjadi dua kelompok yang saling berseteru, yaitu antara pendukung keqadiman Al-Quran dan pendukung kebaharuannya, hingga jatuh korban besar di kedua belah pihak.[1]

Padahal, perdebatan masalah ini sama sekali tidak didasarkan pada prinsip yang benar yang layak mendapatkan perhatian sebesar itu, karena jika yang dimaksud dengan kalam Allah adalah huruf-huruf dan lembaran-lembaran kertasnya, maka sudah pasti ia adalah baru, tetapi jika yang dimaksud adalah ilmu Allah, maka ia qadim sebagaimana Dzat-Nya.

Namun para penguasa dan khalifah-khalifah tiran pada masa itu terus membesar-besarkan rnasalah ini sehingga kaum Muslimin terlena selama bertahun-tahun, dan tangan-tangan jahat itu sampai saat ini pun terus berusaha dengan berbagai cara mengalihkan kaum Muslimin dari mengkaji dan mengamalkan Al-Quran.

Sumber: Nashir Makarim Syirazi, I’tiqade-ma, Qom, 1375 HS.

(Visited 73 times, 1 visits today)

Leave a reply