Garis-garis Umum Akidah Syiah (2): Kenabian

0
132

Mengapa harus ada nabi? Mengapa Allah SWT mengutus nabi-nabi kepada umat manusia? Syiah percaya bahwa tujuan Allah SWT mengutus para nabi dan rasul ialah untuk membimbing umat manusia dan menuntun mereka mencapai kesempurnaan hakiki dan kebahagiaan abadi. Seandainya para nabi itu tidak diutus, maka tujuan penciptaan manusia tidak akan tercapai dan manusia akan tenggelam dalam kesesatan.

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa kabar gembira dan peringatan supaya manusia tidak punya alasan (atas penyimpangan-penyimpangannya) terhadap Allah sesudah diutusnya para rasul” (QS. 4:165).

Syiah meyakini bahwa di antara para rasul itu ada “ulul-azmi” atau lima rasul pembawa syariat dan kitab suci yang baru, yaitu: Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan terakhir Nabi Muhammad SAW.

“Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari darimu serta Nuh, Ihrahim, Musa, dan Isa putra Maryam. Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang berat” (QS. 33:7).

“Bersabarlah sebagaimana para rasul ulul-azmi bersabar” (QS. 46:35)

Syiah meyakini bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir dan penutup para rasul. Tidak ada nabi atau rasul sesudahnya. Syanatnya ditujukan kepada seluruh umat manusia dan akan tetap eksis sampai akhir zaman, Dalam arti bahwa universalitas ajaran dan hukum Islam mampu menjawab kebutuhan manusia sepanjang zaman, baik jasmani maupun rohani. Kemudian, siapa pun yang mengklaim dirinya sebagai nabi atau membawa risalah baru sesudah Nabi Muhammad saw, sesat dan tidak dapat diterima. Muhammad bukan bapak siapa pun di antara kamu. Tapi ia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. “Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu” (QS. 33:40).

Hidup Rukun dengan Pemeluk Agama Samawi Lain

Betapa pun Syi’ah menganggap bahwa Islam adalah satu-satunya agama resrni Ilahi saat ini, tetapi Syi’ah meyakini bahwa wajib hukumnya hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama samawi lain, apakah mereka hidup di negeri Islam atau di tempat lain, kecuali jika mereka memerangi Islam. Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu dalam agama dan tidak mengusirmu dan negerimu. “Sesungguhhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. 60:8).

Syi’ah meyakini bahwa melalui kajian-kajian rasional, Islam dapat dijelaskan dengan baik kepada seluruh dunia; dan melalui daya tarik Islam yang luar biasa, Syi’ah percaya bahwa jika Islam dijelaskan dengan baik, maka banyak pihak yang akan cenderung ke Islam, lebih-lebih dewasa ini, dimana banyak pihak yang tertarik pada Islam. Oleh karena itu Syi’ah meyakini bahwa Islam tidak dapat didakwahkan secara paksa. Tidak ada pemaksaan dalam beragama. “Sesungguhnya telah jelas mana yang benar dan mana yang salah” (QS. 2:256).

Pada saat yang sama Syi’ah juga meyakini bahwa kepatuhan kaum Muslimin kepada ajarannya merupakan cara lain untuk menjelaskan Islam, sebagaimana sabda Imam Ja’far as: Jadilah pendakwah-pendakwah tidak dengan lidahmu. Dengan demikian tidak perlu kekerasan atau pemaksaan.

Kemaksuman Para Nabi

Syiah meyakini bahwa semua nabi maksum, yakni terpelihara dan perbuatan salah, keliru, dan dosa sepanjang hidup mereka, baik sebelum masa kenabian maupun sesudahnya. Sebab jika seorang nabi melakukan kesalahan atau dosa, maka kepercayaan yang diperlukannya untuk posisi kenabian dengan sendirinya sirna dan orang tidak mempercayainya lagi sebagai penghubung mereka dengan Tuhan. Orang-orang juga tidak akan lagi menganggapnya sebagai panutan hidup mereka.

Oleh karena itu Syi’ah meyakmi bahwa adanya sejumlah ayat yang mengesankan seolah-olah sejumlah nabi pernah berbuat dosa sama sekali tidak dapat difahami dalam pengertian telah betul-betul melakukan perbuatan dosa. Tidak demikian maksud ayat-ayat tersebut. Tapi semacam tark al-awla atau perbuatan meninggalkan yang utama. Maksudnya, di antara dua perbuatan baik, nabi bersangkutan justru memilih yang manfaatnya lebih sedikit, padahal ia lebih pantas memilih yang lebih utama. Atau dengan kata lain, termasuk dalam kategori: Perbuatan baik untuk maqam abrar, orang-orang baik, adalah buruk untuk maqam muqarrabin, orang-orang dekat. Karenanya setiap orang dituntut melakukan perbuatan sesuai dengan maqamnya.

Baca juga :   Lingkup Kajian Ilmu Kalam

Para Nabi Adalah Hamba-hamba Allah

Syi’ah meyakini bahwa keagungan para nabi dan rasul terletak pada keberadaan mereka sebagai hamba-hamba yang taat kepada Allah. Oleh karena itu, dalam shalat-shalat kita, kita selalu mengulang-ulangi ikrar bahwa Nabi Muhmamad saw adalah hamba Allah dan utusan-Nya: Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Kami meyakini bahwa tidak seorang nabi pun yang pernah mengaku sebagai tuhan atau mengajak orang lain menyembah dirinya.

Tidak patut bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya kitab, hikmah, dan kenabian, lalu berkata kepada orang-orang:  Jadilah hamba-hambaku, bukan Allah (QS. 3:79).

Termasuk Nabi Isa as. la tidak pernah mengajak orang agar menyembah dirinya. Malah selalu menyatakan dirinya adalah hamba dan utusan Tuhan. Isa al-Masih tidak pernah enggan untuk menjadi hamba Allah. Demikian pula para malaikat muqarrabin, yang amat dekat dengan Allah (QS. 4:172).

Adapun masalah trinitas, yaitu kepercayaan adanya tiga tuhan, sejarah modern Nasrani sendiri membukukan bahwa hal itu tidak pernah ada pada abad pertama Masehi, tapi baru muncul sesudah itu.

Mukjizat dan Pengetahuan Ghaib

Status para nabi sebagai hamba-hamba Alah tidak menghalangi mereka untuk mengetahui perkara-perkara masa lalu, sekarang, dan atau yang akan datang, dengan izin Allah. Allah Mahamengetahui yang ghaib. Dia tidak akan memberitahukan rahasia keghaiban-Nya kepada siapa pun kecuali kepada rasul yang dipilihnya (QS. 72:26-27).

Kita mengetahui bahwa di antara mukjizat Nabi Isa as ialah mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi. Dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu (QS. 3:49) .

Demikian juga Rasulullah saw. banyak menginformasikan berita-berita ghaib melalui wahyu Allah: Itu adalah berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (QS. 12:102)

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk menolak bahwa para nabi dapat menginformasikan hal-hal ghaib yang diperolehnya dari wahyu dan dengan izin Allah Swt. Adapun adanya ayat yang menyatakan bahwa Rasulullah saw tidak memiliki pengetahuan ghaib, yaitu ayat: Dan aku tidak mengetahui yang ghaib dan tidak pula mengatakan bahwa aku adalah malaikat (QS. 6:50)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa pada dasarnya Rasulullah saw memang tidak memiliki pengetahuan ghaib. Tetapi tidak berarti bahwa dia tidak memperolehnya dari Allah Swt. Karena ayat-ayat al-Quran saling menafsirkan satu sama lainnya.

Syi’ah meyakini bahwa para nabi mampu mengerjakan perkara-perkara luar biasa serta mukjizat-mukjizat besar dengan izin Allah Swt. Keyakinan ini sama sekali tidak syirik dan tidak pula bertentangan dengan status kehambaan para nabi itu. Nabi Isa as misalnya, sebagaimana diungkapkan dalam al-Quran, dengan tegas mengatakan bahwa atas izin Allah ia telah menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit kusta dan belang. Dan aku menyembuhkan penyakit kusta dan belang dan aku menghidupkan orang mati, dengan izin Allah (QS. 3:49).

Maqam Syafaat Para Nabi

Syi’ah meyakini bahwa para nabi, apalagi Nabi Muhammad saw, memiliki kewenangan memberi syafaat. Mereka akan memberi syafaat kepada golongan pendosa tertentu, tentu setelah memperoleh izin dari Allah Swt. Tidak ada pemberi syafaat kecuali setelah mendapat izin-Nya (QS. 10:3).

Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa seizin-Nya (QS. 2:255).

Dengan demikian, jika di beberapa ayat al-Quran terkesan ada penafian syafaat secara mutlak seperti ayat:

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dan rezeki yang telah Kami berikan kepada kamu sebelum datang hari yang ketika itu tidak ada lagi jual beli, tidak ada persahabatan yang akrab, dan tidak ada syafaat; dan orang-orang kafir itulah yang orang-orang yang zalim.” (QS. 2:254).

Baca juga :   Taubat Orang Murtad

Yang dimaksud bukan syafaat sebagaimana yang kita jelaskan di atas, tapi syafaat yang bersifat independen dan tanpa izin Allah, atau syafaat orang-orang yang belum mencapai tingkat kewenangan memberi syafaat. karena seperti yang kita tegaskan berkali-kali, ayat-ayat Al-Quran saling menjelaskan satu sama lain.

Syi’ah menyakini bahwa syafaat adalah sarana yang sangat penting bagi pendidikan dan pengembalian orang-orang yang tergelincir ke jalan yang lurus, memotivasi mereka kepada kesucian dan takwa, serta menghidupkan kembali harapan di hati mereka, sebab syafaat bukan perkara tanpa aturan. Ia hanya diberikan kepada orang-orang yang memenuhi syarat untuk menerimanya, yaitu para pendosa yang dosa-dosanya tidak membuatnya putus hubungan dengan para pemberi syafaat. Dengan demikian, syafaat merupakan peringatan kepada orang-orang yang tergelincir agar tidak menutup jalan dan tetap memberikan ruang untuk kembali ke jalan yang benar agar tidak kehilangan kesempatan mendapatkan syafaat.

Tawassul

Syiah meyakini bahwa masalah tawassul serupa dengan masalah syafaat, yaitu bahwa orang-orang yang menghadapi berbagai problema, apakah problema duniawi atau ruhani, dapat bertawassul atau meminta kepada Allah melalui para kekasih-Nya agar problema yang mereka hadapi, dengan izin-Nya, dapat diatasi. Dengan kata lain, dan satu sisi, ia memohon langsung kepada Allah, tapi dari sisi lain, menjadikan para kekasih-Nya sebagai perantaranya. Dan seandainya ketika mereka menzalimi diri mereka (berbuat dosa) datang kepadamu, lalu minta ampun kepada Allah dan dimintakan ampun oleh Rasul, tentulah mereka akan dapati Allah Mahapengampun lagi Mahapengasih.” (QS. 4:64)

Dalam kisah Nabi Yusuf, kita melihat betapa saudara-saudara Yusuf as meminta ayahnya, Nabi Ya’qub as, bersedia menjadi perantara mereka kepada Allah seraya berkata: Ayah, mohonkan ampunan buat kami atas dosa-dosa kami. Kami adalah orang-orang yang bersalah” (QS. 12:97).

Dan Nabi Ya’kub as pun menerima permintaan mereka dan bersedia menjadi perantara dengan mengatakan: Aku akan mohonkan ampun buat kamu kepada Tuhanku” (QS. 12:98).

Ini adalah bukti bahwa tawassul dilakukan oleh umat terdahulu. Tapi harus diingat bahwa tawassul tidak boleh melewati atas yang diizinkan, yaitu dengan menganggap para kekasih Allah itu dapat melakukan sesuatu tanpa izin Allah, karena perbuatan demikian dapat membawa kepada kemusyrikan. Demikian pula tidak boleh dilakukan dalam bentuk ibadah kepada para kekasih Allah itu, karena perbuatan demikian syirik dan kafir;karena para kekasih Allah itu tidak dapat mendatangkan kebaikan atau keburukan tanpa izin Allah.

Katakanlah aku tidak dapat mendatangkan suatu manfaat buat diriku dan tidak pula dapat mencegah suatu mudharat dari diriku, kecuali yang dikehendaki Allah. (QS. 7:188).

Namun harus diakui terdapat sikap berlebih-lebihan pada sebagian kalangan awam di semua aliran Islam sehingga kita harus selalu membimbing dan menuntun mereka.

Kesatuan Da’wah

Para Nabi Syi’ah meyakini bahwa semua nabi mempunyai tujuan yang sama, yaitu membawa manusia kepada kebahagiaan yang hakiki melalui iman kepada Allah dan hari akhir, pengajaran dan pendidikan agama yang benar serta memperkokoh prinsip-prinsip akhlak. Oleh karena itu, kami menghormati semua nabi, seperti yang diajarkan al-Quran kepada kita: Kami tidak membeda-bedakan seorang pun sesama utusan-Nya” (QS. 2:285).

Namun demikian, agama-agama samawi itu berkembang secara bertahap, seiring dengan kesiapan manusia menerima ajaran-ajaran Tuhan.

Semakin ke sini semakin sempurna dan semakin dalam, hingga tiba giliran agama Islam yang merupakan agama terakhir dan tersempurna. Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Aku cukupkan kepada kamu nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kamu (QS.5:3).

Pemberitaan Nabi-Nabi Terdahulu

Kami meyakini bahwa banyak di antara para nabi terdahulu telah mengabarkan kedatangan nabi-nabi sesudahnya. Misalnya, Nabi Musa as dan Isa as telah mengabarkan kedatangan Nabi Muhammad saw. Bahkan buku-buku mereka masih merekam hal itu hingga saat ini. Al-Quran sendiri berkata: Mereka yang mengikuti nabi yang ummi (QS. 7:157).

Baca juga :   Islam dan Sekularisme (1): Pengertian

Oleh karena itu, sejarah mencatat bahwa sebelum agama Islam lahir, banyak warga Yahudi yang sengaja datang ke kota Madinah untuk berjumpa dengan Nabi Muhammad saw, karena kitab-kitab mereka mengabarkan bahwa dari kota inilah akan muncul seorang nabi yang membawa agama baru. Tapi ketika nabi yang mereka harap-harapkan itu betul-betul datang, sebagian mereka beriman kepadanya, tapi sebagian lain mengingkarinya karena kepentingan mereka terancam.

Para Nabi dan Perbaikan Keadaan Hidup

Syi’ah meyakini bahwa agama-agama samawi yang diturunkan kepada para nabi, terutama agama Islam, tidak hanya datang untuk memperbaiki kehidupan individu atau terbatas pada masalah-masalah maknawiyah dan akhiak saja, tapi sekaligus untuk rnemperbaiki dan menyempurnakan seluruh aspek kehidupan sosial.

Bahkan banyak di antara pranata ilmu dan pengetahuan moderen yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan dewasa ini justeru diperoleh dari para nabi, sebagaimana yang diisyaratkan al-Quran pada beberapa ayatnya. Syi’ah juga meyakini bahwa di antara tujuan utama para nabi ialah tegaknya keadilan sosial dalam masyarakat manusia. Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang jelas dan Kami turunkan bersama mereka al-kitab dan al-mizan agar mereka dapat menegakkan keadilan dalam mayarakat (QS. 57:25).

Menolak Rasialisme

Syi’ah meyakini bahwa para nabi, terutarna nabi terakhir, Muhanmad saw, menolak dengan keras segala bentuk rasialisme, apakah berdasarkan darah atau warna kulit. Dalam pandangan para nabi itu, semua umat manusia, dari suku, bahasa, dan ras apapun adalah sama. Al-Quran menyeru semua kelompok manusia dengan firman-Nya: Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari laki dan perempuan dan Kami jadikan kamu hersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sesungsuhnya orang yang paling mulia di sisi Aliah adalah yang paling bertaqwa (QS. 49: 13).

Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa ketika Nabi saw berada di Mina, saat menunaikan ibadah haji, la berseru kepada orang-orang yang berkumpul di sekelilingnya: Hai sekalian manusial Sesungguhnya Tuhan kamu satu dan nenek moyang kamu juga satu. Ketahuilah! Tidak ada kelebihan bangsa Arab atas Ajam atau Ajam atas Arab. Tidak ada kelebihan berkulit hitam atas berkulit merah atau berkulit merah atas berkulit hitam. Mereka semua sama, kecuali dengan taqwa. Nabi berkata: “Bukankah telah kusampaikan?” Mereka menjawab: “Ya”. Nabi kemudian melanjutkan: ”Pesan ini harus disampaikan oleh orang-orang yang hadir di sini kepada mereka yang tidak hadir. (Tafsir al Qurtubi, 9 : h 162)

Islam dan Fitrah Manusia

Syi’ah meyakini bahwa secara fitrah, di dasar hati yang paling dalam, setiap manusia memiliki bibit-bibit keimanan kepada Allah, tauhid, dan pokok-pokok ajaran para nabi. Para nabi kemudian menyirami bibit-bibit yang ada itu dengan air wahyu Ilahi dan menjauhkannya dari hama-hama kemusrikan dan penyimpangan.

la merupakan fitrah Allah yang telah difitrahkannya pada manusia. Sesungguhnya tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Dan itu adalah agama yang lurus, tapi sebagian besar manusia tidak mengetahui (QS. 30:30).

Oleh karena itu, agama selalu menyertai manusia sepanjang sejarah. Ada pun sikap tidak beragama praktis sangat jarang terjadi dan merupakan pengecualian, demikian tegas sejarawan. Terbukti bahwa bangsa-bangsa yang mendapat tekanan propaganda gencar agar meninggalkan agama, begitu mendapatkan kebebasan, segera kembali ke agamanya. Tapi kita juga tidak dapat mengingkari bahwa rendahnya tingkat intelektualitas pada banyak umat terdahulu menyebabkan tercampurnya pemikiran keagamaan mereka dengan khurafat; dan para nabi berperan besar menghilangkan khurafat-khurafat itu dari kehidupan beragama mereka.

(Visited 67 times, 1 visits today)

Leave a reply