Filsafat Ilmiah

0
47

Istilah “filsafat ilmiah” digunakan dalam beberapa pengertian teknis:

1. Positivisme
Setelah mengutuk pemikiran filsafat dan metafisika serta menyangkal prinsip-prinsip rasional universal, Auguste Comte membagi ilmu-ilmu positif dalam enam cabang utama yang, masing-masingnya, mempunyai hukum-hukum khas sebagai berikut: matematika, astronomi, fisika, kimia, biologi, dan sosiologi. Dia menulis sebuah buku berjudul Course of Positive Philosophy dalam enam jilid, dan mengupas dasar-dasar umum keenam ilmu tersebut sejalan dengan apa yang disebut-sebut sebagai metode positif. Tiga jilid dari buku itu dia khususkan untuk ilmu sosiologi. Walaupun demikian, filsafat Positivisme ini dibangun di atas klaim-klaim dogmatis yang non-positif! Walhasil, kandungan buku berisi program penyelidikan pelbagai ilmu, khususnya ilmu-lmu sosial; program yang disebut dengan filsafat positif atau filsafat ilmiah.

2. Materialisme Dialektik
Bertolak-belakang dengan para positivis, kalangan Marxis menitikberatkan kemestian filsafat dan keberadaan hukum-hukum universal. Namun, mereka juga percaya bahwa hukun-hukum ini diperoleh lewat perampatan hukum-hukum dari ilmu-ilmu empiris, bukan dari pemikiran rasional dan metafisis. Maka dari itu, mereka menyebut filsafat Materialisme Dialektik dengan “filsafat ilmiah”, lantaran, menurut klaim mereka, ia didapat dari capaian-capaian ilmu-ilmu empiris, kendati ia tidak lebih ilmiah ketimbang keilmiahan filsafat Positivisme.

Pada dasarnya, filsafat ilmiah (jika ilmiah ini dimaknai empiris) adalah oxymoron seperti: “pria lajang yang beristri”. Klaim-klaim mereka ini telah kami analisis secara kritis sepanjang studi komparatif (Rujuk Mishbah Yazdi, Muhammad Taqi, Ideolozî-e Tathbîqî (Ideologi Komparatif), Muasseseh-e Dar Rah-e Haq, Qom, 1983).

3. Metodologi
Makna teknis lain filsafat ilmiah ialah sepadan dengan metodologi. Jelas bahwa setiap ilmu, bergantung pada jenis masalahnya, memerlukan metode penelitian dan verifikasinya sendiri. Misalnya, masalah-masalah sejarah tidak bisa dipecahkan di laboratorium melalui penguraian dan penyampuran pelbagai unsur. Demikian pula, tidak ada filosof yang bisa menetapkan melalui analisis dan penalaran filosofis, misalnya, tahun berapa Napoleon menyerang Rusia dan apakah dia kalah atau menang dalam serangan itu. Masalah-masalah semacam ini mesti diselesaikan melalui penelitian dokumen-dokumen yang relevan dan penilaian validitasnya.

Baca juga :   Apakah Islam Jadi Sempurna dengan Adanya Filsafat dan Logika?

Secara umum, berdasarkan metode penelitian untuk memecahkan pokok-pokok masalahnya, ilmu dapat dibagi menjadi tiga tipe: ilmu rasional, ilmu empiris, ilmu naratif dan historis. Telaah atas pelbagai corak dan tingkat ilmu serta identifikasi metode-metode khusus dan umum untuk masing-masing tipe ilmu tadi membentuk sebuah ilmu yang dikenal dengan metodologi atau, adakalanya, disebut dengan filsafat ilmiah atau juga logika praktis (Âmûzesh-e Falsafeh, jil. I, Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Sazman-e Tablighat-e Islami, Qom, 1378 HS/2000 M).
.

(Visited 41 times, 1 visits today)

Leave a reply