Falsafah Penciptaan Manusia

0
154

Apakah tujuan di balik penciptaan manusia? Ya, hanya sedikit orang yang tidak mempertanyakan pertanyaan ini kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Setiap saat terdapat kelompok manusia yang senantiasa lahir di dunia ini, dan kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok lain yang meninggal dunia. Apakah sebenarnya tujuan dari kedatangan dan kepergian yang ini?

Seandainya kita manusia tidak hidup di belahan bumi ini, kira-kira bagian alam manakah yang akan rusak? Dan apakah masalah yang akan ditimbulkan? Apakah perlu bagi kita untuk mengetahui untuk apakah kita datang dan mengapa kita pergi? Dan apabila kita ingin mengetahui makna dari semua ini, apakah kita mempunyai kemampuan untuk itu? Dan beribu pertanyaan lain sebagai kelanjutan dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memenuhi pikiran manusia.

Setiap kali kaum materialis ataupun positivis mengutarakan pertanyaan semacam ini, sepertinya belum ada jawaban (yang dapat memuaskan) untuk itu. Alam materi tidak memiliki akal dan perasaan sama sekali sehingga ia dapat memiliki sebuah tujuan. Dengan alasan inilah, mereka telah membebaskan dirinya dari permasalah ini dan meyakini bahwa alam penciptaan adalah nihil dan tak bertujuan. Dan betapa sangat menyedihkan apabila manusia dalam seluruh bagian kehidupannya, seperti pendidikan, usaha dan kerja, makanan, penyembuhan, kesehatan, olah raga, dan lain sebagainya melakukannya dengan tujuan yang pasti dan dengan program yang sangat detail, akan tetapi seluruh (sistem) kehidupan (sebagai sebuah kesatuan) yang ada di alam semesta ini adalah nihil dan tidak mempunyai tujuan sama sekali.

Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang mengherankan apabila sebagian mereka setelah melakukan perenungan terhadap persoalan ini, merasa kenyang terhadap kehidupan yang nihil dan tanpa tujuan ini, dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri.
Akan tetapi, ketika pertanyaan ini dipertanyakan oleh seorang penyembah Tuhan kepada dirinya sendiri, maka ia tidak akan pernah berhadapan dengan jalan buntu. Karena, dari satu sisi, ia mengetahui bahwa Pencipta dunia ini adalah Maha Bijaksana dan pastilah apa yang Ia ciptakan mempunyai sebuah hikmah yang luar biasa walaupun kita tidak mempunyai pengetahuan terhadap hal tersebut. Dan dari sisi lain, ketika ia memperhatikan anggota-anggota tubuhnya, maka ia akan menemukan tujuan dan filsafat dari setiap bagiannya. Bukan hanya pada anggota-anggota badan, seperti jantung, otak, pembuluh darah, dan urat saraf saja, bahkan anggota-anggota badan lainnya, seperti kuku, bulu mata, garis-garis sidik jari, lekukan telapak tangan dan kaki, masing-masing mempunyai filsafat yang saat ini telah diketahui oleh setiap orang.

Baca juga :   Tujuan Penerjemahan Filsafat Yunani

Betapa sebuah persepsi yang sangat konyol jika kita meyakini kebertujuan semua anggota itu, tetapi keberadaan alam semesta (sebagai sebuah kesatuan) tidak mempunyai tujuan? Betapa sebuah klaim yang sangat tak bernilai jika kita meyakini bahwa setiap bangunan di sebuah kota mempunyai tujuan dan filsafat, akan tetapi bangunan-banguna itu (secara keseluruhan) tidak tidak memiliki tujuan sama sekali?

Apakah mungkin seorang insinyur membangun sebuah bangunan besar yang seluruh ruangan, koridor, ruang pertemuan, pintu, jendela, kolam, dekor, dan lain sebagainya, masing-masing dirancangnya dengan maksud dan tujuan tertentu, tetapi seluruh bangunan itu (sebagai sebuah kesatuan) tidak mempunyai tujuan sama sekali?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memberikan kepercayaan kepada seorang insan Mukmin penyembah Tuhan bahwa penciptaan dirinya mempunyai tujuan yang sangat agung, yang untuk memahami hal tersebut, ia harus berusaha dan memanfaatkan kekuatan ilmu serta rasionalitas.

Sangatlah menakjubkan bahwa para penganut kenihilan dan kekosongan tujuan penciptaan ini malah masuk ke dalam semua jurusan ilmu-ilmu alam untuk menginterpretasikan beragam fenomena yang ada untuk mencari suatu tujuan dan mereka tidak akan bisa duduk tenang kecuali telah mendapatkan apa yang mereka maksudkan. Bahkan, mereka pun tidak bersedia menerima kehadiran sebuah wujud berupa butiran alami teramat kecil yang berada dalam bagian badan manusia yang muncul tanpa mempunyai sebuah aktivitas pun, dan untuk menemukan filsafat dari satu wujud ini, mungkin saja mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun di dalam laboratorium penelitian. Akan tetapi, ketika sampai pada penciptaan manusia, mereka dengan tegas mengatakan bahwa penciptaannya tidak memiliki tujuan sama sekali.
Betapa sebuah kontroversial yang sangat menakjubkan!

Betapapun, iman terhadap hikmah Allah SWT dari satu sisi, dan beragam filsafat yang terdapat pada setiap bagian dari wujud insan pada sisi lain akan membentuk diri kita menjadi seorang Mukmin. Dan hal ini merupakan sebuah tujuan agung dari penciptaan manusia.

Baca juga :   Definisi Filsafat; Ilmu apa itu?

Saat ini kita harus mencoba mencari apa tujuan tersebut, dan sejauh yang kita mampu, kita akan mencoba menentukannya dan setelah itu, kita akan berusaha melangkahkan kaki ke arah ini secara bertahap.

Perhatian terhadap satu masalah prinsip akan mampu membentuk lampu dan pancaran cahaya untuk menerangi rute yang gelap ini.

Kita senantiasa mempunyai tujuan dalam setiap apa yang kita lakukan, di mana tujuan tersebut biasanya dibentuk untuk menutupi kekurangan dan kebutuhan-kebutuhan yang kita miliki. Bahkan, apabila kita berkhidmat kepada orang lain atau menuntun tangan seseorang yang mengalami kesulitan dan memberikan jalan keluar dari kesulitan yang sedang dialaminya, atau bahkan, dengan melakukan kesetiaan dan ketakwaan, kesemuanya ini pun akan bisa merupakan sebuah cara untuk memenuhi kekurangan-kekurangan maknawi yang ada pada diri kita sehingga kebutuhan-kebutuhan suci kita akan menjadi tercukupi.

Dan karena kita sering membandingkan sifat dan perbuatan Ilahi dengan sifat dan perbuatan diri kita, mungkin saja akan memunculkan sebuah pertanyaan apakah kekurangan yang dimiliki oleh Allah SWT sehingga dengan penciptaan kita kekurangan itu akan tertutupi? Dan apabila di dalam salah satu ayat Al-Quran kita menemukan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk melakukan ibadah dan penghambaan, lalu apa perlunya Ia membutuhkan penghambaan dari kita?

Padahal cara berpikir yang demikian ini muncul dari komparasi sifat Khaliq dengan makhluk dan antara yang Wajib dengan yang mungkin.

Karena wujud kita adalah sebuah wujud yang terbatas, maka kita harus melakukan usaha untuk menutupi kekurangan yang ada dan semua amalan kita berada di dalam rute untuk memenuhi kekuranga ini. Akan tetapi, untuk sebuah wujud yang tanpa batas, makna semacam ini tidaklah bisa diterima. Kita harus mencari tujuan perbuatan-Nya dari selain wujud Nya.

Baca juga :   Pengertian Teknis Filsafat

Ia adalah Sang Pemula dan Sumber kenikmatan yang seluruh maujud berada dalam genggaman keperdulian-Nya dan perhatian pemeliharaan-Nya. Ia membawa mereka mereka dari kekurangan kepada kesempurnaan. Inilah tujuan hakiki dari penghambaan (‘ubûdiyah) kita, dan ini pulalah filsafat dari ibadah dan doa kita di mana semua itu merupakan serangkaian kelas pendidikan bagi kesempurnaan kita.

Dengan demikian, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk perkembangan dan kesempurnaan keberadaan kita.

Pada prinsipnya, penciptaan merupakan satu langkah menuju kesempurnaan yang sangat agung yang akan membuat ketiadaan menjadi sebuah wujud, dari tidak ada menjadi ada, dan dari nol menuju angka. Dan setelah selesainya langkah kesempuraan yang agung ini, tahapan kesempurnaan yang lain akan dimulai dan seluruh program agama dan Ilahi akan berada dalam rute ini.

Sumber:
Nashir Makarim Syirazi, Tafsir Nemûneh, jilid 22 hal. 389.

(Visited 114 times, 1 visits today)

Leave a reply