Ekuivokasi dalam Filsafat Islam

0
125

Dalam semua bahasa, sejauh informasi yang tersedia, terdapat kosakata yang mempunyai banyak makna harfiah, umum (dalam percakapan publik) dan teknis. Ke-banyak-an makna [untuk satu kata] inilah yang disebut dengan al-isytirâk al-lafzhî ‘ekuivokasi’. Sebagai contoh, dalam bahasa Persia, kata dûsy mempunyai banyak arti: tadi malam, pundak, dan mandi, dan kata syîr dipakai untuk singa, susu, dan kran air.

Keberadaan ekuivokasi berperan penting dalam bidang-bidang kesusastraan dan puisi. Tetapi, dalam ilmu pengetahuan, utamanya dalam filsafat, ia melahirkan beragam kerumitan, khususnya apabila makna-makna yang berbeda itu sangat dekat satu sama lain hingga upaya membedakannya menjadi sulit. Banyak kekeliruan timbul akibat ekuivokasi seperti ini dan, adakalanya, para pakar pun terjebak dalam perangkapnya.

Atas dasar itu, beberapa filosof besar seperti: Ibn Sina, konsisten pertama-tama menjernihkan makna setiap kata dan perbedaan satu dari makna teknis lainnya sebelum memulai pembahasan tema-tema rumit filosofis, supaya kebingungan dan kekeliruan dapat terelakkan. Sekadar ilustrasi, saya akan menyebutkan satu contoh ekuivokasi yang memiliki pelbagai penggunaan dan kerap melahirkan seabrek kesalahpahaman, yaitu kata Arab jabr.

Makna harfiah jabr, pada mulanya, ialah menutupi atau menghilangkan kekurangan. Selanjutnya, kata ini digunakan dalam arti “membalut tulang patah”. Peralihan makna ini terjadi mungkin karena membalut luka adalah cara menutupi kekurangan. Boleh jadi, kata jabr mula-mula digunakan untuk membalut luka kemudian dirampatkan (digeneralisasi) pada tindakan menutupi semua jenis kekurangan atau cacat.

Makna ketiga jabr adalah memaksa atau menekan seseorang. Munculnya makna ini boleh jadi akibat perampatan konsekuensi dari tindakan membalut tulang patah. Yakni, konsekuensi umum dari membalut tulang patah adalah menekan bagian yang patah agar benar-benar rapat, lantas konsekuensi ini (menekan) dirampatkan hingga mencakup semua tindakan menekan pihak lain secara paksa. Mungkin saja kata jabr mula-mula dipakai hanya untuk tekanan fisik lalu tekanan mental, dan akhirnya makna ini diperluas hingga mencakup semua jenis perasaan tertekan, biarpun tidak diakibatkan oleh pihak lain.

Baca juga :   Prinsip-prinsip Filsafat

Sampai di sini, kita telah meninjau dinamika perubahan makna jabr dari perspektif linguistik dan konvensional. Sekarang, kita akan menyimak makna teknis kata ini dalam ilmu dan filsafat. Salah satu makna teknis jabr dipakai dalam matematika dalam arti kalkulasi yang menggunakan lambang-lambang atau huruf-huruf untuk menggambarkan atau mewakili angka-angka (aljabar). Boleh jadi makna ini dipakai karena, dalam kalkulasi-kalkulasi aljabar, kuantitas positif dan negatif saling menutupi (mengkompensasi) atau karena kuantitas yang tidak diketahui pada satu sisi persamaan menjadi diketahui dengan melihat pada sisi lain atau dengan mengalihkannya ke sisi lain, dan kesemuanya itu membawa makna harfiah jabr.

Makna teknis lain jabr terkait dengan psikologi dan dipakai sebagai lawan dari kehendak-bebas. Serupa dengan makna ini muncul dalam masalah determinisme dan kehendak-bebas (jabr va ikhtiyâr) yang dikaji dalam teologi. Istilah ini juga dipakai dalam etika, hukum, dan fiqih. Penjelasan masing-masingnya akan terlalu panjang.
Sejak dahulu, makna atau konsep jabr (sebagai lawan kehendak-bebas) dikacaukan dengan hatmiyyah ‘kepastian’, dharûrah ‘keniscayaan’, dan wujûb ‘keharusan’ dalam filsafat. Pada kenyataannya, istilah jabr justru telah dipahami rancu dengan kepastian dan keniscayaan filosofis. Demikian halnya ‘determinisme’ juga sering dianggap sebagai padanan jabr dalam bahasa-bahasa asing (non-Arab dan non-Persia). Akibatnya, terciptalah pemahaman rancu bahwa tidak ada kehendak-bebas pada setiap kasus yang, di dalamnya, terdapat keniscayaan (hubungan) sebab-akibat. Sebaliknya juga demikian rancu bahwa menegasikan kepastian dan keniscayaan berarti mengafirmasi adanya kehendak-bebas.

Dampak pemahaman rancu ini kentara sekali dalam sejumlah masalah filsafat. Umpamanya, para teolog terdahulu mengingkari keniscayaan kausalitas (hubungan sebab-akibat) dalam kaitannya dengan pelaku swakarsa (mukhtâr). Buntutnya, mereka menuduh para filosof tidak lagi percaya bahwa Tuhan Yang Mahaagung bertindak secara swakarsa. Di pihak lain, para determinis (jabriyyûn) meyakini adanya nasib tertentu sebagai argumen atas kebenaran pendapat mereka. Di seberangan mereka sudah siap berdiri kaum Mu’tazilah yang meyakini kehendak-bebas dan mengingkari adanya nasib atau takdir pasti. Padahal, jabr tidak ada hubungannya sama sekali dengan soal kepastian takdir atau nasib. Semua pertikaian yang bersejarah panjang ini sebenarnya diakibatkan oleh tumpang-tindih dan kerancuan antara makna jabr dan makna dharûrah.

Baca juga :   Esensi Masalah Filsafat

Contoh sial lainnya terjadi pada sebagian kalangan fisikawan yang meragukan atau menyangkal keniscayaan kausalitas pada sejumlah fenomena mikrofisis. Sebaliknya, sebagian ilmuwan Barat yang bertuhan mencoba membuktikan adanya kehendak Tuhan dengan cara mengingkari keniscayaan kausalitas pada sejumlah gejala mikrofisis itu. Para ilmuwan ini menduga bahwa penafian keniscayaan dan penolakan atas determinisme dalam gejala-gejala di atas akan membuktikan adanya kekuasaan yang berkehendak-bebas dalam mengatur mereka.

Walhasil, keberadaan kata ekuivokal, khususnya dalam sejumlah kasus yang menampilkan perbedaan maknanya, telah membawa pelbagai kerumitan dalam pembahasan-pembahasan filosofis. Kerumitan ini berlipat-ganda manakala dalam satu bidang ilmu terdapat satu istilah yang mempunyai banyak makna teknis seperti: istilah ‘aql (akal) dalam filsafat, istilah dzâtiy ‘esensial’ juga ‘aradhiy ‘aksidental’ dalam logika. Oleh sebab itu, kita mesti menguraikan semua makna yang terkandung dalam satu kata dan istilah lalu menentukan makna teknis yang dimaksud dalam setiap pembahasan (praktis (Âmûzesh-e Falsafeh, jil. I, Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Sazman-e Tablighat-e Islami, Qom, 1378 HS/2000 M).
.

(Visited 71 times, 1 visits today)

Leave a reply