Definisi Ilmu Kalam

0
45

imagesIlmu kalam merupakan satu satu ilmu yang mempelopori perkembangan peradaban keilmuan umat Islam. Maka, ia punya catatan yang sangat panjang dan dinamika yang begitu kompleks. Dalam mendefinisikan dan membatasi esensinya sehingga berbeda dari disiplin ilmu yang lain, para sarjana Islam berbeda pendapat.

Farabi menulis, “Ilmu Kalam ialah sebuah karakter yang membantu seseorang dalam berbicara untuk mendukung pandangan dan perilaku tertentu yang ditetapkan secara tegas oleh peletak syariat, dan membantah apa yang disampaikan oleh penentangnya. (Ihshā’ Al-‘Ulūm, hlm. 114).

Qadhi Adhud Al-Din Al-Iyji (w.756 H), penulis Al-Mawāqif, mengatakan, Ilmu Kalam ialah sebuah bidang ilmu yang membantu seseorang hingga mampu membuktikan ajaran-ajaran keyakinan agama melalui dalil-dalil dan menyanggah kritik-kritik”. (Syarh Al-Mawūqif, jld. 1, hlm. 24).

Sa’d Al-Din Taftazani (w. 793 H) menulis, “Kalam ialah ilmu tentang akidah-akidah agama berdasarkan dalil-dalil yang pasti dan meyakinkan.” (Syarh Al-Maqāshid, jld. 1, hlm. 3).

Dalam definisi Ibn Khuldun disebutkan, “Ilmu kalam ialah ilmu yang mengandung pembuktian atas kebenaran keyakinan-keyakinan iman melalui dalil-dalil rasional, membantah para pembid’ah yang telah keluar dari akidah-akidah mazhab salaf dan ahli sunnah. Simbol pembuktian akidah-akidah iman ini ialah tauhid”. (Abdurrahman ibn Khaldun, Muqaddimah ibn Khaldūn, hlm. 342).

Sementara itu, Muhaqqiq Lahiji mengkritik semua definisi di atas dan berikutnya ia mengajukan batasan berikut, “kalam ialah ilmu teoretis yang, dengannya, seseorang mampu membuktikan kebenaran ajaran-ajaran keimanan agama”. (Lahiji, Abdulrazaq, Syawāriq Al-Ilhām, jld. 1, hlm. 5).

Tampaknya, definisi yang paling komprehensif adalah sebagai berikut, “Kalam ialah ilmu dan keahlian dalam studi agama yang, dengan bantuan teks-teks agama, merupaya menggali, mendisiplinkan dan menerangkan ajaran-ajaran dan konsep-konsep keimanan serta membuktikannya berdasarkan berbagai metode dan pendekatan dari luar dan dalam agama, juga membantah kritik dan isu-isu dari para penentang akidah.”

Baca juga :   Garis-garis Umum Akidah Syiah (1) : Tauhid

Dalam definisi ini tidak tersinggung subjek utama ilmu Kalam, karena memang ilmu Kalam tidak memiliki subjek. Akan tetapi, di dalam definisi ini terungkap tujuan dan metode yang ditempuh.

Oleh karena itu, pertama, ilmu kalam ialah sejenih ilmu dan keahlian yang, di samping aspek pengajaran, juga memiliki aspek keterampilan dan aplikasi. Maka seorang mutakallim tak ubahnya dengan penjaga kota yang menjamin keamanan sosial masyarakat kota, maka ia akan menjaga ketenteraman keimanan mawam dan elite kota.

Kedua, ilmu Kalam merupakan satu bidang studi agama.

Ketiga, jenis masalah dan pembahasan ilmu Kalam adalah konsep-konsep dan pengetahuan-pengetahuan keimanan (keyakinan).

Keempat, tujuan ilmu Kalam dan tugas seorang mutakallim ialah: (a) menyimpulkan, (b) mensistematisasi, (c) menerangkan ajaran dan konsep keimanan, (d) membuktikan kebenaran klaim-klaim keimanan secara rasional, (e) menjaga ajaran-ajaran agama dan membantah kritik terhadapnya.

Kelima, Ilmu Kalam menggunakan berbagai metode internal dan eksternal seperti: metode rasional, tekstual, empiirik, intuitif, juga menggunakan pendekatan argumentatif, deksriptif, analitik.

Ilmu Kalam, dengan demikian, menghimpun berbagai masalah dan topik yang terkait dengan keimanan agama seperti: pembuktian atas keberadaan Tuhan, menelaah sifat-sifat Tuhan, pembuktian atas keesaan Tuhan, telaah atas tindakan-tindakan Tuhan seperti: kebaruan dan kekadiman alam, kebaruan dan kekadiman Al-Quran, Qadha dan Qadar ilmu dan penciptaan, masalah jabr dan ikhtiyar, sakit, hidayah dan kesesatan, pengganjaran, ajal, rezeki, penyiksaan neraka, keadilan Tuhan, keniscayaan mengutus nabi, imamah dan khilafah setelah Nabi SAW, hari kebangkitan dan kiamat, kaidah baik-buruk rasional, kaidah kemurahan, kaidah yang-terbaik, dan masih banyak lagi (Khusrupanah, Mabādi wa Manābi-e Kalām, hlm. 100-101).

(Visited 40 times, 1 visits today)

Leave a reply