Argumentasi Rasional Atas Nabi Islam sebagai Utusan Terakhir Allah

0
141

kubah-nabiAdakah dalil rasional mengenai berakhirnya kenabian pada Nabi Muhammad Saw? Yakni, dalil yang menetapkan bahwa beliau adalah nabi terakhir. Dalam pembahasan burhan dari logika telah ditetapkan bahwa dalil rasional tidak dapat menghasilkan hukum parsial. Dengan demikian, kenabian secara parsial tidak dapat ditetapkan dengan dalil rasional; tidak seperti kenabian secara umum dan universal.

Penjelasannya, pada hakikatnya kenabian bertujuan untuk menyempurnakan manusia dan memberi mereka petunjuk agar mampu mencapai kesempurnaan hakiki. Banyaknya syariat dan agama disebabkan bermacam-macamnya tahap penyempurnaan bertahap umat manusia. Jadi setiap agama merupakan penyempurna tahapan penyempurnaan manusia yang pernah dijelaskan agama sebelumnya. Telah kami jelaskan pula bahwa tahapan kesempurnaan manusia memiliki batas. Meskipun kesempurnaan tertinggi manusia sangat tinggi letaknya, tetap saja terbatas tahapannya. Sesempurna apapun manusia, kesempurnaannya tetap terbatas. Dengan demikian, kenabian yang bertujuan untuk mengantarkan umat manusia ke titik tertinggi kesempurnaanya adalah kenabian yang terakhir. Dan syariatnya sampai kapanpun tetap berlaku dan harus diamalkan.

Dengan penjelasan di atas kita dapat menetapkan bahwa di antara banyaknya syariat-syariat langit yang ada, terdapat satu syariat yang lebih sempurna dari yang lain dan menjadi syariat terakhir yang terus berlaku sampai akhir zaman.

Dengan dalil yang berupa ayat maupun riwayat, secara mudah kita dapat menetapkan akhir kenabian Nabi Muhammad Saw. Syariat Islam adalah syariat yang benar dan harus dijalankan sampai akhir zaman. Al-Quran yang merupakan kitab suci agama ini pernah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah akhir para nabi. Sedangkan Al-Quran itu sendiri merupakan kitab yang tidak dapat dipalsukan kebenarannya.

Allah Swt berfirman, “… akan tetapi (Nabi Muhammad Saw adalah) utusan Allah dan penutup para nabi …” (QS. Al-Ahzab: 40).

Baca juga :   Hubungan antara Kalam Syiah dan Kalam Muktazilah

Di ayat lain, Allah berfirman, “Dan sesungguhnya (kitab) itu adalah kitab yang mulia. Tak ada kebatilan sedikitpun yang datang darinya. Itu adalah kitab yang diturunkan dari Tuhan yang maha bijaksana lagi terpuji.” (QS. Fushshilat: 41 – 42).

Dengan melihat alasan-alasan di atas, akhir kenabian Nabi Muhammad Saw dapat ditetapkan. Sebagaimana yang pernah kami jelaskan sebelumnya, maksud akhir kenabian Rasulullah Saw bukan berarti pintu kenabian telah ditutup dan akal manusia telah sempurna yang mana ia sudah tidak lagi membutuhkan wahyu-wahyu langit seperti dahulu kala. Jika Rasulullah Saw adalah nabi terakhir, ini bukan berarti kelak manusia sudah tidak membutuhkan syariat lagi. Jika pengertian seperti ini dibenarkan, maka analogi syariat Islam dengan samudera jadi kehilangan maknanya.

 

(Visited 69 times, 1 visits today)

Leave a reply