Arahan Rasional dan Literal dalam Menafsirkan Al-Quran

0
29

ilustrasi-_110527201103-607Sejatinya, ayat-ayat al-Quran harus dipahami sesuai pengertian umum dan makna redaksional yang dikandungnya, kecuali jika ada arahan rasional (qarinah aqliyah) atau arahan literal (qarinah naqliyah, di dalam ataupun di luar ayat, yang menunjukkan makna lain. Akan tetapi qarinab atau arahan tersebut tidak boleh bersifat meragukan.

Demikian pula tidak boleh menafsirkan Al-Quran hanya berdasarkan asumsi dan dugaan. Sebagai contoh, kita yakin bahwa maksud kata al-‘ama atau buta dalam ayat: “Barangsiapa buta di dunia akan buta pula di akhirat” (QS. Al-Isra’: 72), sudah pasti bukan dalam arti buta fisik (buta mata kepala), sebagaimana demikian dari makna redaksionalnya, karena banyak sekali orang buta matanya tetapi ia manusia baik dan salih. Dengan demikian, maksud buta dalam ayat ini ialah buta hati atau buta nurani. Mengapa kita tafsirkan seperti ini? Karena demikianlah arahan rasionalnya.

Demikian pula, ketika Al-Quran menggambarkan sekelompok musuh Islam sebagai: “Tuli, bisu, buta. Sesungguhnya mereka tidak berakal” (QS. Al-Baqarah: 171). Jelas sekali bahwa yang dimaksud Al-Quran dengan sifat-sifat negatif ini bukan sifat-sifat fisik, tapi sifat-sifat batin. Pemahaman seperti ini berdasarkan arahan yang menyertainya.

Demikian pula, ketika Allah berfirman, “Tetapi kedua tangan-Nya terbentang” (QS. Al-Ma’idah: 64) atau, “Dan buatlah kapal dengan mata Kami” (QS. Hud: 37), dua ayat ini sama sekali tidak dapat dipahami dalam arti mata atau tangan fisik, karena setiap fisik mempunyai bagian-bagian dan memerlukan ruang, waktu, dan arah sehingga ia akan punah, sedangkan Allah mustahil demikian. Dengan demikian, maka makna yang paling tepat untuk kata “kedua tangan-Nya” pada ayat pertama di atas ialah kekuasaan-Nya yang besar, dimana semua alam tunduk pada-Nya, sedangkan makna “mata” ialah pengetahuan-Nya atas segala sesuatu.

Baca juga :   Kaidah Umum Tafsir

Oleh karena itu, Syiah tidak dapat membenarkan sikap jumud (berbeku pikiran) atau terpaku mati hanya fokus pada redaksi kata dan kalimat ayat-ayat di atas, baik yang menyangkut sifat-sifat Allah atau bukan. Demikian pula tidak dapat dibenarkan mengabaikan arahan rasional dan arahan literal, karena peduli pada arahan-arahan tersebut merupakan sikap rasional orang-orang yang berakal sehat, bahkan Al-Quran pun menganut sikap ini, seperti yang ditegaskan-Nya, “Kami tidak mengirim seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya” (QS. Ibrahim: 4). Hanya saja perlu diingat bahwa arahan-arahan tersebut harus jelas dan pasti, seperti yang telah disinggung di muka.

Sumber: Nashir Makarim Syirazi, I’tiqade-ma, Qom, 1375 HS.

(Visited 58 times, 1 visits today)

Leave a reply