Alih-alih Merasa Dihina Soroush, Faqih Sufi Ternama Iran ini malah Minta Doa

0
50

STUDI-SYIAH.COM–Syeikh Husain Anshariyan adalah seorang ayatullah yang sufi populis di Iran. Lebih dari 50 karya ilmiah telah dihasilkannya. Salah satunya adalah “Irfan Islami” atau tasawuf Islam dalam 15 jilid. Di antara gurunya adalah Ayatullah Ilahi Qomsyeh’i, Ayatullah Gulpaigani, Ayatullah Khunsari, dan Imam Khomeini. Semasa perjuangan Revolusi di Iran, ia sempat dijebloskan ke penjara oleh rezim Pahlevi.

Kiprahnya di tengah masyarakat begitu luas. Majelis pengajiannya reguler dan terbuka umum, selalu saja sesak dengan ribuan warga dari berbagai lapisan, khususnya anak-anak muda di kotanya, Hamadan. Tutur katanya lembut, berbicara satu-satu dan pelan-pelan hingga, alih-alih membuat orang ngantuk, justru menahan mereka untuk serius menyimak kuliah-kuliah akhlak yang ringan dan menyentuh.

Bersama Qassem Solaemani

Ulama, betapapun tinggi ilmu dan akhlaknya, tidak luput dari ujian. Awal pekan ini publik Iran dihebohkan dengan berita Ayatullah Anshariyan yang jadi bahan pembicaraan seorang pemikir ternama Iran, Abdulkarim Soroush. Bukan hanya di Timur Tengah, pemikiran Islam liberalnya juga dikenal di Barat.

Dalam sebuah sesi wawancara radio, Soroush merasa perlu menyinggung Ayatullah Ansyarian, “Ada seorang ulama. saya harus menyebut namanya secara khusus karena populer di Iran. Dan belakangan dia tokoh pemikiran di kalangan pemuda Iran.”

Kekurangberadaban seorang pemikir seperti Soroush tampak saat ia membubuhkan kata-kata ini, “Dia bernama Haji Syeikh Husain Ansyariyan, seorang pembawa kidung dan, tentu saja, dia hanya selevel pembawa kidung, tidak lebih!”

Banyak respon bermunculan di tengah masyarakat. Kekecewaan hingga kemarahan publik terhadap Soroush meluap di media sosial. Ada yang berharap agar Soroush tetap kritis terhadap ulama tanpa kehilangan kesopanan dan moral kritik.

Tapi, bagaimana respon sang ayatullah sendiri? Cukup mengagetkan sekaligus mengagumkan. Sebagai penceramah, Syaikh Husain Ansariyan seperti biasa penyabar, santun, dan rendah hati. Dalam rekaman video singkat, ia merespon sikap tak hormat Soroush itu dengan menyebut namanya penuh hormat berikut ini:

Baca juga :   Dinamika Sejarah dalam Al-Quran

“Tuan Soroush mengatakan saya tidak lebih dari hanya seorang pembawa kidung-pujian. dengan kata-kata ini, sesungguhnya beliau telah menyebut saya mulia. Karena, saya selalu berharap sepanjang hidup saya jadi pembawa kidung untuk Ahlulbiat, terutama untuk Sayyidu Syuhada (Imam Husain a.s.). Saya sangat mencintai sebutan ini, bukan gelar-gelar seperti: profesor, ulama, ilmuwan.

Abdolkarim Soroush

“Saya berdoa agar kelak di Hari Kiamat, Allah Penguasa alam semesta kiranya menerima saya hanya sebagai seorang pembawa kidung Sayyidu Syuhada. Karena jika saya diterima dengan status ini saja, semua pintu rahmat Allah akan terbuka di hadapan saya. Saya juga benar-benar memohon dari saudara-saudara semua mendoakan saya agar saya dihadirkan di padang mahsyar di Hari Kiamat dengan status ini.”

Abdolkarim Soroush nama intelektual tersohor Iran yang tidak asing lagi di kawasan, bahkan di dunia. Pemikirannya yang liberal sebangun dengan pendirian politisnya yang aktif mengkritik sistem negara di Republik Islam Iran, baik selama berada di dalam maupun di luar negeri.

Di Iran, Sorouh salah satu pengikut setia pemikiran Karl R. Popper. Banyak karya yang telah diterbitkan di berbagai bidang, utamanya dalam bidang tasawuf, syarahnya atas Matsnawi Jalaluddin Rumi dan komentar atas pidato sufistik Imam Ali a.s. (2 jilid). Senada dengan Muhammad Iqbal yang juga dikagumi Soroush, hakikat manusia bukan dengan ilmu, tetapi dengan akhlak dan amal mulia.

(Visited 27 times, 1 visits today)

Leave a reply