Ali ibn Abi Thalib a.s., Sang Syahid Mihrab

0
102

imamah imam aliDi akhir masa hidupnya, Ali ibn Abi Thalib a.s. melihat kondisi yang semakin sulit lantaran aksi-aksi kerusuhan di berbagai tempat dan keberhasilan Muawiyah dalam menebarkan kekacauan dan teror di negeri-negeri Islam. Maka ia bersiap-siap untuk melakukan penyerangan besar-besaran. Untuk itu, ia berusaha membangkitkan kembali umat Islam. Ia berpidato dan memperingatkan mereka:

“Ketahuilah! Aku telah letih menasihati dan berbicara kepada kalian. Sekarang, katakan kepadaku apa yang telah kalian lakukan? Bila kalian siap menyertaiku memerangi musuh, tentu ini yang aku inginkan. Bila kalian tidak ingin melakukan apa-apa, biarkan aku yang menunjukkan dan memutuskan apa yang harus kalian lakukan.

“Demi Allah! Bila kalian semua tidak keluar bersamaku untuk memerangi musuh kalian lalu Allah menurunkan hukum-Nya kepada kita dan mereka—Sungguh Allah sebaik-baik yang menghakimi—niscaya aku akan berdoa kepada Allah agar kalian celaka lalu ditawan oleh musuh kalian. Aku akan tetap keluar menyerang musuh, walaupun dengan sepuluh orang.” (Sirah Al-Aimmah Al-Itsna Asyar, jld. 1, hlm. 451).

Melalui peringatan ini, Ali ibn Abi Thalib a.s. berharap dapat menggugah jiwa masyarakat dan agar mereka yakin bahwa dirinya akan keluar sendiri dengan keluarga dan beberapa sahabat khususnya melawan Muawiyah, sekalipun tidak ada yang membelanya. Keyakinan mereka begitu kuat sehingga bila tidak mengikuti Ali ibn Abi Thalib a.s., niscaya akan celaka di Hari Akhirat.

Oleh karena itu, para tokoh masyarakat menyambut seruannya untuk memerangi Muawiyah dan menghancurkan para perusuh. Orang-orang pun keluar dan berkumpul dengan segala perlengkapan militernya di daerah Al-Nakhilah di luar kota Kufah. Sebagian komandan dari induk pasukan bergerak lebih dahulu dari yang lain bersama Ali ibn Abi Thalib a.s. Namun demikian, mereka tetap menunggu hingga akhir bulan suci Ramadhan untuk memulai penyerangan.

Baca juga :   Ayatullah Sayyid Ali Khamenei

Dalam pada itu, kejahatan telah menguasai dunia Islam. Kebenaran tidak lagi dapat mengibarkan benderanya, tidak ada tangan yang diulurkan untuk melakukan perbaikan, tidak ada suara yang dapat diteriakkan guna menyingkap kejahatan orang-orang zalim. Kemarin, Abu Sufyan melakukan muslihat untuk membunuh Nabi Muhammad SAW agar risalah ilahi terkubur untuk selama-lamanya. Namun semua usaha itu tidak dikehendaki oleh Allah SWT. Kehendak Allah SWT hanyalah menyempurnakan cahaya-Nya.

Sekarang, dengan memanfaatkan penyimpangan yang berlangsung sejak peristiwa Saqifah, Muawiyah berusaha menyempurnakan apa yang telah dimulai oleh ayahnya dalam rangka menghancurkan Islam. Dibantu oleh potensi kebodohan dan kesesatannya, dia menyiapkan rencana untuk membunuh jantung umat Islam, penyambung lisan kebenaran, pembawa panji Islam dan penghidup syariat.

Kesesatan yang telah lama menuntun kaki mereka sekali lagi menyeret mereka untuk memadamkan cahaya hidayah dan melanggengkan kegelapan demi menyiapkan penyelewengan dan kejahatan. Kemudian, tangan-tangan setan itu berjabatan tangan dengan Ibnu Muljam di kegelapan malan. Pedang itu menebas kepala seorang yang telah lama membelakangi dunia dan menghadap rumah Allah SWT dalam keadaan sujud. Ia pun dibiarkan begitu saja.

Sekelompok orang-orang sesat telah berkumpul untuk membunuh Ali ibn Abi Thalib a.s. Tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa aktor intelektualnya adalah Muawiyah ibn Abu Sufyan. Kesepakatan mereka adalah membunuh Ali a.s. ketika ia melaksanakan shalat subuh. Karena, tidak satu pun dari mereka yang berani berhadap-hadapan langsung dengan singa Allah.

Pada waktu itu, tepat malam kesembilan belas dari bulan Ramadhan. Ali ibn Abi Thalib a.s. banyak melakukan perenungan dengan melihat-lihat angkasa. Ia senantiasa mengulang-ulang kalimat ini: “Engkau tidak berbohong dan tidak pernah membohongi orang lain. Malam ini adalah waktu yang Engkau janjikan” (Al-Shawa’iq Al-Muhriqah, hlm. 80; Bihar Al-Anwar, jld 42, hlm. 230).

Baca juga :   Hikmah Mengangkat Tangan ketika Berdoa

Ali ibn Abi Thalib a.s. menghabiskan malamnya dengan berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT. Setelah itu, beliau keluar dari rumah menuju masjid untuk menunaikan shalat subuh. Sesampainya di masjid, ia membangunkan orang-orang yang terbiasa beribadah di sana lalu terbawa tidur. Beliau membisikkan, “Shalat! … shalat…!”

Setelah itu, Ali ibn Abi Thalib a.s. menunaikan shalatnya. Ketika ia tengah asyik bermunajat kepada Allah, tiba-tiba seorang durjana celaka bernama Abdurrahman ibn Muljam mengucapkan slogan golongan Khawarij dengan suara lantang: La hukma illa lillah, tiada hukum kecuali milik Allah. Secepat kilat dia mengayunkan pedangnya dan menghujam tepat di kepala Ali. Kepala Ali merengkah akibat tebasan tersebut. Seketika itu pula ia mengucapkan kalimat, Fuztu wa Rabb Al-Ka’bah, sungguh aku menang, demi Tuhan pemilik Ka’bah!” (Al-Imamah wa Al-Siyasah, hlm. 180 & 135; Tarikh Dimasyq, jld. 3, hlm. 367).

Terdengarlah suara riuh di dalam masjid. Orang-orang cepat berlarian mendekati Ali ibn Abi Thalib a.s. Mereka mendapatkannya tergeletak di mihrab lalu membawanya pulang ke rumahnya dalam kedaaan kepala dibalut, sementara masyarakat dari belakang mengikuti sambil menangis.

Orang-orang berhasil menangkap Ibnu Muljam. Ali ibn Abi Thalib a.s. berwasiat kepada anak tertuanya, Imam Hasan a.s., juga kepada anak-anaknya yang lain serta keluarganya, agar berlaku baik dengan tahanan. Ia berkata, “Nyawa dibalas dengan nyawa. Maka, bila aku mati, kalian harus mengqisasnya. Dan bila aku hidup, aku akan mengambil keputusan sesuai dengan pertimbanganku” (Maqatil Al-Thalibin, hlm. 22; Syarh Nahj Al-Balaghah, jld. 6, hlm. 118; Bihar Al-Anwar, jld. 42, hlm. 231).

(Visited 33 times, 1 visits today)

Leave a reply