kitab-wallpaper-570x318Riwayat selanjutnya adalah kisah yang ditunggangi orang-orang asing yang kemudian mempertanyakan kebenaran kenabian. Kisah ini adalah kisah Gharaniq yang fiktif, dikenal dengan “ayat-ayat setan.” Gharaniq adalah bentuk jamak dari ghurnuk yang berarti seorang pemuda periang dan tampan. Pada dasarnya kata itu diambil dari nama seekor burung putih yang sangat indah.

Para pendongeng kisah ini menyebutkan bahwa Rasulullah saw selalu berharap bisa menjalin hubungan dengan Quraisy. Karena beliau saw takut berpisah dengan kaumnya. Suatu ketika beliau sedang duduk di dekat Ka’bah dan memikirkan masalah itu. Saat itu orang-orang Quraisy berada di dekat beliau. Tiba-tiba surah an-Najm diturunkan kepada beliau. Ketika ayat itu disampaikan, Rasulullah saw langsung mengujarkannya, Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang disampaikan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh Yang Sangat Kuat… Ketika sampai pada ayat yang beredaksi, Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Lata dan Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak-anak Allah)?… saat inilah setan mulai mempengaruhi Rasulullah hingga beliau menyampaikan bisikan setan tanpa memperhatikan wahyu yang datang. Beliau berujar “Ketiganya itu adalah Gharaniq yang maha tinggi dan syafaat mereka sungguh diharapkan.” Kemudian Rasulullah melanjutkan sisa surahnya.

Orang-orang musyrik mendengar dengan seksama ketika Rasulullah saw menyifati tuhan-tuhan mereka dan memberi berita gembira tentang pemberian syafaat ketiga berhala tersebut. Karenanya mereka bergembira. Sikap mereka terhadap kaum Muslim langsung berubah. Mereka mengulurkan tangan persaudaraan dan persatuan kepada kaum Muslim. Semua bergembira. Peristiwa ini mereka anggap pertanda baik.

Berita tersebut menyebar hingga Ethiopia. Kaum Muslim yang berhijrah merasa senang mendengar kejadian tersebut. Mereka semua kembali ke Mekkah dan menjalani kehidupan dengan kaum musyrik sebagai saudara. (Dari kalimat ini bisa diketahui bahwa riwayat tersebut palsu. Bagaimana mungkin wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah pada malam hari itu adalah bisikan iblis. Bagaimana mungkin pada hari itu juga berita itu bisa sampai ke Ethiopia, sementara sarana transportasi yang ada pada zaman itu sangat tidak mendukung).

Rasulullah saw merasa gembira karena persatuan tersebut. Malam harinya beliau saw kembali ke rumah. Saat itulah Jibril turun ke bumi untuk meminta beliau mengujarkan surah yang telah diturunkan kepadanya. Rasulullah pun membacanya hingga kalimat tersebut.

Mendengar itu, tiba-tiba Jibril menghardik, “Diamlah! Apa yang sedang kamu ucapkan ini!” Saat itu juga Rasulullah saw sadar atas kekeliruannya dan baru tahu bahwa iblis telah menguasainya. Rasulullah saw sangat bersedih dan merasa bosan hidup. Beliau berkata, “Oh, aku telah berbohong kepada Allah! Aku telah mengatakan sesuatu yang tidak Allah katakan! Oh, sungguh celaka diriku!”

Menurut sebagian riwayat disebutkan bahwa saat itu beliau saw berkata kepada Jibril, “Dia yang membacakan dua ayat ini kepadaku, wajahnya sama seperti wajahmu.”

Baca juga :   Kezaliman Terbesar adalah Zalim terhadap Diri Sendiri

Jibril berkata, “Aku berlindung kepada Allah. Peristiwa itu tidak akan pernah terjadi.”

Sejak saat itu Rasulullah sering memohon kepada Allah agar usianya diperpendek. Menurut riwayat tersebut saat itu ayat ini diturunkan, Dan mereka hampir-hampir memalingkan engkau (Muhammad) dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar engkau mengada-ada sesuatu yang lain dari Kami, dan jika demikian tentu mereka menjadikanmu sahabat yang setia. Dan sekiranya Kami tidak memperteguhmu, niscaya kamu condong sedikit kepada mereka, jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksa) berlipat ganda setelah mati, dan engkau tidak akan mendapat seorang penolong pun dari Kami (QS. al-Isra:73-75).

Menurut riwayat itu, ayat ini menambah kesedihan Rasulullah. Rasulullah melewati sisa hidupnya dengan kesedihan. Akhirnya beliau mendapat anugerah dari Allah. Menurut riwayat tersebut, untuk menghilangkan kesedihannya, diturunkanlah ayat berikut ini, Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha mengetahui lagi Mahabijaksana (QS. al-Hajj:52). Setelah ayat ini diturunkan, beliau merasa tenang dan semua kesedihan sirna (Tafsir ath-Thabari, jilid 17, hal.131-134; Jalaluddin Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsur, jilid 4, hal.194, 366-368; Ibnu Hajar Asqalani, Fath al-Bari fi Syarh al-Bukhari, jilid 8, hal.233).

Tak satu pun sejarahwan Islam menerima kisah fiktif ini. Mereka menganggapnya tidak lebih dari sekedar khurafat. Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa tidak satu pun kitab-kitab sahih yang menukil hadis ini. Di dalam riwayat ini tidak ada sosok perawi yang bisa dipercaya. Sanadnya tidak bersambung. Hanya para mufasir yang bertumpu pada sisi zahir riwayat serta para penulis sejarah yang lugu dan tidak bisa membedakan perawi yang jujur dan pembohong yang meriwayatkan hadis tersebut.

Menurut Qadhi Bakr bin ‘Ala, beberapa dari kaum Muslim percaya kepada riwayat palsu tersebut, meskipun mereka mengerti bahwa sanad hadis ini lemah dan matan-nya membingungkan dan tumpang tindih (Risalah Al-Syifa’, jilid 2, hal.117).

Abu Bakar Ibnu Arabi berkata, “Semua yang telah diriwayatkan oleh Thabari berkenaan dengan masalah ini, adalah tidak benar dan tidak berdasar.” (Fath Al-Bari, jilid 8, hal.333).

Muhammad bin Ishaq menulis risalah berkenaan dengan hadis ini. Dalam risalah tersebut dia menganggap semua yang ada dalam hadis tersebut sebagai hadis buatan dan hasil rekayasa orang-orang zindiq (atheis) (Fakhrurrazi, Tafsir al-Kabir, jilid 23, hal.50).

Ustad Muhammad Husain Haikal berpendapat secara jeli berkenaan dengan kisah fiktif ini. Beliau menunjukkan kontradiksi dan kebohongan hadis tersebut (Hayatu Muhammad, hal.124-129).

Kita tidak perlu terlalu masuk ke pertentangan dan ketidakserasian permulaan dan akhir kisah fiktif ini. Dengan hanya berbekal sedikit kejelian, masalah ini akan menjadi jelas bagi siapa saja yang membacanya.

Baca juga :   Dialektika Wahyu Tuhan dan Nalar Manusia

Perlu “digarisbawahi”, pembuat kisah fiktif ini melakukan pekerjaannya secara amatiran, ayat ini diawali dengan kalimat, Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh Yang Sangat Kuat. Seandainya iblis mampu menyisipkan kekacauan, maka akibatnya pendustaan kalam Ilahi, sementara setan selamanya tidak pernah bisa mengalahkan kehendak Tuhan, Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah (QS. an-Nisa:76). Allah telah menetapkan, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaaziz (QS. al-Mujadilah:21). Aziz bermakna bahwa tiada yang mampu mengalahkan-Nya. Bagaimana mungkin iblis yang lemah, mampu mengalahkan Tuhan Yang Perkasa.

Allah berfirman, Sesungguhnya setan itu tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya (QS. an-Nahl:99). Sesungguhnya kamu (setan) tidak memiliki kemampuan atas hamba-hamba-Ku… (QS. al-Isra:65).

Ungkapan setan direkam oleh al-Quran, Dan aku tidak memiliki kuasa atas kalian kecuali hanya mengundang kalian saja maka kalian pun memenuhi undanganku (QS. Ibrahim:22). Bagaimana mungkin iblis mampu menguasai perasaan Rasulullah.

Allah telah menjamin al-Quran dengan firman-Nya, Sesungguhnya Kami sendiri yang menurunkan adz-Dzikr (al-Quran) dan Kami (pula) Yang memeliharanya (QS. al-Hijr:9). Tidak datang kepadanya (al-Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji (QS. Fushshilat:42).

Al-Quran akan selalu terjaga dari tangan-tangan jahil sepanjang zaman. Sampai kapan pun tak akan ada yang mampu menambah dan menguranginya.

Jika melihat riwayat palsu tersebut, bagaimana mungkin iblis bisa mempengaruhi firman-Nya, menambah dan merubah al-Quran ketika diturunkan. Apalagi Rasulullah saw adalah maksum. Beliau terbebas dari kesalahan, temasuk ketika menerima dan menyampaikan syariat. Premis ini disepakati oleh semua umat.

Semua bisikan setan tak mampu mempengaruhi Rasulullah saw. Tak seorang pun atau apa pun mampu mengalahkan pikiran Rasulullah saw. Beliau digaransi oleh Allah Swt, Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami (QS. ath-Thur:48). Beliau tidak pernah sendiri.

Bukankah Rasulullah saw adalah orang yang paling fasih mengucapkan “dhad.” (Rasulullah saw bersabda, “Aku adalah orang yang paling fasih mengucapkan ‘dhad’.” Hadis ini menunjukkan kefasihan beliau dari semua orang Arab ). Beliau lebih mengetahui kaidah bahasa melebihi siapa pun. Tidak logis jika beliau tidak mengetahui kesalahan atau kesimpangsiuran frase yang bercampur dengan kesyirikan. Seperti yang ditegaskan dua ayat setelahnya yaitu, Itu tiada lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka hanya mengikuti dugaan (QS. Al-Najm:23).

Baca juga :   Wahyu dalam Al-Quran

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah saw tidak mengakui tuhan-tuhan kaum musyrik. Beliau melihat anggapan kaum musyrik tidak berdasar. Ayat-ayat selanjutnya hingga akhir surah adalah bentuk koreksi atau kritik yang menunjukkan ketidakberartian keyakinan orang-orang Quraisy. Karenanya, setiap manusia berakal sehat akan mengetahui ketidakselarasan kisah fiktif ini.

Dua ayat yang dijadikan dalil oleh ahli hadis mereka, sama sekali tidak terkait dengan kisah fiktif tersebut:

1. Ayat, Maka Allah menghapus apa yang disampaikan setan. Ayat ini mengungkapkan hakikat bahwa setiap pemilik syariat berharap agar semua jerih payahnya membuahkan hasil, semua rencananya dapat terlaksana, kalimatullah dapat ditegakkan di muka bumi. Setanlah yang selalu menghalangi terlaksananya tujuan-tujuan mulia itu dengan cara membendung jalan. Seperti yang ditegaskan ayat, Setan melempar dalam angan-angannya. Namun ada optimisme, Sesungguhnya Allah itu Mahakuat lagi Mahaperkasa. Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.

Allah telah menjelaskan semua yang dikaburkan iblis, sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu sirna (QS. al-Anbiya:18). Semua yang ada kaitannya dengan iblis pasti sirna, Maka Allah menghapus apa yang dilontarkan setan kemudian Allah memperkuat tanda-tanda kebesaran-Nya dan Allah adalah Maha mengetahui lagi Mahabijaksana. Inilah tanda-tanda kebesaran Ilahi yang kokoh.

2. Ayat tatsbit (pengokoh—QS. Al-Isra’:73-75) membuktikan kemaksuman para nabi. Seandainya kemaksuman yang merupakan anugerah Ilahi, penerang jalan para nabi, tidak dimiliki para nabi, sangat mungkin mereka mengikuti arus orang-orang berpikiran salah.

Para penguasa tiran, sekaitan dengan masalah ini, selalu mengondisikan situasi untuk mewujudkan tujuan-tujuan keji. Boleh jadi (jika diasumsikan bahwa para nabi tidak maksum—peny.) para tiran itu bisa mempengaruhi orang yang paling layak, tertipu dan dipengaruhi mereka. Bukankah hanya inayah Ilahiah yang meliputi hamba-hamba-Nya yang saleh untuk memproteksi diri dari semua bisikan dan tipuan setan.

Ayat tatsbit tidak menunjukkan adanya “ketergelinciran” atau kesalahan (yang dilakukan nabi—peny.). Coba kita lihat kalimat, jika bukan.

Muhammad Husain Haikal berkata, “Berpegang teguh kepada ayat, Dan kalau Kami tidak memperkuatmu… (untuk menjadikannya sebagai dalil kisah fiktif ini) adalah salah. Ayat tersebut tidak mengisahkan terjadinya ketergelinciran tersebut, sebaliknya, ayat ini mengisahkan keteguhan Nabi karena inayah Ilahi. Ayat, memiliki suatu keinginan… sebagaimana yang telah disebutkan, tidak terkait dengan kisah fiktif Gharaniq.” (Hayatu Muhammad, hal.124-129).

Ayat tersebut adalah undang-undang bersifat umum agar kaum Muslim mengetahui bahwa mereka selalu mendapat inayah Ilahi. Jika mereka bertindak tidak pantas, maka setiap saat mereka bisa mendapat siksa yang paling pedih, dunia dan akhirat akan menjadi sempit bagi mereka.[RED]

Sumber:
Muhammad Hadi Ma’rifat, Tarikh Al-Qur’an, Majma Jahani Ahl Al-Bait, Qom, 1388 HS

(Visited 4 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*