imageDalam aqidah Syiah, pintu ijtihad akan selalu terbuka lebar untuk semua persoalan agama. Para fuqaha yang kompeten dapat melakukan istinbath atau penyimpulan hukum dari empat sumber hukum (Al-Quran, Sunnah, akal, dan ijma) dan menyajikannya kepada pihak yang belum memiliki kemampuan beristinbath, meskipun pandangan mereka mungkin berbeda dengan pandangan fuqaha sebelumnya.

Dalam Ushul Fiqih Syiah, seseorang yang belum mencapai otoritas istinbath hukum hendaknya merujuk atau bertaqlid kepada para fuqaha hidup yang menguasai persoalan zaman dan masyarakat.

Bagi Syiah, masalah taqlid atau merujuknya orang awam kepada para ahli dalam masalah fiqih merupakan persoalan yang amat jelas dan disadari oleh semua orang. Akan tetapi taqlid harus dilakukan kepada orang yang masih hidup, tidak boleh kepada orang yang telah meninggal dunia, kecuali jika sebelumnya memang ia telah bertaqlid kepadanya. Hal ini supaya fiqih terus berkembang di dinamis. Maka para fuqaha yang dijadikan tempat rujukan oleh orang awam disebut dengan marja’ taqlid (tempat rujukan dalam bertaqlid)

Sumber: Nashir Makarim Syirazi, I’tiqade-ma, Qom, 1375 HS.

(Visited 8 times, 1 visits today)
Baca juga :   Awal Sejarah Ilmu Fikih dalam Islam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*