GURUNDalam surah Al-A’raf (7), ayat 172, Allah SWT berfirman, “Dan [ingatlah] tatkala Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka [seraya berfirman], ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Benar [Engkau adalah Tuhan kami], kami menjadi saksi.’ [Kami lakukan yang demikian itu] agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami [Bani Adam] adalah orang-orang yang lalai terhadap hal ini [keesaan Tuhan].’”

Di dalam ayat ini, disebutkan pengambilan janji dari Bani Adam secara umum. Akan tetapi bagaimanakah bentuk perjanjian ini?

Maksud dari alam dan kesaksian atau perjanjian ini adalah “alam potensi” dan perjanjian fitrah, takwin serta penciptaan. Urutannya adalah ketika Bani Adam keluar dalam bentuk sperma dari tulang sulbi seorang ayah memasuki rahim seorang ibu di mana ketika itu bentuk Bani Adam tidak lebih dari sebesar biji atom (dzarrah). Allah SWT menganugerahkan potensi dan persiapan untuk mendapatkan tauhid sejati. Rahasia Ilahi ini diberikan dalam bentuk perasaan esoteris yang bersifat esensial (dzâtî) dan diletakkan pada karakter dan fitrahnya. Bani Adam itu dapat mengetahui rahasia ini melalui akal dan nalarnya.

Oleh karena itu, seluruh manusia memiliki ruh tauhid dan pertanyaan yang diajukan Tuhan kepadanya hanyalah berupa lisan genesis (takwîn) dan penciptaan. Jawaban yang mereka berikan juga melalui lisan ini.

Redaksi-redaksi seperti ini dalam dialog-dialog keseharian juga tidak sedikit kita jumpai. Misalnya kita berkata, “Warna dan raut wajah seseorang mewartakan rahasia batinnya” dan “Matanya yang sayu menandakan bahwa ia tidak tidur semalam.”

Para pakar sastra dan orator Arab berkata, “Tanyakanlah kepada bumi ini siapakah yang membuka jalan sungai-sungaimu? Dan pepohonan ditanam dan menghasilkan buah-buahan? Apabila bumi tidak menjawab dengan lisan biasa, ia akan menjawabnya dengan bahasa tubuh (baca: bahasa penciptaannya).”

Baca juga :   Tafsir Filosofis Argumentasi Keesaan Tuhan

Di dalam Al-Quran, redaksi ungkapan dalam ranah bahasa sehari-hari ini telah disebutkan, seperti, “… Lalu Ia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati dan taat kepada perintah-Mu.’” (QS. Fushshilat [33]: 11) (Ruj Tafsir Nemûneh, jld. 7, hlm. 6).

(Visited 7 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*