syaikh-thusiMuhammad bin Hasan Thusi lahir pada bulan Ramadan 285 H di keluarga sederhana akan tetapi penuh dengan cahaya iman. Tempat lahir dia kota Thus. Kota ini sebelumnya bernama Senapad. Dia berdomisili di sana sampai tahun 408 H, dan selama itu dia mempelajari ilmu-ilmu dasar yang populer pada zamannya (Ali Dawani, Hizarehye Syaikh Thusi, hlm. 4).

Menuju Baghdad

Syaikh Thusi pada usianya yang kedua puluh tiga merasakan kota Thus terlalu kecil bagi perkembangan dan perjalanan spiritual dia, sehingga menurutnya harus berhijrah ke kota Baghdad untuk dapat menimba ilmu dan pengalaman yang lebih berlimpah dari para guru terkemuka pada zamannya seperti Syaikh Mufid dan Sayid Murtadha. Itulah sebabnya dia memutuskan diri untuk berhijrah ke kota Baghdad pada tahun 408 hijriah (Sayid Muhsin Amin Amili, A’yan Al-Syiah, jld. 9, hlm. 159).

Pada zaman itu, Baghdad adalah kota ilmu yang gaungnya sampai ke mana-mana. Kuliah Syaikh Mufid telah mengundang kehadiran para ulama dari berbagai penjuru dunia ke kota itu. Syaikh Thusi sama sekali tidak merasa asing di lingkungan ilmu tersebut. Dia senantiasa gemilang duduk di bangku kuliah tokoh jenius, Syaikh Mufid, selama lima tahun.

Kehadiran pelajar muda yang baru berusia dua puluh tiga tahun di kuliah tokoh spiritual umat Syiah dan di sisi pelajar-pelajar senior seperti Sayid Murtadha dan saudaranya yang jenius, Sayid Radi, begitu pula Najasyi, Abul Fath Karajki, dan Muhammad bin Hasan Hamzah yang mana mereka semua merupakan tokoh ulama Syiah, menunjukkan betapa istimewanya kedudukan intelektual dan spiritual Syaikh Thusi.

Syaikh Thusi telah mencapai tingkat ijtihad pada usia mudanya, dia menulis buku Tahdzib al-Ahkam, yang populer dan senantiasa menjadi perhatian masyarakat Syiah, pada periode ini dan atas usulan guru besarnya, Syaikh Mufid (Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari’ah, jld. 4, hlm. 504; Mirza Muhammad Baqir Khansari, Rawdhat Al-Jannat, jld. 6, hlm. 23).

Buku ini menjadi bukti nyata akan tingkat ijtihad Syaikh Thusi dan kemampuannya yang luar biasa di berbagai bidang ilmu seperti fikih, ushul fikih, dan rijal, padahal ketika itu usia dia tidak lebih dari tiga puluh tahun.

Bersama Syaikh Mufid
Ibnu Nadim, salah seorang ulama yang hidup sezaman bahkan sekota dengan Syaikh Mufid, menuliskan di dalam kitab Fihristnya bahwa Ibnu Mu’allim Abu Abdullah –sebutan yang dia gunakan untuk Syaikh Mufid– adalah pemimpin teolog-teolog Syiah pada zaman kami. Dia orang yang paling terkemuka dalam teologi Syiah (akidah dan mazhab) yang bermetodekan Syiah. Dia orang yang sangat pintar dan bijaksana, saya pribadi pernah bertemu langsung dengan dia, sungguh dia orang yang alim dan berkedudukan mulia (ibid., jld. 2, hlm. 199-200).

Ibnu Imad Hambali, sejarahwan Islam yang terkenal, menuliskan di dalam kitab Syadzarot adz-Dzahab tepatnya ketika dia mencatat kejadian-kejadian tahun empat ratus tiga belas hijriah bahwa Syaikh Mufid meninggal dunia pada tahun-tahun ini. Dia adalah salah satu ulama Syiah dan bahkan pemimpin mereka, banyak sekali kitab dan karya tulis lainnya yang dia tinggalkan.

Ibnu Abi Thay di dalam Sejarah Mazhab Syiah Imamiyah berkata, “Syaikh Mufid adalah tokoh yang paling terkemuka di antara tokoh-tokoh Syiah dan merupakan juru bicara mereka yang sangat fasih. Dia adalah guru yang sangat menguasai ilmu kalam, fikih, dan jadal. Di pemerintahan Alu Buwaih, seringkali dia berdebat dengan pengikut-pengikut mazhab dan keyakinan yang lain, dan sungguh dia menunjukkan keagungan dan ketegaran yang luar biasa di dalam perdebatan-perdebatannya. Dia orang yang sungguh-sungguh merendah diri dan tunduk, shalat dan puasanya tidak terhitung lagi banyaknya, dia senantiasa mengenakan pakaian yang bersih dan pantas.

Menurut riwayat banyak orang bahwa Adhudud Daulah yang merupakan penguasa Alu Buwaih sering datang untuk bertemu dengannya. Syaikh Mufid hidup selama tujuh puluh enam tahun, sepanjang usianya tersebut dia telah menulis lebih dari dua ratus buku dan skripsi. Dia meninggal dunia pada bulan Ramadan bulan empat ratus tiga belas hijriah, dan sekitar delapan puluh ribu orang yang ikut mengantar jenazahnya”.

Allamah Hilli, yang dia sendiri terhitung sebagai peneliti yang terkenal di dunia Syiah, berkata tentang Syaikh Mufid, “Seluruh ulama kami yang muncul pasca Syaikh Mufid pasti mengambil pelajaran dari ilmunya. Keutamaan dan ilmu dia di bidang fikih, kalam dan hadis sangat populer sehingga tidak bisa diceritakan dengan kata-kata. Dia orang yang paling terpercaya dan paling pintar di antara ulama pada zamannya. Kepemimpinan intelektual dan spiritual kelompok Syiah pada zamannya berakhir pada dia sendiri.” (Mafakhiri Islam, jld. 3, hlm. 243-244, menukil dari Majalis Al-Mukminin, jld. 1, hlm. 463 dan Syadzarat Al-Dzahab, karya Ibnu Imad Hambali, jld. 3, hlm. 200).

Setelah kepergian pemimpin kelompok Syiah ini, bahtera Syiah yang sedang menimpa topan di samudera kegelapan dan kekuasaan Dinasti Abbasiah mencari nahkoda yang mampu untuk menyelamatkan. Akhirnya, nahkoda itu dikendalikan oleh seorang tokoh mulia dari keturunan alawi, yaitu Sayid Murtadha yang dikenal dengan panggilan Alamul Huda. Dia ilmuwan di bidang ilmu kalam, fikih, usuhul fikih, sastra dan puisi, nahwu dan bahasa. Ssejak zaman itu namanya menjadi buah bibir pertemuan-pertemuan intelektual di segala penjuru Irak (Dawwani, Hizarehye Syaikh Thusi, hlm. 11).

Baca juga :   Mirza Syirazi

Ketika itu, meskipun Syaikh Thusi masuk kategori pakar dan pemilik pandangan khusus di bidang ilmu fikih dan hadis akan tetapi setelah menimba ilmu dari guru besar Syaikh Mufid selama dua puluh tiga tahun (413-436 H.) dia duduk di bangku kuliah Sayid Murtadha dan memenuhi timba ilmunya dengan siraman-siraman dari dia. Banyak sekali ulama yang hadir di kuliah Sayid Murtada, dan dia pun memberikan bantuan uang bulanan kepada mereka sesuai dengan tingkat intelektual dan jerih payah mereka dalam melakukan penelitian dan kajian. Dan mengingat potensi dan kesiapan mental Syaikh Thusi dalam kajian-kajian ilmiah serta kemampuan dia untuk menangkap dan menganalisa pendapat maka dalam waktu yang singkat dia mendapatkan perhatian khusus dari Sayid Murtada dan memperoleh saham bantuan uang paling besar darinya, yaitu sekitar 12 dinar (Agha Buzurg Tehrani, Muqaddimah Al-Tibyan, jld. 1, huruf jim).

Secara intelektual, Syaikh Thusi tidak perlu belajar dari Sayid Murtada di bidang-bidang ilmu seperti fikih, hadis, dan rijah, karena dia sendiri adalah pakar, akan tetapi di bidang ilmu kalam, tafsir, bahasa dan secara umum di bidang ilmu-ilmu kesusasteraan dia banyak mengambil pelajaran dari Sayid Murtada. Dalam periode ini, Syaikh Thusi selain menambah data-data intelektual dari berbagai bidang dia juga mulai mengarang buku-buku di bidang ilmu-ilmu Islam. Buku-buku yang berhasil ditulis pada masa kehidupan Sayid Murtadha adalah Tahdzib, Istibshor, Nihayah, al-Mufshoh fi al-Ummah, rijal, bagian dari Fihrist, dan yang lebih penting adalah ringkasan sekaligus penyusunan ulang kitab as-Syafi karya Sayid Murtadha.

Sampai pada saat itu, tidak ada buku yang berharga seperti buku ringkasan kitab as-Syafi tersebut yang membahas tema imamah, dan Syaikh Thusi menuliskannya pada tahun empat ratus tiga puluh tiga hijriah, yakni empat tahun sebelum Sayid Murtadha meninggal dunia. Perlu juga untuk diketahui bahwa Syakh Thusi menulis buku-buku yang tersebut di atas lebih karena permohonan dari para fakih dan ulama besar pada zaman itu seperti Qadhi bin Barraj dan lain-lain (Dawwani, Hizarehye Syaikh Thusi, hlm. 54).

Menurut banyak sekali dari para peneliti, Syaikh Thusi adalah orang yang telah membukukan anggaran dasar mazhab Syiah, budaya dan peradaban Islam. Allamah Hilli berkata, “Syaikh Thusi adalah penghulu para ulama Syiah dan pemimpin kelompok Syiah … dia pemilik konsep di berbagai bidang ilmu hadis, rijal, fikih, ushul fikih, kalam dan sastra. Semua ketuamaan dia miliki dan di setiap bidang ilmu Islam dia telah menulis buku, dan dialah orang yang telah mengkalisifikasi akidah Syiah –mulai dari prinsip-prinsip dan cabang-cabangnya– serta melakukan perbaikan di dalamnya” (Allamah Hilli, Khulashah Al-Aqwal, hlm. 148).

Selama hidupnya, Syaikh Thusi juga pernah belajar dari guru-guru seperti Ibnu Ghadha’iri, Ibnu Syadzan sangat teolog, Ibnu Haskah Qumi, Hasan bin Abi Muhammad Tal’akbari, Ibnu Busyran Ma’dil, Abu Manshur Syukri, Ahmad bin Ibrahim Qazwaini, Ibnu Fahham Samiri, Abu Husein Shaffar, Ibnu Abi Jayyid, Ibnu Hasyir dan guru-guru besar yang lain (Agha Buzurg Tehrani, Muqaddimah Al-Tibyan, jld. 1).

Pada tanggal dua puluh lima bulan Rabi’ul Awal tahun empat ratus tiga puluh enam hijriah ruh Sayid Murtadha melepas ketergantungan membuminya dan meninggalkan dunia setelah delapan puluh tahun hidup penuh bakti di sana (Ahmad bin Abbas Najjasyi, Rijal Al-Najjasyi, hlm. 271). Setelah itu, Syaikh Thusi mengemban tugas kepemimpinan mazhab Syiah selama dua belas tahun di Baghdad. Jangkauan pandang dia yang sangat jauh ke depan telah membuka lembaran-lembaran emas sejarah Islam dan khususnya Syiah dan menampilkannya secara luar biasa.

Betapa banyak pada periode itu, para peneliti dan fakih yang mendatangi rumah Syaikh Thusi dari berbagai penjuru dunia Islam untuk menimba ilmu dan menemukan jawaban atas problem intelektual mereka sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing. Sejarah mencatat ada sekitar tiga ratus pelajar mujtahid –yakni, pelajar yang sampai tingkat tinggi ijtihad– Syiah yang secara rutin duduk di bangku kuliah dia, bahkan tidak terhitung jumlah ulama Ahli Sunnah yang mendapatkan anugerah pencerahan dan penyegaran dia (Agha Buzurg Tehrani, Muqddimah Al-Tibyan, jld. 1).

Ishaq bin Babuwaih Qumi, Abu Shalah Halabi, Abu Ali Thusi –putra Syaikh–, Sa’duddin bin Barraj, Syahrasyub Sarawi Mazandarani, Abduljabbar bin Abdullah Muqri Razi, Muhammad bin Hasan Fattal, Karajki, Husain bin Fatah Jurjani, Ja’far bin Ali Husaini, Abusshalbat Muhammad bin Abdulqadir, Nasir bin Ridha Alawi, Ghazi bin Ahmad Samani dan puluhan ulama lainnya adalah murid-murid Syaikh Thusi yang menonjol (ibid.).

Baca juga :   Ayatullah Bahjat

Pada tahun empat ratus empat puluh tujuh hijriah, Thagar Biek Saljuki dan pasukan bersenjatanya menyerang kota Baghdad dan memorakporandakan tempat-tempat pemukiman masyarakat Syiah di sana, di samping menumpahkan darah orang-orang tak berdosa dan tak berpelindungan mereka juga membakar perpustakaan Abu Nashr Syapur bin Ardasyir yang sangat besar, bahkan mereka membakar puluhan al-Qur’an yang sangat berharga di perpustakaan itu (Ibnu Atsir, Al-Kamil fi Al-Tarikh, jld. 6, hlm. 21).

Di tengah pendudukan dan penjajahan yang berlanjut sampai tahun empat ratus lima puluh satu hijriah ini, perpustakaan pribadi Syaikh Thusi dan tulisan-tulisan tangan dia berulang kali menjadi sasaran api yang mereka mainkan di Baghdad sampai hangus terbakar. Tepatnya pada bulan Safar tahun empat ratus empat puluh sembilan hijriah mereka menyerang rumah Syaikh Thusi dan mereka mengusung seluruh barang dan peralatan di rumahnya sampai ke alun-alun kota lalu mereka membakarnya (Khairuddin Zarkali, Al-A’lam, jld. 6, hlm. 84).

Kejadian pahit ini mendorong dia untuk berhijrah lagi ke tempat lain agar dapat menjaga peninggalan kultural dan juga menyelamatkan ulama Syiah, akhirnya dia berhijrah ke Najaf. Kejadian-kejadian abad kelima hijriah. Pada tahun-tahun pertengahan abad kelima hijriah telah terjadi berbagai tragedi berdarah yang sangat menyedihkan, kejadian-kejadian itu secara terperinci telah dicatat baik oleh buku-buku sejarah Syiah maupun Ahli Sunnah (sebagai contoh, lih. Ibnu Atsir, al-Kamil fi Al-Tarikh; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa Al-Nihayah).

Hijrah ke Muara Rindu

Najaf telah mengalami banyak perubahan pada masa Kesultanan Dailami seperti Muizuddaulah, Adhududdaulah dan kementerian beberapa tokoh Syiah dari kalangan mereka. Mereka mewakafkan barang-barang berharga untuk pemakaman Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Para sultan itu sendiri sering datang untuk berziarah ke pemakaman suci beliau dan jenazah mereka pun dikubur di salah satu ruangan di sana sesuai dengan wasiat yang mereka tinggalkan. Namun demikian, pada saat kedatangan Syaikh Thusi ke Najaf (448 H.), daerah ini tidak lagi gemerlap seperti pada masa Alu Buwaih, tidak lagi ramai pendatang seperti dulu, melainkan fanatisme yang bodoh dan mematikan telah memadati semua daerah dan rasa ketakutan mencekam seluruh penjuru Irak (Hizorehye Syaikh Thusi, jld. 1, hlm. 19 dan 20).

Namun dari satu sisi, ada orang-orang arab Syiah dan pemberani yang hidup di daerah-daerah pinggiran yang senantiasa berperan sebagai benteng baja yang melindungi pemakaman suci Amirul Mukminin a.s. (Yadnamehye Syaikh Thusi, jld. 3, hlm. 38). Itulah sebabnya bagi orang-orang Syiah Najaf adalah kawasan yang aman, dan tempat pilihan Syaikh Thusi untuk berhijrah menjadi bukti keamanan relatif kawasan itu dibandingkan dengan kawasan-kawasan yang lain di Irak.

Kedatangan Syaikh Thusi ke kawasan suci Najaf membuat kawasan itu lebih hidup dan semarak lagi. Tidak mengherankan karena yang datang adalah orang mulia yang berjiwa lembut selembut embun dan berpikiran dinamis bagaikan samudera serta bertekad kuat seperti baja. Dia datang dengan membawa kebun bunga-bunga indah dan wangi demi berbakti kepada tuannya Ali bin Abi Thalib as. dan menyemarakkan ideologi beliau. Sungguh dia telah berhijrah ke surga Allah swt. di muka bumi, dan tidak lama setelah itu Najaf menjadi kiblat harapan dan cita-cita semua pecinta ilmu dan makrifat. Dia menjamu tamu-tamu Amirul Mukminin as. yang haus ilmu dan makrifat dengan jamuan ilmu dan makrifat alawi sampai puas.

Universitas Perdana Syiah

Setelah kehilangan rumah, perpustakaan dan tulisan-tulisan tangannya di Baghdad, Syaikh Thusi menjalani sisa umurnya dengan usaha yang lebih giat dan lebih berat dari sebelumnya di Najaf. Dia beraktifitas dalam mengajar dan meneliti ilmu-ilmu islami serta merekrut ulama ke Najaf.

Najaf pada waktu itu masih belum terhitung sebagai kota, bahkan masih belum terhitung sebagai desa, tapi di saat yang sama banyak pengunjung yang datang karena pemakaman Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. ada di sana. Syaikh Thusi membangun pusat pendidikan yang baru di sana, dialah orang pertama yang merintis meletakkan pondasi pusat pendidikan yang luar biasa besar sehingga setelah seribu tahun berlalu pusat pendidikan itu masih tetap menjaga kesejatian intelektualnya dan senantiasa memenuhi kebutuhan intelektual dan kultural pusat-pusat pendidikan Islam lainnya (Agha Buzurg Tehrani, Muqaddimah Al-Tibyan, jld. 1).

Sungguh pantas jika Syaikh Thusi dinyatakan sebagai pendiri universitas Syiah yang pertama dan kepiawaian sekaligus pembaharuannya yang luar biasa di berbagai bidang ilmu senantiasa layak untuk dikenang.

Baca juga :   Muhammad Taqi Misbah Yazdi

Pusaka Berharga

Bilangan karya-karya tulis Syaikh Thusi mencapai lima puluh satu jilid. Terkadang satu dari lima puluh satu jilid itu sendiri bisa mencapai puluhan jilid yang tebal. Tema-tema karya tulis beliau bermacam-macam, seperti ilmu tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, kalam (teologi dan mazhab), rijal dan fihrist (daftar nama dan pustaka), sejarah dan kronologi kematian atau kesyahidan, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, dan doa.

Karya Syaikh Thusi di bidang tafsir di antaranya adalah Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur’an (10 jilid), Al-Masa’il Al-Demisyqiyah fi Tafsir al-Qur’an, dan Al-Masa’il Al-Rajiyyah fi Tafsir Ayat min Al-Qur’an.

Al-Tahdzib dan Al-Istibshar adalah di antara karya Syaikh Thusi di bidang ilmu hadis, dua kitab itu merupakan dua dari empat kitab induk hadis Syiah. Dua kitab lain adalah Al-Kafi karya Syaikh Kulaini dan Man la Yahdhuruhu al-Faqih karya Syaikh Shaduq.

Di antara karya-karya penting dia di bidang ilmu fikih adalah Al-Nihayah, al-Mabsuth, Al-Khilaf, Al-Ja’lu wa Al-Uqud fi Al-Ibadat, Al-Ijaz fi Al-Fara’idh, Manasik Al-Hajj fi Mujarrad Al-Amal, Al-Masa’il Al-Halabiyyah fi Al-Fiqh, Al-Masa’il Al-Junbala’iyah fi Al-Fiqh, Al-Masa’il Al-Ha’iriyah fi Al-Fiqh, Musa’alat fi Wujub Al-Jizyah ‘ala Al-Yahud, Musa’ala fi Tahrim Al-Fuqqo’, Musa’alat fi Mawaqiti Al-Shalah.

Uddat Al-Ushul, Musa’alat fi Al-Amal bi Khabar Al-Wahid, Bayan Hujjiyyat Al-Akhbar adalah sebagian dari karya dia di bidang ilmu ushul fikih.

Adapun karya-karya dia di bidang ilmu kalam adalah Talkhish Al-Syafi (ringkasan atas karya Sayid Murtadha tentang imamah), Tamhid Al-Ushul (penjabaran karya Sayid Murtadha), Al-Iqthishad atau Al-Hadi ila Thariq Al-Rasyad, Al-Mufasshah fi Al-Imamah, Muqaddimatun fi Al-Madkhal ila Ilm Al-Kalam, Riyadhat Al-Uqul, Ma Yu’allau wa ma la Yu’alla, Ma la Yasma’ Al-Mukallafu …, Syarh Al-Syarh fi Al-Ushul, Ushul Al-Aqa’id Al-Ghaibah, Al-Firaq baina Al-Nabi wa Al-Imam, Musa’alat fi Al-Hiwal, Al-Masa’il Al-Raziyyah, Al-Naqdh ‘ala Ibni Syadzan fi Musa’alat Al-Ghar, Masa’il Ushul Al-Din, dan Al-Kafi.

Di bidang ilmu rijal dan fihrist, Syaikh Thusi telah meninggal beberapa karya penting seperti: Kitab al-Abwab (lebih sering dikenal dengan sebutan Rijal Syaikh Thusi), Ikhtiyar Ma’rifat Al-Rijal (lebih dikenal dengan sebutan Rijal Kasyi, karena di dalam kitab ini dia mengoreksi karya tulis Kasyi dan menyusunnya dengan lebih baik), Al-Fihrist (memperkenalkan para penulis terkenal Syiah sekaligus karya-karya mereka).

Ia juga menulis dua karya di bidang sejarah, yaitu Maqtal Al-Husain dan Mukhtashar Akhbar Mukhtar bin Abi Ubaidah Al-Tsaqafi.

Adapun buku jawaban atas pertanyaan dia di antaranya adalah Masa’il Al-Ilyasiyyah, Al-Masa’il Al-Faimah, Masa’il Ibnu Barraj, dan Ta’liq ma la Yasa’.

Lalu di bidang doa, karya-karya Syaikh Thusi adalah Misbah Al-Mutahajjid wa Silah Al-Muta’abbid, Mukhtashar Al-Mishbah, Mutkhtashar fi ‘Amali Yaumin wa Lailah, Uns Al-Wahid, Hidayat Al-Mustarsyid dan Bashirat Al-Muta’abbid (Al-Dzari’ah, jld. 5, hlm. 220; jld. 20, hlm. 348; Syaikh Thusi, Al-Fihrist, hlm. 86, Rijal Al-Najjasyi, hlm. 403, Hizarehye Syaikh Thusi, jld. 1, hlm. 220).

Murid-Murid
Syaikh Thusi bukan hanya menulis karya ilmiah yang berharga melainkan dia juga telah berhasil mendidik ulama-ulama besar dengan kuliah-kuliahnya. Menurut pernyataan sebagian dari ulama Syiah, murid-murid Syaikh Thusi lebih dari tiga ratus ulama yang mencapai tingkat tinggi intelektual ijtihad (Dawwani, Hizarehye Syaikh Thusi, hlm. 23), dan sebagaimana dicatat oleh berbagai referensi tidak semua murid-muridnya bermazhab Syiah melainkan banyak juga dari kalangan ulama Ahli Sunnah yang belajar dari dia.

Wafat
Bulan Muharram tahun empat ratus enam puluh hijriah juga seperti bulan-bulan Muharram sebelumnya penuh dengan kesedihan. Setiap hari dan malamnya diwarnai dengan duka cita Husaini. Di salah satu penjuru Najaf, ada hati yang patah dan penuh dengan rasa penyesalan dan duka, hati itu milik seorang tua mulia dan arif yang sedang melantunkan lagu akhir hidupnya sehingga pada akhirnya lagu itu membebaskan nyawa tubuh suci dan lemah orang tua itu ke dalam perjalanan samawi dan ruhani.

Malam dua puluh dua bulan Muharram tahun empat ratus enam puluh hijriah tiba, para malaikat yang menanti kedatangan mentari langit kerinduan dan makrifat selama bertahun-tahun akhirnya di malam dua puluh dua yang menyedihkan ini dapat menjemput kedatangannya dan mengantarkan ruh suci penghulu orang-orang Syiah ini ke hadirat Allah swt. Iya, manusia agung ini setelah menjalani hidup penuh berkah, kebahagiaan dan rindu Tuhan selama tujuh puluh enam tahun akhirnya menemui Kekasih-nya.

Dia dimakamkan di rumah tempat bermukimnya saat di Najaf. Lalu, sesuai dengan wasiat dia sendiri, rumah itu dirubah menjadi masjid dan sekarang terletak di sebelah utara ruang pemakaman suci Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as., dan masjid itu sekarang dikenal dengan nama Masjid Thusi (Agha Buzurg Tehrani, Muqaddimah Tafsir al-Tibyan).

(Visited 5 times, 1 visits today)

One Comment

  1. Pingback: Sejarah Singkat Ilmu Hadis Syiah | Studi Syiah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*