usul-fikihApa yang dibahas dalam Ushul Fikih? Pertanyaan ini memicu perselisihan pendapat di kalangan ulama. Berikut beberapa di antaranya:

Ushul Fikih membahas empat dalil atau empat sumber penyimpulan hukum syar’i, yaitu Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan akal, dari segi mereka sebagai dalil dan sumber penyimpulan hukum. Penjelasan subjek utama Ushul Fikih ini paling populer di kalangan ulama. (Mirza Abul Qasim ibn Al-Husain, Qawanin Al-Ushul, jld. 1, hlm. 10).

Sebagian ulama Ushul Fikih menerangkan bahwa empat dalil itu sudah merupakan subjek utama Ushul Fikih, tanpa catatan “dari segi mereka sebagai dalil dan sumber penyimpulan”. (Muhammad Husain Isfahani Ha’iri, Al-Fushul, hlm. 10).

Ada pula ulama seperti: Ayatullah Burujerdi, yang mengidentikkan subjek utama Ushul Fikih dengan hujjah (bukti) dalam fikih. Artinya, dalam ilmu ini dibahas sifat-sifat bukti dalam fikih (Husain ibn Ali Thabathaba’i Burujerdi, Nihayat Al-Ushul, jld. 1, hlm. 12).

Dalam sebuah identifikasi, subjek Ushul Fikih ialah sesuatu yang umum dimana salah satu bentuknya ialah empat dalil tersebut, dan di samping itu ada bentuk-bentuk lainnya. Penjelasan ini dikuatkan oleh Akhund Khurasani dan sebagian ulama mutakhir (Muhammad Kadhim Akhund Khurasani, Kifayat Al-Ushul, jld. 1, hlm. 22).

Sementara itu, Syaikh Mudhaffar menulis, “Ushul Fikih tidak membahas subjek spesifik, akan tetapi membahas hal-hal yang terlibat dalam upaya penyimpulan hukum syar’i. Oleh karena itu, apa saja yang layak menjadi dalil untuk menyimpulkan hukum syar’i akan menjadi subjek utama Ushul Fikih” (Muhammad Ridha Mudhaffar, Ushul Al-Fiqh, jld. 1, hlm. 22).

Tampaknya, penjelasan paling singkat dan padat dikemukakan oleh Muhammada baqir Shadr. Pada hematnya, subjek utama Ushul fikih ialah anasir yang sama terlibat dalam penyimpulan hukum syar’i (Muhammad Baqir Shadr, Durus fi ‘Ilm Al-Ushul, hlm. 39).

Baca juga :   Falsafatuna: Filsafat Islam terhadap Filsafat Barat

Dengan kata lain, ilmu Ushul Fikih ialah disiplin ilmu yang membahas unsur-unsur yang sama digunakan dalam proses penyimpulan hukum syar’i. Misalnya, zhuhur (makna lahiriah yang pertama kali tersirat di benak) merupakan unsur yang terlibat dalam setiap upaya penyimpulan hukum syar’i dari sumber-sumbernya. Maka Ushul Fikih akan membahas apakah dzuhur ini hujjah dan bisa dijadikan pijakan dalam penyimpulan hukum ataukah tidak. Demikian juga, misalnya, khabar wahid (hadis yang diriwayatkan oleh satu perawi), qath’ (keyakinan), dan lain-lain sebagaimana akan dikemukakan dalam sistematika Ushul Fikih nanti.

(Visited 6 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*