sahife-sajjadiehShahīfah Sajjādiyyah diambil dari kumpulan doa-doa Imam Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib as., cucu Rasulullah Saw. dan anak dari Sayyidina Husain. Doa dari seorang wali Allah yang dikenal dengan sebutan al-Sajjād lantaran begitu seringnya sujud ini, bukan saja menyampaikan keperluan kita dengan bahasa yang indah, tetapi juga membimbing kita ke dekat-Nya. Doa-doa di sini akan membersihkan batin Anda dari berbagai penyakit hati, menyobekkan tirai-tirai yang menghalangi Anda melihat keindahan Tuhan, dan memberikan kepada Anda kelezatan bermunajat.

Doa-doa ini menunjukkan ketinggian jiwa Imam Sajjad dan merupakan sebuah pelajaran tentang bagaimana mengagungkan dan menyucikan Allah, menghadapi ujian dan syukur kepada Tuhan, menghinakan dan merendahkan diri di hadapan al-Haqq, mengakui dosa dan kesalahan dalam tataran penghambaan, kebergantungan, kerinduan, harapan akan kelembutan dan kasih sayang yang abadi, dan kebaikan Ilahi yang tak pernah terhenti. Selain itu, doa-doa ini merupakan penunjuk jalan dalam memohon kepada Allah akan taufik, hidayah, dan segala bentuk kebaikan, kebahagiaan, keselamatan dari azab dan murka-Nya serta dari segala keburukan dan kerugian; dan juga merupakan jalan menuju perlindungan Tuhan dari tipu daya setan dan hawa nafsu.

Shahīfah Sajjādiyyah mengadung akidah, akhlak, hukum, dan nasihat yang diramu dengan balāghah dan sastra yang tinggi. Inilah yang menyebabkan orang-orang alim, orang-orang bijak, orang-orang yang berhati lembut, para sastrawan, dan para pengamat tertarik padanya.

Shahīfah Sajjādiyyah dikenal juga dengan Shahīfah Kāmilah. Ibn Syahr Asyub dalam Ma‘ālim al-‘Ulamā’ memperkenalkanya dengan nama Zabûr Āli Muhammad Saw wa Injīl Ahlulbait as, yang berarti zabur keluarga Muhammad Saw dan injil Ahlulbait as. Ia juga biasa disebut Ukht al-Qur’ān, yakni saudara perempuan al-Quran.

Baca juga :   Man Lā Yahdhuruhu al-Faqīh

Alasan penamaannya dengan Shahīfah Kāmilah adalah karena terdapat naskah yang lebih kecil dari naskah ini di tangan Zaid. Maka naskah ini yang ada di tangan orang-orang Syi‘ah Imamiyyah, jika dibandingkan dengan naskah tersebut, adalah lebih besar dan lebih sempurna. Adapaun alasan penamaannya dengan Zabûr dan Injīl adalah karena Zabur merupakan kitab Nabi Dawud as. yang sebagian besar kandungannya adalah doa dan munajat. Maka, karena Shahīfah Sajjādiyyah juga adalah kitab doa dan munajat, ia pun disebut Zabûr Āli Muhammad Saw.

Dalam pengertian yang sama pula, Wiliam Chittick memberi judul terjemahannya terhadap Shahīfah Sajjādiyyah dengan The Psalm of Islam atau Zabur-nya Islam. Sedangkan Injil adalah kitab Nabi Isa as. yang memuat nasihat-nasihat dan petunjuk-petunjuk Nabi Isa as. Maka, karena Shahīfah Sajjādiyyah juga memuat nasihat-nasihat yang sangat berpengaruh di antara doa-doa, ia pun disebut Injīl Ahlulbait as.

Dalam kondisinya sekarang, Shahīfah Sajjādiyyah memuat 54 doa. Padahal, dalam mukadimah Shahīfah Sajjādiyyah disebutkan bahwa doa-doa yang terdapat di dalamnya berjumlah 75 doa. Perawinya telah menghilangkan sebanyak 11 doa darinya, dan hanya 64 saja yang masih tersisa pada perawinya saat itu. Kemudian 10 doa lagi dihilangkan oleh perawi-perawi berikutnya. Namun, dalam sanad Shahīfah Sajjādiyyah lainnya yang diriwayatkan dari Muthahhari tidak disebutkan adanya 75 bab doa dan hilangnya 15 bab doa, tetapi disebutkan 54 bab doa secara terperinci.

(Visited 3 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*