ilustrasi-_110527201103-607Semasa dengan dinamika di Barat (pada abad 6 M), di belahan lain dunia terjadi peristiwa sejarah paling besar: Jazirah Arab menyaksikan kelahiran, perjuangan, dan hijrah Nabi Besar Islam, semoga Allah mencurahkan salawat dan salam kepada beliau dan keluarganya. Beliau mengumandangkan pesan petunjuk Ilahi kepada telinga kesadaran alam.

Sebagai langkah awal, beliau menyeru manusia untuk menuntut pengetahuan dan menghargai setinggi-tingginya kegiatan membaca, menulis, dan belajar. Ini dapat diamati dari ayat pertama yang diturunkan Allah kepada beliau, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta. Yang mengajari manusia dengan pena, ” (QS. Al-‘Alaq [96] : 1-4).

Nabi SAW membangun peradaban paling agung dan kebudayaan paling tinggi. Beliau mendorong kuat umatnya agar memperoleh ilmu dan kebijaksanaan dari buaian ibu hingga liang lahad (min al-mahd ilā al-lahd), dari daerah bumi terdekat hingga negeri terjauh (sekalipun ke negeri Cina – wa law bi al-shīn), dan dengan ongkos berapa pun (meskipun dengan mengorbankan darah dan menyelami samudera – wa law bi safk al-muhaj wa khawdh al-lujaj).

Benih kebudayaan Islam yang disemai oleh tangan tangguh utusan Allah tumbuh rindang dan berbuah lebat berkat pancaran wahyu Ilahi dan persentuhan dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Islam menyerap bahan mentah pemikiran manusia sesuai ukuran-ukuran sahih Ilahi dan mengolah bahan-bahan mentah itu dalam mesin kritik membangun agar menjadi unsur-unsur berguna. Dan dalam waktu singkat, Islam telah berimbas pada seluruh kebudayaan dunia.

Berkat seruan Nabi Saw dan para penerusnya yang suci, kaum Muslimin mulai mempelajari beragam bidang pengetahuan dan menerjemahkan warisan ilmu Yunani, Roma, dan Persia ke dalam bahasa Arab. Mereka menyerap unsur-unsur yang berguna dan menyempurnakannya dengan hasil-hasil penelitian mereka sendiri. Dan di sebagian besar bidang, mereka berhasil menyumbangkan pelbagai temuan seperti: aljabar, trigonometri, astronomi, ilmu perspektif, fisika, dan kimia.

Baca juga :   Argumentasi atas Hudûts Alam

Faktor penting lain dalam perkembangan kebudayaan Islam adalah politik. Rezim Umayah dan Abbasiyah yang secara tidak sah menduduki kursi pemerintahan Islam merasakan kebutuhan yang sangat mendesak akan basis sosial dalam masyarakat Islam. Sebaliknya, musuh kedua rezim ini, yakni ahl al-bayt (keluarga) Nabi Saw, semoga segenap keberkahan Allah tercurah bagi mereka, sebagai wali sah seluruh kaum Muslimin, merupakan sumber ilmu pengetahuan dan pemegang kunci khazanah wahyu Ilahi.

Rezim berkuasa tidak punya cara untuk menarik orang berpihak pada mereka kecuali dengan mengancam dan menyuap. Maka dari itu, mereka berupaya memegahkan rezim mereka dengan mengumpulkan para sarjana dan pakar serta membekali mereka dengan aneka ilmu Yunani, Romawi dan Persia agar mereka dapat mengimbangi pengaruh dan posisi pengetahuan ahl al-bayt.

Dengan cara ini, pelbagai pemikiran filsafat dan bermacam jenis ilmu pengetahuan dan seni, dengan beragam motivasi lawan dan kawan, menyerbu dunia Islam. Lalu, kaum Muslimin pun mulai meneliti, mengadopsi, dan mengkritisi arus pengetahuan asing ini. Tokoh-tokoh cemerlang bermunculan di bidang-bidang sains dan filsafat; masing-masing mereka tak henti-hentinya berjerih-payah hingga melahirkan berbagai bidang ilmu dan semakin memperkaya peradaban Islam.

Di antara tokoh-tokoh cemerlang itu adalah para pakar teologi dan akidah Islam. Mereka mengkaji dan menyanggah masalah-masalah filsafat ketuhanan dari pelbagai sudut pandang, kendati upaya kritik dari sebagian mereka kerap berlebihan. Namun demikian, semua upaya mengkritik, mencari-cari kesalahan, mengajukan pertanyaan dan sanggahan memaksa sebagian besar pemikir dan filosof Islam lainnya untuk bekerja lebih keras dan, tentu saja, berdampak pada semakin kayanya khazanah pemikiran intelektual dan filosofis.

Perkembangan Filsafat di Era Islam

Seiring dengan meluasnya wilayah pemerintahan Islam dan kecenderungan pelbagai kalangan kepada agama kehidupan ini, banyak pusat penelitian dunia masuk dalam wilayah Islam, sehingga berlangsung ekstensif interaksi pemikiran di antara para sarjana dan pertukaran karya ilmiah di antara pelbagai perpustakaan dunia dalam skala besar dan penerjemahan dari beragam bahasa (India, Persia, Yunani, Latin, Suryani, Ibrani, dan sebagainya) ke dalam bahasa Arab yang, secara de facto, telah menjadi bahasa internasional umat Islam. Inilah yang lantas mempercepat laju perkembangan filsafat, beragam sains dan bidang-bidang seni. Sekian banyak buku dari para filosof Yunani dan Aleksandria serta dari pusat-pusat bereputasi ilmu pengetahuan dialihkan ke bahasa Arab.

Baca juga :   Perempuan dan Kepemimpinan

Pada mulanya, ketiadaan bahasa bersama, ketakseragaman peristilahan teknis para penerjemah, dan inkoherensi antara asas-asas filsafat Timur dan Barat telah menyukarkan tugas pengajaran filsafat dan mempersulit agenda-agenda penelitian serta pemilihan asas-asas filsafat ini.

Tetapi, tidak terlalu lama keadaan itu berlangsung hingga muncullah jenius-jenius seperti: Abu Nashr Al-Farabi (872-950) dan Ibn Sina (980-1037), yang mampu menyerap keseluruhan pemikiran filsafat zaman itu dengan kerja keras dan ketekunan tinggi. Dengan bakat alami, mereka yang tercerahkan oleh sinar wahyu dan penjelasan para Imam lalu melaksanakan penelitian dan pemilahan pemikiran filsafat, kemudian mempresentasikan sebuah sistem filsafat yang utuh.

Selain memuat gagasan-gagasan Plato, Aristoteles, pemikiran Neo-Platonik dari Aleksandria, dan gagasan-gagasan para mistikus (‘urafā’) Timur, sistem ini juga memuat pemikiran-pemikiran baru dan, karena itu, berhasil menonjolkan keunggulannya di atas semua sistem filsafat Timur maupun Barat. Meskipun demikian, bagian terbesar dari sistem ini berasal dari Aristoteles, sehingga warna Aristotelian dan peripatetismenya pun cukup dominan.

Selanjutnya, sistem filsafat ini bergilir hingga jadi sorotan kritis para pemikir sebesar Muhammad Ghazali (1058-1111), Abu Al-Barakat Baghdadi (1080-1164) dan Fakhr Al-Din Razi (1149-1209). Di sisi lain, dengan memanfaatkan karya-karya para filosof Iran Kuno dan membandingkannya dengan karya-karya Plato, kalangan Stoik dan Neo-Platonik, Syihab Al-Din Suhrawardi (1155-1191) mendirikan aliran filsafat baru yang dikenal dengan nama Hikmat Al-Isyrāq ‘Kebijaksanaan Pencerahan’ (Iluminationism), yang warna Platoniknya lebih pekat lagi. Dengan demikian, terbuka sebuah pangkalan baru bagi pergumulan, perkembangan dan pematangan ide-ide filosofis.

Berabad-abad kemudian, filosof-filosof besar seperti: Khwajeh Nashiruddin Al-Thusi (1201-1274), Muhaqqiq Al-Dawwani (1427-1502), Sayyid Shadr Al-Din Al-Dasytaki (w. 1497), Syaikh Baha’i (1547-1621) dan Mir Muhammad Damad (w. 1631), berhasil memperkaya filsafat Islam dengan curahan gagasan cemerlang mereka. Sampai tiba peran Shadruddin Al-Syirazi (1572-1640), atau Mulla Sadra, memperkenalkan sistem filsafat baru dan unik yang, dengan kejeniusan dan inovasinya, menggabungkan elemen-elemen komplementer dalam filsafat masyya’iyah (peripatetisme), filsafat isyraqiyah (pencerahan) dan penyingkapan-penyingkapan hati (‘irfānī) arif-sufi, di samping beragam ide yang mendalam serta gagasan yang bernilai. Ia menyebut sistemnya dengan Al-Hikmat Al-Muta‘āliyah (Kebijaksanaan Utama).

Baca juga :   Tujuan dan Fungsi Filsafat

Sumber: Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Amuzeh-e Falsafeh, Pelajaran 1.

(Visited 25 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*