kitabPeriode Keempat Periode keempat dalam sejarah perhadisan Syiah ini adalah periode penyempurnaan dan sistematisasi. Pada periode ini, terdapat sekelompok ahli hadis yang berusaha mengumpulkan hadis-hadis serta riwayat Syiah yang tidak ditemukan dalam Al-Kutub Al-Arba’ah dan menyusunnya dalam bentuk kitab. Kitab-kitab yang disusun berdasarkan pola penulisan ini di antaranya adalah Bihar Al-Anwar, Wasa’il Al-Syi’ah, Mustadrak Al-Wasail, dan Jami’ Ahadits Al-Syi’ah.

Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi, atau lebih dikenal Allamah Al-Majlisi atau Al-Majlisi Kedua (w. 1111 H) lahir pada tahun 1037 di kota Isfahan . Setelah mengenyam pendidkan serta pengajaran dari beberapa guru seperti: Al-Majlisi Pertama (ayahnya) dan Mulla Shaleh Mazandarani, ia mulai menekuni secara mendalam ilmu hadis. Di samping aktifitas-aktifitas kemasyarakatannya, ia berhasil mempersembahkan sekitar 160 buah karya, 86 tema dalam bahasa Persia dan sisanya ditulis dalam bahasa Arab. Kitab Bihar Al-Anwar dan syarah beliau atas Al-Kafi, yaitu Mir’at Al-‘Uqul, merupakan dua buah karya monumental beliau dalam bidang perhadisan. Bihar Al-Anwar Al-Jami’ah li Durar Akhbar Al-A’immah Al-Athhar a.s. merupakan kitab hadis Syiah yang paling komprehensif dari pertama sampai abad sekarang.

Kitab yang sekarang ini dicetak dalam 110 jilid itu mengandung ribuan riwayat dalam berbagai bidang pengetahuan seperti: akidah, akhlak, tafsir, sejarah dan fikih. Allamah Al-Majlisi telah dengan tekun dan kerja keras berusaha mengumpulkan sumber-sumber yang dijadikan referensi Bihar Al-Anwar. Dengan membentuk sebuah kelompok kerja ilmiah dan juga atas kerjasama dengan para muridnya, Bihar Al-Anwar dapat diselesaikan dalam jangka waktu 40 tahun.

Di antara motivasi Allamah Al-Majlisi dalam menyusun kitab ini adalah adanya kekhawatiran terhadap hilangnya peninggalan-peninggalan dalam bidang riwayat dan juga munculnya kecenderungan masyarakat terhadap ilmu-ilmu aqli (rasional) serta kurang begitu peduli lagi terhadap riwayat dan hadis. Komprehensif, menjelaskan maksud riwayat, perhatian terhadap perbedaan teks dan tulisan-tulisan, refleksi riwayat-riwayat ahlusunnah, perhatian terhadap adanya konflik dan selisih pada riwayat-riwayat dan lain sebagainya merupakan ciri khas Bihar Al-Anwar. Muhammad bin Hasan, yang lebih dikenal dengan nama Syaikh Hurr Al-Amili, lahir pada tahun 1033 H di Jabal Amil, Lebanon. Setelah 40 tahun tinggal di kota kelahirannya dan menuntut ilmu, ia bermaksud melakukan perjalanan untuk berziarah ke pusara suci Imam Al-Ridha a.s. di kota suci Masyhad dan tinggal di sana.

Baca juga :   Aktifitas Sosial Perempuan dalam Hadis

Pada tahun 1104 H, ia wafat dan dimakamkan di samping makam mulia Imam Al-Ridha a.s. Selama hidupnya di Masyhad, ia sibuk menyusun berbagai kitab, di antaranya Wasa’il Al-Syi’ah. Jumlah karya yang beliau tinggalkan sekitar 24 buku. Tafshil Wasa’il Al-Syi’ah ila Tahshil Masa’il Al-Syari’ah adalah nama lengkap dari Wasa’il Al-Syi’ah itu merupakan sebuah kitab hadis yang riwayat-riwayatnya diambil dari Al-Kutub Al-Arba’ah. Di dalamnya juga terdapat 70 kitab lain serta mengandung 3585 riwayat dan dicetak serta dipublikasikan dalam 20 jilid.

Di antara kelebihan-kelebihan kitab ini ialah pada bagian penutup kitab ini, penyusun berusaha membahas secara sistematis kajian-kajian penting terkait dengan hadis dan juga ilmu rijal dalam 12 pasal. Mustadrak Al-Wasail wa Mustanbath Al-Masa’il adalah karya Mirza Husain Al-Nuri (w. 1320 H). Kitab hadis ini mencakup sekitar 23514 riwayat dan dalam penyusunannya menggunakan berbagai referensi riwayat-riwayat fikih dan digagas sebagai penyempurna kitab Wasail Al-Syi’ah.

Di antara kelebihan kitab ini adalah pada bagian penutup kitab ini, penulis mencoba menerangkan serta memaparkan secara khusus kajian-kajian penting seperti: pembelaan atas sumber-sumber yang dijadikan bahan referensi dalam kitab ini. Ayatullah Burujurdi (w. 1380 H), salah seorang marja agung Syiah pada periode ini, bersama para muridnya, melihat adanya kekurangan-kekurangan pada kitab Wasail Al-Syi’ah, sehingga ia mencoba serta berhasil menyusun sebuah kitab hadis yang cukup komprehensif dalam beberapa jilid yang diberi nama Jami’ Ahadits Al-Syi’ah. Penyusunan kitab ini terus berlanjut kendati ia sudah wafat.

Di antara ciri khas kitab Jami’ Ahadits Al-Syi’ah adalah menyebutkan ayat-ayat ahkam, menyebutkan secara sempurna seluruh riwayat tanpa ada pemotongan, penjelasan tentang solusi atas riwayat-riwayat yang bertentangan, menjelaskan perbedaan tulisan atau redaksi, pemisahan dan penataan secara sistematis riwayat-riwayat tentang adab-adab dan akhlak, doa-doa serta zikir-zikir, mencantumkan riwayat-riwayat yang sesuai dengan fatwa dan kemudian riwayat-riwayat yang bertentangan atau berselisih dari sisi kandungannya, menentukan tempat kembalinya dhamir (kata ganti) pada tempat-tempat tertentu, dan juga menjelaskan makna dari kata-kata yang dianggap sulit dan rumit.

Baca juga :   Antara Hadis, Sunnah, Riwayat, Kabar dan Asar

Kitab Al-Wafi karya Mulla Muhsin Faidh Al-Kasyani (w. 1091 H) merupakan kitab hadis paling awal dan paling sempurna, dimana seluruh riwayat-riwayat yang ada pada Al-Kutub Al-Arba’ah terdapat di dalam kitab ini dengan konsentrasi untuk menghapus riwayat-riwayat yang disebutkan secara berulang kali dalam Al-Kutub Al-Arba’ah. Kitab ini terdiri dari 14 pasal. Motivasi Al-Kasyani dalam menyusun kitab ini adalah, menurut pandangannya, setiap kitab dari Al-Kutub Al-Arba’ah itu kurang begitu komprehensif dan juga adanya penakwilan yang tidak sesuai atas dua kitab Tahzibain.

Kitab Al-Wafi, selain menghapus riwayat-riwayat yang disebutkan berulang kali dan menyodorkan model baru sebuah kumpulan riwayat, juga mencakup penjelasan-penjelasan yang sangat bermanfaat serta transparan dari penyusun dalam rangka menghilangkan adanya kekaburan pada riwayat-riwayat tersebut. Jamaluddin Hasan bin Zainuddin, putra Syahid Tsani (w. 1011 H), salah seorang ulama dan mujtahid tersohor Syiah pada abad 10 H, memiliki sekitar 12 karya dalam berbagai bidang keilmuan Islam. Ma’alim Al-Din adalah karyanya di bidang hadis yang masih diajarkan di hauzah-hauzah ilmiah.

Dalam usahanya yang sangat berharga itu, ia mencoba membagi serta mengklasifikasikan riwayat-riwayat yang ada pada Al-Kutub Al-Arba’ah ke dalam dua kelompok: kelompok hadis-hadis yang dianggap sahih dan kelompok hadis yang dianggap hasan. Dari usaha ini, ia berhasil menyusun sebuah kitab yang diberi nama Muntaqi Al-Jiman fi Al-Ahadits Al-Shihah wa Al-Hisan. Pada permulaan kitab, dalam kaitannya dengan 12 manfaat, penyusun telah memaparkan kajian serta bahasan yang sangat penting lagi berfaedah.

Namun sangat disayangkan, kitab ini terhenti sampai pada bab Haji saja dan tidak sempat diselesaikan. Perhadisan Syiah pada dua dekade: abad 5 sampai abad 10 dan abad 12 dan 13, telah mengalami kemunduran dan stagnasi. Menjamurnya kajian dalam bidang fikih dan ijtihad menjadi salah satu faktor yang menimbulkan stagnasi perkembangan ilmu hadis pada dekade ini. Gerakan kebangkitan dan pemulihan yang dilakukan kelompok Akhbariyah di bawah pimpinan Muhammad Amin Istarabadi (w. 1280 H) dan pendekatan yang dilakukan terhadap riwayat-riwayat tersebut, dapat menghidupkan kembali serta memberikan ruang gerak kepada ilmu hadis. Dan dengan wafatnya Allamah Al-Majlisi (w. 1111 H) dan munculnya Wahid Bahbahani (w. 1280 H), budaya dan tradisi yang berkembang dalam ilmu hadis Syiah kembali mengalami stagnasi.

Baca juga :   Generasi Tokoh Hadis dan Penyusun Kitab Induk Hadis

Namun, sejak sejak abad 14 sampai sekarang, muncul periode cemerlang dalam ilmu-ilmu hadis. Pada dekade sekarang, yang terjadi adalah munculnya pendekatan terhadap hadis dengan cara yang relatif modern dan baru, dimana poin-poin utamanya itu dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Penelitian mendalam dan kritis atas sejarah hadis. 2. Terbatasnya ruang kajian dan telaah hadis. 3. Kritik dan perbaikan riwayat-riwayat. 4. Gerakan penyusunan kamus-kamus riwayat. 5. Menghidupkan kembali karya-karya ulama terdahulu. 6. Pemanfaatan teknologi software computer dalam penelitian hadis.[RED] Sumber: Ali Nashiri, Talkhish-e Asyna’i ba Ulum-e Hadits, jld. 1, Markaz-e Mudiriyyat, Qom, 1423 H.

(Visited 6 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*