kitabSesuai kandungan riwayat-riwayat shahih dari para maksum a.s., semua riwayat ini harus sesuai dengan Al-Quran. Maka, dasar penilaian sahih dan cacatnya suatu riwayat harus ditimbang dengan Al-Quran, dan setiap riwayat yang bertentangan dengan Al-Quran harus ditolak dan tidak dapat diterima, karena tidak mungkin keluar perkataan dari seorang maksum a.s. yang bertentangan dengan Al-Quran, sehingga setiap perkataan yang bertentangan dengan Al-Quran pasti bukan dari manusia maksum a.s

Ya, memang benar bahwa setiap perkataan dan riwayat yang bertentangan dengan Al-Quran harus ditolak dan tidak boleh diamalkan. Akan tetapi, yang diperbincangkan di sini bahwa makna “pertentangan” itu harus dipahami dan diperhatikan secara benar. Yakni apa dan manakah yang dimaksud dengan “pertentangan” itu?

Jika terdapat tanda-tanda dan qarinah (arahan) umum, lalu ada maksud nyata dari sebagian ayat Al-Quran yang menjelaskan kebalikan dari makna lahiriahnya, maka maksud tersebut, dalam pandangan umum dan akal sehat, tidak dapat disebut sebagai “pertentangan”, juga qarinah itu pun tidak dapat disebut bertentangan dengan Al-Quran. Justru, maksud dan qarinah itu terhitung sebagai penerang dan penjelas hakikat dan dan tujuan hakikinya. Oleh karena itu, jika terdapat riwayat wahid yang muktabar sampai kepada kita, dimana sebagian masalah partikularnya (bukan pokok atau dasar masalah) berbeda dengan universalitas dan lahiriah salah satu dari ayat Al-Quran, maka riwayat yang seperti ini merupakan penjelas dan penafsir ayat tersebut, dan bukan memaksudkan makna universal lahiriah ayat tersebut.

Sekali lagi, perbedaan semacam ini tidak disebut sebagai “pertentangan”. Yang dimaksudkan dengan “pertentangan” ialah jika terdapat hadis wahid bertentangan dengan ayat Al-Quran dimana kedua-duanya muncul dari satu sumber (pembicara), maka pendengar (yang diajak bicara) tidak akan dapat memahami maknanya, atau melihatnya sebagai dua hal yang saling bertentangan. Berbeda dengan makna khusus dari hadis wahid dan makna umum dari ayat, bukan saja kedua-duanya tidak saling bertentangan, justru salah satunya menjadi penjelas bagi makna yang lain.

Baca juga :   Pengarang Pertama dalam Ilmu Qira’ah Al-Quran

Dari sisi yang lain, kita tahu bahwa terdapat banyak sekali riwayat yang datang secara mutawatir dari para makshum a.s. sebagai penjelas dan pengkhusus keumuman makna ayat-ayat Al-Quran dengan cara membatasi keumumannya.

Oleh karena itu, jika pengkhususan dan pembatasan ayat-ayat Al-Quran melalui hadis wahid dianggap bertentangan dengan Al-Quran, ini berarti bertentangan dengan perkataan para imam a.s. yang berbunyi, “Apa saja yang bertentangan dengan firman Tuhan bukanlah perkatan kami”, atau sabda, “Bertentangan dengan Al-Quran adalah batil dan tak berdasar”. Padahal banyak sekali pengkhususan Al-Quran oleh perkataan yang pasti dan mutawatir dari para imam a.s., dan munculnya bentuk pengkhususan dan pembatasan seperti ini sejauh yang dinukil dari para imam a.s. menjadi bukti bahwa pengkhususan dan pembatasan ayat-ayat Al-Quran tidak termasuk sebagai pertentangan dengan Al-Quran.

Dalil lainnya, para imam Ahlul Bait a.s. mengakui bahwa kesepakatan dengan Al-Quran dari salah satu dari dua riwayat yang saling bertentangan sebagai faktor untuk memilih dan mentarjih riwayat yang sepakat dengan Al-Quran. Dalil ini sendiri berdasar pada riwayat yang bertentangan dengan makna lahiriyah keumuman ayat Al-Quran, pada dirinya sendiri, memiliki hujjah dan berlaku valid. Hanya saja, karena ada riwayat penentang yang lebih kuat dan adanya kesepakatan riwayat lain dengan Al-Quran, maka diperolehlah tarjih untuk riwayat yang sepakat. Dari sini jelas, jika riwayat yang bertentangan dengan makna lahiriyah keumuman ayat Al-Quran, pada dirinya sendiri, tidak memiliki hujjah dan berlaku valid, maka tidak lagi tersisa celah saling bertentangan dan mentarjih satu di atas yang lain. [HYB]

Sumber:
Ayatullah Sayyid Abu Al-Qasim Al-Khu’i, Al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur’an.

(Visited 6 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*