hijab2Sebagai manusia, perempuan tidaklah beda dengan lelaki, sama-sama memiliki kesempurnaan manusiawi. Namun ini tidak berarti perempuan sama sepenuhnya dengan lelaki sehingga tidak lagi menyisakan perbedaan apa pun di antara mereka. Faktanya, lelaki lebih banyak aktif di puncak hirarki pengelolaan dan pengaturan. Bahkan di sebagian ajaran, perempuan didiskriminasi sehingga tidak berpeluang duduk dalam jabatan apa pun selain dalam rumah dengan anaknya. Di dunia Barat sendiri, kaum perempuan sampai awal abad dua puluh masih tidak diakui haknya sama dengan lelaki dalam memiliki hak suara dan pemilihan umum. Pertanyaan mendasar, apakah para perempuan juga bisa memangku jabatan pengadilan dan kepemimpinan (pemerintah)?

Jawaban: Dua persoalan pengadilan dan pemerintahan (perempuan sebagai kepala pemerintahan) dan semisalnya adalah persoalan-persoalan fikih yang dibahas  dan dikaji dalam kitab-kitab fikih. Para ahli fikih juga mempunyai pendapat yang berbeda-beda berkenaan dengan persoalan ini. Sebagian memperbolehkan, sebagian mengharamkan dan sebagian menganggapnya makruh. Hal-hal ini adalah persoalan-persolan yang diperselisihkan.

Pertama: kita harus memperhatikan poin ini bahwa topik ini adalah persoalan taklid. Budaya kita adalah budaya fikih dan taqlid. Kita dalam persoalan-persoalan yang berkaitan dengan taqlid, harus menuju kepada Marâji’ Taqlid.

Dan pada akhirnya, mereka yang akan menjawab dengan jawaban yang pasti. Oleh karena itu, dalam satu pidato atau majalah diperbincangkan bahwa hal ini boleh atau tidak, akan menyebabkan kondisi kebingungan bagi masyarakat. Pada akhirnya setiap sesuatu mempunyai pakar (ahli) dan pakar persoalan-persoalan ini adalah Fukaha (para ahli Fikih).

Kedua: Saran kepada Fukaha adalah kondisi zaman sekarang berbeda dengan dahulu. Muncul perubahan-perubahan mendasar. Iran tidak  berpisah dengan semua negara-negara. Para perempuan tidak berpisah dengan masyarakat. Kita tidak bisa lagi mengatur para perempuan seperti zaman-zaman terdahulu. Para individu masyarakat kita melalui media massa mengenal kondisi dan pemikiran orang-orang di dunia. Dan permintaan-permintaan mereka kian bertambah.

Baca juga :   Kesalahan di Alam Penciptaan

Kami mengharapkan dari Fukaha dengan pandangan dunia dan kelapangan  dada untuk mengkaji persoalan-persoalan yang berhubungan dengan para perempuan dan menjelaskan Taklif (tugas) persoalan-persoalan ini berdasarkan sumber-sumber fikih yang solid sehingga tidak perlu kepada pandangan para individu yang tidak bertanggung jawab. Dan terkadang individu yang tidak baik. Yang pasti, para cendekiawan lain juga jika mengetahui prinsip-prinsip fikih dan menjaganya, mereka bisa mengkaji dalam persoalan-persoalan ini, mungkin kajian-kajian ini juga bermanfaat bagi Fukaha dan Marâji’ Taqlid dan dalam model Ijtihad mereka juga akan berpengaruh. Namun bagaimanapun juga Marâji’ Taqlid harus mengatakan ucapan final dan kesucian budaya marja’iyyah Taqlid dalam persoalan-persoalan fikih tidak boleh dihancurkan.

(Visited 5 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*