466px-al_fatihah_-_naskh_scriptSebagian kalangan, entah sengaja atau karena kurang informasi, atau malas mengkarifikasi dan bertabayun hasil dengar dan bacaan, begitu saja menelan dan menghakimi apa lagi menuduh Muslim lain yang berbeda mazhab sebagai kafir. Salah satu isu yang dibuat musuh Islam untuk memecah kesatuan iman Muslimin ialah isu bahwa Syiah memiliki mushaf lain dari al-Quran; mushaf itu versi Imam Ali a.s. Apakah mushaf Imam Ali a.s. itu al-Quran-nya orang Syiah? Benarkah tuduhan ini?

Sudah cukup melimpah referensi untuk mendudukkan masalah dan menjernihkan isu ini yang pada dasarnya hanyalah tuduhan palsu dan tak berdasar. Beragam pilihan di media cetak apalagi online dengan mudah diakses untuk mendapatkan penjelasan memadai dengan berbagai bahasa. Kendati demikian, berikut ditampilkan kembali keterangan terkait isu itu secara ringkas dan mudah dicerna.

Keberadaan Mushaf

Setelah Rasulullah SAW wafat, para sahabat berusaha mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang telah beliau sampaikan. Dalam hal ini, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s., sebagai sahabat paling pandai di atas sahabat yang lain tentang hal ihwal terkait penurunan teks dan makna ayat-ayat Al-Quran, beranjak lebih cepat daripada yang lain untuk melakukan pengumpulan ayat-ayat. Setelah tuntas mengumpulkan, beliau pun menjadi orang yang pertama menawarkan hasil usahanya yang sangat berharga itu kepada masyarakat.

Karena satu dan dua hal, tawaran berharga itu tidak disambut hangat oleh rezim penguasa masa itu. Untuk itu, Imam Ali a.s. mengembalikan mushaf hasil pengumpulannya ke rumah seraya, menurut sebagian riwayat, mengatakan, “Setelah ini, kalian tidak akan melihatnya lagi.’ Sepeninggal beliau, mushaf itu berada di tangan para imam setelahnya.

Perlu digarisbawahi bahwa, Al-Quran atau naskah-naskah Al-Quran yang dinisbahkan kepada Amirul Mukminin Ali a.s. dan terdapat di museum-museum serta perpustakaan-perpustakaan, secara historis dan menurut bukti-bukti yang ada, tidak bisa dipastikan autentik miliknya.

Baca juga :   Siapa Penemu Ilmu Tajwid?

Kriteria Mushaf

Dibandingkan dengan mushaf-mushaf al-Quran yang ada, mushaf Amirul Mukminin Ali a.s. memiliki beberapa kriteria istimewa, antara lain:

  1. Sebagaimana dinyatakan pula oleh para ahli, mushaf Imam Ali as. disusun berdasarkan urutan turunnya ayat Al-Qur’an (Suyuthi: Al-Itqan, jld. 1, hal. 183: Jawan Arasteh, Husain, Darsnameh ‘Ulûm-e Qur’an, hal. 163).
  2. Mushaf Imam Ali as. sesuai dengan bacaan Rasulullah Saw. dan di dalamnya tidak terdapat varian-varian bacaan Al-Qur’an;
  3. Mushaf Imam Ali a.s. memuat sebab dan tempat turunnya ayat-ayat al-Quran, begitu pula nama-nama orang yang bersangkutan langsung dengan ayat-ayat tersebut;
  4. Dalam mushaf Imam Ali a.s., sisi-sisi universal ayat Al-Qur’an dan penakwilannya telah dijelaskan (jurnal Bayyinât, vol. 28, hal. 184).

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa mushaf Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. bukanlah al-Quran yang berbeda dari al-Quran yang ada, atau dengan kata lain bukanlah al-Quran yang memuat ayat lain yang tidak terdapat dalam al-Quran yang populer sekarang. Inti perbedaannya dengan al-Quran yang ada adalah urutan ayat –yang disusun berdasarkan urutan turunnya- dan keterangan-keterangan tambahan (seperti sebab atau tempat turunnya ayat) yang sangat membantu pembaca untuk memahami maksud firman Allah SWT yang sesungguhnya.

Salah satu metode pembuktian atas validitas kesejarahan ialah kesaksian pelaku yang, dalam hal ini, pribadi Imam Ali bin Abi Thalib a.s. sendiri. Bagaimana beliau berbicara tentang mushaf itu sendiri? Muhammad Jawad Balaghi mengutip, “Laqad ji’tuhum bi al-kitâbi musytamilan ‘alâ al-tanzîl wa al-ta’wîl: aku sudah tawarkan kepada mereka kitab yang memuat keterangan tentang turunnya masing-masing ayat juga takwilnya” (Balaghi, Muhammad Jawad, Âlâ’ Al-Rahmân, jld. 1, hal. 257).

Beliau juga berkata, “Tiada satu pun ayat Al-Quran yang turun kepada Rasulullah SAW kecuali dia telah membacakan dan mendiktekannya kepadaku. Aku pun menulisnya dengan tanganku sendiri. Dia juga mengajariku tafsir dan takwil setiap ayat serta menentukan mana ayat nasikh, ayat mansukh, ayat muhkam dan ayat mutasyabih. Dia mendoakan aku agar Allah SWT menganugerahiku pemahaman dan ingatan pada ayat dan penjelasan itu. Sejak itu sampai sekarang, tidak ada satu ayat pun yang aku lupa, tidak ada pula yang aku lupakan satu ilmu atau pengetahuan pun yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepadaku dan aku menulisnya” (Tafsîr Al-Burhân, jld. 1, hlm. 16, no. 14; Makrifat, Muhammad Hadi, Tarikh-e Qur’an, hlm. 86).

Baca juga :   Macam-macam Wahyu Kerasulan
(Visited 10 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*