tobat-ilustrasi-_121005104137-109Dalam beberapa ayat Al-Quran yang membahas Hari Kebangkitan dan Hari Kiamat, terdapat redaksi liqâ’ Allah (berjumpa dengan Tuhan) atau liqâ’ al-rabb (berjumpa dengan Rabb). Redaksi ayat ini sarat makna dan memiliki kedalaman arti, betapa pun sebagian mufasir telah menafsirkan ayat-ayat ini secara sambil lalu.

Sebagian dari mufasir berpendapat bahwa maksud dari liqâ’ Allah adalah pertemuan para malaikat Allah SWT pada Hari Kiamat. Sebagian yang lain berkeyakinan bahwa maksudnya adalah perjumpaan setiap makhluk dengan perhitungan (hisâb), ganjaran (jazâ’), dan pahala (tsawâb). Dan kelompok ketiga berpendapat bahwa maknanya adalah perjumpaan hukum dan perintah-Nya.

Semua pendapat tersebut mengambil arti redaksi Al-Quran tersebut secara implisit. Sementara kita mengetahui bahwa apabila penafsiran implisit bertentangan dengan dzahir sebuah ungkapan (eksplisit), sepanjang tidak ada dalil atasnya, harus kita tinggalkan.

Tak syak lagi bahwa maksud dari redaksi perjumpaan (liqâ’) bukanlah melihat Tuhan, karena perjumpaan indrawi (hissi) hanya berlaku pada benda-benda material yang terbatas dalam ruang dan waktu, berwarna, dan kualitas-kualitas lain sehingga ia mampu untuk dilihat dengan mata kepala.

Dengan demikian, maksud dari perjumpaan di sini adalah syuhûd batini, perjumpaan dan pertemuan maknawi dan ruhani dengan Allah SWT, karena di Hari Kiamat, seluruh hijab akan tersingkap dan tanda-tanda kekuasaan-Nya sedemikian tampak pada hari Mahsyar dan seluruh tempat persinggahan Kiamat, bahkan orang-orang kafir akan berjumpa dengan Allah SWT melalui mata batin mereka (meskipun perjumpaan ini pasti berbeda).

Allamah Thabathaba’i dalam tafsir Al-Mîzân mengtaakan, “Hamba-hamba Allah SWT berada dalam keadaan tanpa hijab antara mereka dengan-Nya, karena ciri khas Hari Kiamat adalah penampakan seluruh hakikat. Demikian pada surah Al-Nur (24): 25, Allah SWT berfirman, ‘Pada hari itu mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Hak Yang Nyata.’”(Al-Mîzân, jld. 15, hlm. 103; jld. 10, hlm. 69).

Baca juga :   Nilai Penting dan Kedudukan Tafsir

Menariknya, dalam hadis sahih disebutkan bahwa seorang datang kepada Amirul Mukminin Ali a.s. dan berkata: “Aku terjatuh dalam kesangsian terhadap Al-Quran.”

Beliau bertanya, “Mengapa?”

Orang itu berkata, “Kita melihat banyak ayat Al-Quran yang menegaskan perjumpaan dengan Allah SWT di Hari Kiamat, dan di sisi lain, Dia berfirman, ‘Mata-mata tidak mampu menjangkaunya, dan Ia menjangkau seluruh mata.’ Bagaimana ayat ini bisa dipertemukan dengan yang lainnya?”
Imam Ali a.s. menjawab, “Perjumpaan di sini bukan penyaksian dengan mata, akan tetapi perjumpaan di Hari Kiamat dan bangkitnya orang-orang dari kuburan. Oleh karena itu, pahamilah bahwa seluruh liqa’ (perjumpaan) yang disebutkan dalam Al-Quran berarti kebangkitan.” (Syaikh Shaduq, Al-Tauhid, hlm. 267).

Sebenarnya, Imam Ali a.s. memberikan tafsir ihwal perjumpaan dengan Allah SWT bahwa penyaksian (syuhûd) atas Allah SWT merupakan inherensi-inherensi dari syuhûd tersebut. Benar bahwa Hari Kiamat merupakan hari tersingkapnya pelbagai hijab dan tirai, tampaknya tanda-tanda Yang Maha Hak, dan tajalli (penampakan) Allah kepada seluruh hati. Dan setiap orang -sesuai dengan tingkat pikirnya- dapat memahami ucapan beliau ini. Dan seperti yang telah kita katakan, bahwa syuhûd batini (penyaksian batin) para kekasih Allah SWT di Hari Kiamat berbeda dengan perjumpaan orang-orang biasa (Tafsir Payâm-e Qur’ân, jld. 5, hlm. 44).

Dalam masalah ini, Fakhru Razi dalam Al-Tafsir Al-Kabîr memberikan penjelasan yang menarik. Ia menulis, “Manusia di dunia ini, lantaran hanyut dalam urusan-urusan duniawi dan berupaya untuk mengejar kehidupan dunia, kerap melalaikan Allah. Akan tetapi pada Hari Kiamat, seluruh perhatian duniawi ini akan hilang. Manusia dengan seluruh wujudnya akan tercurah kepada Tuhan semesta alam. Dan inilah arti dari perjumpaan dengan Allah swt.” (Al-Tafsir al-Kabîr, ayat terkait; Tafsir Nemûnehh, jld. 17, hlm. 359).

Baca juga :   Arahan Rasional dan Literal dalam Menafsirkan Al-Quran

Hal ini boleh jadi berdasarkan pengaruh takwa, ibadah, dan penyucian jiwa (tahdzib al-nafs) dalam kehidupan dunia ini yang dapat dijumpai pada sekelompok umat manusia. Sebagaimana dalam Nahj Al-Balaghah ditegaskan, bahwa salah seorang sahabat alim Imam Ali, Dza’lab Al-Yamani, bertanya kepada beliau, “Apakah kamu melihat Tuhanmu?”
Imam a.s. menjawab, “Apakah mungkin aku menyembah Tuhan yang tidak kulihat?”
Dan ketika ingin memberikan penjelasan lebih lanjut, beliau menambahkan, “Seluruh mata kepala sekali-kali tidak akan pernah menyaksikan-Nya, namun mata hatilah -dengan cahaya iman- dapat menyaksikan-Nya.” (Nahj Al-Balaghah, pidato 179).

Namun, penyaksian batin di Hari Kiamat berlaku untuk semua orang, karena tanda keagungan dan kekuasaan Allah SWT di hari itu sedemikian jelas sehingga setiap hati yang buta juga akan beriman penuh (Tafsir Nemûneh, jld. 1, hlm. 217).

(Visited 11 times, 1 visits today)
Tags: ,

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*