50dc8996369c8_50dc8996371adMeskipun dalil rasional yang digunakan untuk menetapkan kemaksuman para nabi adalah hal yang sudah pasti, bahkan suatu masalah yang tidak dapat diragukan dalam ajaran mazhab Syiah, akan tetapi dalil tersebut kurang memuaskan.

Anggap saja keadilan cukup bagi mereka dan kita tidak memiliki dalil yang lain untuk menetapkan kemaksuman mereka. Sebenarnya motivasi apa yang mendorong mereka (orang-orang Syiah) untuk menyebut para nabi sebagai manusia yang maksum? Seandainya para nabi tidak maksum tetapi mereka itu adil dan tidak melakukan banyak dosa, apa yang kurang dari mereka?

Dalam menjawb pertanyaan ini, perlu dikemukakan bahwa sesuai dengan dalil rasional yang telah digunakan untuk menetapkan kenabian secara umum, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pemberian hidayah kepada manusia melalui wahyu merupakan salah satu bentuk keterhukum yang dimiliki oleh alam ciptaan.

Sesungguhnya dalam alam ciptaan, tidak ada satu pun kesalahan dan ketakberhukum. Tanpa adanya kesalahan, wahyu Allah Swt dapat sampai kepada umat manusia secara utuh. Oleh karenanya, para nabi tidak pernah melakukan kesalahan dalam menerima, memahami, dan menyampaikan wahyu-wahyu Ilahi kepada umatnya. Mereka juga tidak pernah salah berbicara dan tak pernah berbuat buruk.

Karena amal perbuatan merupakan cermin ajaran-ajaran yang sedang mereka sampaikan. Mereka tak boleh melakukan dosa dan kesalahan sedikit pun. Yakni secara lisan dan amalan, sejak sebelum kenabian sampai akhir kenabian, mereka harus terjaga dari segala kesalahan dan dosa, baik besar maupun kecil. Pembahasan ini sebenarnya membutuhkan penjelasan yang sangat panjang dan lebar. Untuk lebih luasnya silakan merujuk kitab Tafsir Al-Mizan jilid tiga, kitab Syi’e dar Eslam, atau Resale Wahy Sho’ur Marmuz.

(Visited 20 times, 1 visits today)
Baca juga :   Pengantar Sejarah Tasawuf dan Relasinya dengan Filsafat dalam Islam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*