imagesPL69B1RLSebagai salah satu aksioma Islam, agama ini dari segi keberadaannya adalah agama yang universal dan tidak diperuntukkan khusus untuk orang-orang tertentu, tidak juga khusus bagi kurun waktu dan tempat yang terbatas, karena Islam telah menjadikan “manusia alami” sebagai sasaran ajaran pembinaannya. Yakni Islam menjadikan pokok kemanusiaan manusia sebagai objek pendidikan.

Pokok kemanusiaan manusia adalah inti kemanusiaan yang dimiliki oleh semua makhluk yang bernama manusia; baik dari Arab maupun dari Ajam, berkulit hitam atau berkulit putih, pengemis atau orang kaya, orang lemah atau orang kuat, lelaki atau wanita, tua atau muda, pandai atau bodoh.

Manusia alami adalah manusia yang memiliki fitrah pemberian Tuhan dan jiwa suci yang belum ternodai kotoran dan khayalan nafsu. manusia seperti inilah yang juga kami sebut sebagai manusia fitri.

Sama sekali, tiada keraguan bahwasannya letak perbedaan manusia dengan segala macam hewan hanya terdapat dalam anugrah Ilahi yang bernama akal. Dalam perjalanan hayatinya, manusia memiliki bekal berharga berupa akal dan pikiran yang mana tak satupun hewan memilikinya.

Gerak-gerik semua hewan—selain manusia—dikendalikan oleh kehendak dan dihasilkan oleh naluri dan nafsu yang ia miliki. Naluri dan nafsu hewan berperan sebagai faktor timbulnya kehendak dan sikap yang akan ia ambil. Faktor inilah yang mendorong hewan untuk melakukan sesuatu demi tercapainya tujuan-tujuan tertentu. Dengan adanya naluri, hewan terdorong untuk mencari makanan, minuman, dan kebutuhan-kebutuhan yang lain.

Hanya saja manusia, selain memiliki nafsu yang selalu bergejolak, juga memiliki akal. Ia memiliki rasa cinta, benci, dengki, permusuhan, persahabatan, takut, harapan, dan segala hal yang merupakan daya tarik dan daya tolaknya. Selain memiliki itu semua, manusia juga memiliki sesuatu yang berkedudukan sebagai hakim. Kerja hakim ini adalah memeriksa tuntutan-tuntutan nafsu dan emosi yang ia miliki. Yakni ia akan menghukumi apakah tuntutan-tuntutan tersebut memiliki kemaslahatan dan manfaat ataukah tidak.

Baca juga :   Ali bin Husein Terlahir ke Dunia

Terkadang meskipun nafsu sangat bergejolak, akal mampu memerintahkan manusia untuk tidak menurutinya. Meskipun terkadang nafsu membuat manusia untuk bermalas-malasan untuk melakukan sesuatu, akan tetapi akal mampu memerintahkan manusia untuk tetap melakukannya dengan giat. Terkadang ada keserasian antara akal dan nafsu kita. Contohnya ketika nafsu menginginkan sesuatu dan akal pun menganggapnya baik, maka akal memerintahkan manusia untuk meraih sesuatu tersebut.[RED]

Sumber:
Muhammad Husain Thabathaba’i, Islam va Insan-e Mu’asher, Majma’ Jahani Ahlul Bait, Qom, 1379 HS.

(Visited 7 times, 1 visits today)
Tags: ,

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*