Cahaya-IlahiAwalnya, irfan dikenal dengan nama tasawuf, kadang juga dipadankan dengan mistisisme dan gnostisisme. Ilmu ini berkembang dalam Islam berkat ajaran-ajaran agama suci ini, baik dari ayat-ayat Al-Quran, hadis-hadis suci Nabi SAW dan Ahlul bait beliau. Dapat simpulkan, sebagaimana ditegaskan olah para pakar, bahwa ilmu Irfan dan Tasawuf akan tetap lahir dalam Islam meskipun tidak terjalin kontak budaya dengan tradisi di luar Islam.

Secara harfiah, irfan berasal dari kata ‘a-ra-fa, yaitu mengenal dan mengetahui. Dalam istilah, irfan ialah sjenis pengetahuan dan pengenalan langsung yang bersifat meta-indra dan meta-akal, yakni melampaui indra dan akal, ditempuh dengan menghilangkan kendala-kendala dan menyingkapkan hijab-hijab hati sepanjang pengalaman suluk ruhani. Dengan demikian, seorang arif dan sufi akan menyelami dan menjangkau lapisan batin dan dimensi gaib dan kesatuan di balik fenomena-fenomena yang tampak dan banyak. Perjalanan dan pengalaman ini juga terkait dengan jiwa dan penyempurnaan jiwa, sehingga hakikat-hakikat batin dan gaib itu diperoleh dengan mengenal diri dan pencerahan ilahi dari dalam diri.

Untuk lebih jelasnya, perlu kiranya dikemukakan aspek-aspek irfan yang patut dipilah satu sama lain:

Pertama, irfan sebagai pengetahuan, yakni pengetahuan tak-berperantara, pengetahuan langsung, pengetahuan kehadiran (‘ilm hudhuri) yang dengannya, arif dan sufi memperoleh pengalaman langsung dengan hakikat, alam kesatuan, lapisan batin dan gaib alam.

Kedua, ifran sebagai pespektif, yakni satu bentuk pembacaan dan pemahaman esoterik yang dibangun di atas takwil teks-teks agama. Maka itu, ia sejajar dengan perspektif pola pembacaan lain seperti: perspektif filosofis, perspektif teologis, dll.

Ketiga, irfan sebagai metode, yakni pengamalan dalam bentuk suluk ruhani dan pola hidup yang cenderung berbeda dari kebiasaan umum dan keinginan-keinginan jiwa untuk mencapai hakikat utama yang terdapat di balik fenomena-fenomena yang tampak.

Baca juga :   Tajrīd Al-I‘tiqād: Pemurnian Keyakinan

Keempat, irfan sebagai sehimpunan ajaran yang tertuangkan dan terdisiplinkan dalam bentuk pernyataan dan tulisan para arif sufi, baik yang berkaitan dengan aspek praktis ataupun aspek teoretis, dalam rangka menerangkan pandangan mereka tentang keberadaan, juga menjelaskan cara-cara pencapaian dan capaian-capaian mereka.

Kelima, irfan atau tasawuf sebagai realitas sejarah. Bentuk konkret dan sosial realitas ini dalam islah mencakup berbagai kelompok sufi dan darwish. Tentunya, dalam kontak sosial, mereka mengalami dinamika jalinan hubungan ataupun konflik dengan elemen-elemen sosial yang lain dalam tubuh umat Islam sendiri.

Dari sudut pandang sejarah, yang pertama kali dikenal dengan nama irfan adalah pengertian ketiga, lalu berkembang ke pengertian kedua, keempat dan kelima, hingga akhirnya dikenal poppuler dengan pengertian pertama.

Sumber:
– Sa’id Rahimiyan, Mabani Irfan-e Nadzari, Tehran, 2011.
– Ali Amini Nejad, Hikmat-e Irfani, Qom, 2011.

(Visited 10 times, 1 visits today)
Tags: ,

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*