Telah dikemukakan bahwa istilah ‘ilmu’–menurut empat dari lima makna yang teridentifikasi–berlaku pada sekumpulan proposisi yang teramati hubungan-hubungan di antara mereka. Juga telah dijelaskan bahwa hubungan yang beragam itulah yang membedakan satu ilmu dari lainnya.

Hubungan antara Subjek Utama dan Masalah

Selain itu pula telah diketahui bahwa hubungan terbaik yang teramati di antara sejumlah masalah beragam dan merupakan kriteria klasifikasi ilmu adalah relevansi subjek-subjek mereka. Dengan kata lain, masalah-masalah yang subjek mereka berupa bagian-bagian dari keseluruhan atau objek-objek universal bisa membentuk satu ilmu. Oleh sebab itu, masalah-masalah ilmu adalah proposisi-proposisi yang subjek-subjeknya berada di bawah payung subjek utama (sebagai keseluruhan atau universal). Dan subjek utama ilmu itu sendiri adalah topik induk yang menjaring dan menghimpun subjek-subjek semua masalah ilmu.

Di sini, ada baiknya diingatkan kembali bahwa mungkin saja satu subjek utama menjadi topik induk bagi dua atau lebih ilmu, dan perbedaan satu ilmu dengan lainnya terletak pada perbedaan tujuan dan metode penelitiannya. Namun, jangan sampai terabaikan satu butir berikut : adakalanya suatu topik diletakkan sebagai subjek utama suatu ilmu, dan subjek utama di sini bukan secara mutlak, tetapi memiliki kualifikasi (qayd) tertentu, sehingga perbedaan kualifikasi yang beragam pada satu subjek utama ilmu melahirkan beberapa bidang ilmu dan menyebabkan perbedaan di antara mereka.

Misalnya, ‘materi’ ditinjau dari segi komposisi internal, ciri-ciri khas penguraian dan penggabungan unsur-unsurnya menjadi subjek utama ilmu kimia. Tetapi, ditinjau dari segi perubahan-perubahan lahiriah dan ciri-ciri khasnya, materi yang sama menjadi subjek utama ilmu fisika. Contoh lainnya adalah ‘kata’ yang, ditinjau dari segi perubahan konstruksinya, menjadi subjek utama morfologi dan, ditinjau dari segi perubahan infleksinya, menjadi subjek utama sintaksis.

Oleh sebab itu, kita harus teliti dan berhati-hati apakah subjek utama secara mutlak merupakan topik induk suatu ilmu ataukah subjek utama itu terbatasi oleh kualifikasi dan segi tertentu. Betapa banyak suatu topik induk secara mutlak menjadi subjek utama ilmu lantas, dengan tambahan kualifikasi-kualifikasi tertentu, menjadi subjek utama bagi ilmu-ilmu yang lebih spesifik.

Misalnya, dalam pembagian populer filsafat dalam pengertian kuno, benda (jism) merupakan subjek utama seluruh ilmu alam lalu, dengan penambahan beberapa kualifikasi, ia menjadi subjek utama minerologi, botani, zoologi, dan sebagainya. Dalam pola-pola pembidangan ilmu telah disinggung bahwa sebagian pola itu terlaksana dengan cara membatasi lingkup subjek utama ilmu induk dan menambahinya dengan kualifikasi-kualifikasi tertentu.

Salah satu kualifikasi yang bisa ditambahkan dan menjadi subjek utama ialah kualifikasi ‘mutlak’ (qayd al-ithlāq). Artinya, dengan penambahan kualifikasi ini pada suatu ilmu, hukum-hukum yang dibahas dalam ilmu tersebut berlaku pada esensi subjek yang mutlak tanpa mempertimbangkan lagi segi-segi individualnya sehingga, pada gilirannya, akan mencakup semua individu dan ekstensi subjek.

Umpamanya, jika sehimpunan hukum dan sifat esensial terbukti berlaku pada mutlak benda (muthlaq al-ajsām), entah benda itu berupa mineral, organik, tumbuhan, binatang ataupun manusia, maka “benda mutlak” (jism muthlaq) bisa dijadikan sebagai subjek utama bagi benda-benda ini dan, bersama sehimpunan hukum dan sifat esensial tadi, menjadi ilmu tersendiri.

Pola inilah yang ditempuh para filosof dalam mendisiplinkan bagian pertama fisika dengan hukum-hukum dan sifat-sifat esensial tersebut lalu memperkenalkannya dengan nama al-samā‘ al-thabī‘iy atau sam‘ al-kiyān (fisika umum elementer), baru kemudian mereka membidangkan setiap kelompok dari benda-benda tersebut menjadi ilmu-ilmu tertentu seperti: kosmologi, minerologi, botani, dan zoologi.

Pola yang sama ini juga bisa diaplikasikan dalam proses pembidangan spesialis ilmu-ilmu. Misalnya, masalah-masalah yang berhubungan dengan semua binatang dapat dihimpun menjadi ilmu tersendiri di bawah subjek utama “binatang mutlak” atau “binatang sebagai binatang”, kemudian hukum-hukum yang hanya berlaku pada setiap spesis binatang dibahas dalam bidang-bidang ilmu yang lebih khusus.

Baca juga :   Metafisika dalam Tradisi Keilmuan Islam

Dengan cara demikian, “mutlak benda” adalah subjek utama bagi bagian fisika dari filsafat kuno, dan “benda mutlak” menjadi subjek utama bagi bagian pertama fisika yang disebut dengan “fisika umum elementer”, lalu tiap-tiap benda seperti: benda kosmik, benda tambang, dan benda hidup, menjadi subjek utama kosmologi, minerologi, dan biologi. Sesuai pola ini, mutlak benda hidup adalah subjek utama ilmu biologi umum, dan benda hidup mutlak menjadi subjek utama suatu ilmu yang membahas hukum-hukum semua makhluk hidup, kemudian masing-masing spesis makhluk hidup ini membentuk subjek-subjek utama bagi bidang-bidang khusus ilmu biologi.

Di sini muncul satu persoalan: jika serangkaian hukum berlaku sama pada beberapa spesis saja dari suatu subjek [utama] universal dan tidak berlaku pada semua spesisnya, lalu dalam ilmu manakah hukum-hukum semacam itu ditelaah? Misalnya, bila ada sejumlah hukum yang sama bagi beberapa spesis dari makhluk hidup, maka mereka tidak bisa dikategorikan sebagai sifat-sifat esensial benda hidup mutlak, karena tidak mencakup seluruh makhluk hidup, akan tetapi di sisi lain, penelaahan hukum-hukum tersebut dalam salah satu dari ilmu-ilmu khusus yang bersangkutan dengannya juga akan menyebabkan pengulangan masalah. Jadi, di manakah seharusnya hukum-hukum semacam ini harus ditempatkan?

Jawabannya: hukum-hukum atau masalah-masalah semacam ini biasanya juga ditelaah dalam ilmu yang subjek utamanya berkualifikasi ‘mutlak’, dan hukum-hukum [atau] sifat-sifat esensial (‘awāridh dzātiyyah) subjek utama mutlak didefinisikan sebagai sehimpunan hukum yang berlaku pada esensi subjek ilmu sebelum ia terbatasi oleh pelbagai kualifikasi ilmu-ilmu khusus.

Sebetulnya, kelonggaran definisi ini dinilai oleh para tokoh ilmu lebih baik daripada terjadinya pengulangan masalah. Langkah ini yang juga telah diambil oleh sebagian filosof mengenai filsafat pertama atau metafisika; mereka menyatakan bahwa metafisika adalah ilmu yang membahas serangkaian hukum dan sifat esensial yang berlaku pada realitas mutlak (atau realitas qua realitas), sebelum realitas ini terbatasi oleh kualifikasi ‘fisis’ atau ‘matematis’.

Hubungan Prinsip-prinsip, Subjek Utama dan Masalah

Telah dicatat bahwa, dalam setiap ilmu, terdapat serangkaian proposisi dan masalah yang koheren dan saling berhubungan. Di samping itu, pada dasarnya, tujuan jangka pendek dan motif ajar-berajar ilmu ialah memecahkan proposisi-proposisi dan masalah-masalahnya, yakni membuktikan keberlakuan predikat pada subjek setiap proposisi. Jadi, dalam setiap ilmu sudah diasumsikan bahwa ada subjek dan ada predikat-predikat yang bisa dibuktikan keberlakukan mereka pada bagian-bagian atau individu-individu subjek tersebut.

Karena itu, sebelum memulai membahas dan memecahkan masalah-masalah setiap ilmu, diperlukan sejumlah pengetahuan awal (pendahuluan) mengenai hal-hal berikut:
a. Kuiditas (māhiyyah)dan konsep (mafhūm) subjek;
b. Keberadaan subjek; dan
c. Prinsip-prinsip untuk memecahkan masalah-masalah ilmu yang bersangkutan.

Pengetahuan tentang hal-hal ini adakalanya aksiomatis (badīhī/self-evident) dan tidak memerlukan penjelasan serta penalaran, sehingga tidak ada kesulitan sama sekali dalam memperoleh pengetahuan ini. Akan tetapi, adakalanya pengetahuan mengenai mereka bukan aksiomatis; perlu penalaran dan pembuktian. Misalnya, bisa saja keberadaan subjek seperti: ruh manusia, masih diperselisihkan dan diduga sebagai perkara ilusif dan tidak nyata sehingga keberadaan hakikinya harus dibuktikan.

Demikian pula, bisa saja muncul keraguan mengenai prinsip-prinsip yang diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah suatu ilmu sehingga, dalam kondisi ini, pertama-tama kita harus membuktikan kebenaran prinsip-prinsip itu. Kalau tidak demikian, semua pemecahan dan simpulan yang didasari oleh prinsip-prinsip tersebut tidak akan bernilai ilmiah dan pasti-benar.

Hal-hal di atas tadi dikenal juga dengan istilah mabādi’ al-‘ilm ‘prinsip-prinsip ilmu’ yang terbagi menjadi dua macam: prinsip-prinsip pengertian (mabādi’ tashawwuriyyah) dan prinsip-prinsip penilaian (mabādi’ tashdīqiyyah). Prinsip-prinsip pengertian suatu ilmu adalah definisi-definisi dan penjelasan mengenai keapaan hal-hal yang dibahas dan, biasanya, mereka dipaparkan sebagai pengantar ilmu tersebut.

Baca juga :   Metode Penelitian Filsafat

Adapun prinsip-prinsip penilaian suatu ilmu beragam macam dan, galibnya, ditelaah dalam ilmu lain. Seperti telah disinggung, filsafat setiap ilmu, pada hakikatnya, adalah ilmu lain ini yang bertugas menjelaskan dan membuktikan prinsip-prinsip ilmu tersebut. Sampai pada akhimya, yang paling umum dari prinsip-prinsip semua ilmu dibahas dan dibuktikan dalam filsafat pertama atau metafisika.

Di antara prinsip-prinsip penilaian ialah prinsip kausalitas (ashl al-‘illiyyah), sebuah prinsip yang menjadi pijakan para pakar dalam semua ilmu empiris. Pada dasarnya, penelitian dan observasi ilmiah dilakukan dengan pengakuan terlebih dahulu atas prinsip ini, karena semua penelitian terfokus pada upaya menyingkap hubungan-hubungan sebab-akibat di antara satu dan gejala lainnya. Namun, prinsip kausalitas ini sendiri tidak dapat dibuktikan dalam ilmu empiris mana pun, maka pembahasannya dilaksanakan dalam filsafat.

Subjek Utama dan Masalah Filsafat

Mengingat cara terbaik untuk mendefinisikan ilmu ialah identifikasi subjek utamanya yang, kalaupun memiliki kualifikasi, mesti disoroti selengkapnya dengan saksama, kemudian masalah-masalah ilmu itu didisiplinkan sebagai proposisi-proposisi yang berporos pada subjek utama tersebut. Di sisi lain, upaya identifikasi subjek utama dan kualifikasi-kualifikasinya bergantung pada penentuan masalah-masalah yang dimaksudkan untuk dibahas dalam suatu ilmu. Ini artinya upaya identifikasi itu, sampai batas tertentu, bergantung pada konvensi dan kesepakatan. Ambil saja, misalnya, ‘realitas’ (mawjūd) sebagai subjek utama yang merupakan konsep paling umum berlaku pada segala sesuatu yang hakiki dan riil, maka akan kita temukan bahwa semua subjek masalah-masalah hakiki terjaring di dalamnya. Dan, jika realitas ini dijadikan sebagai subjek utama untuk suatu ilmu, ia akan mencakup seluruh masalah ilmu-ilmu hakiki. Ilmu dengan subjek utama ‘realitas’ inilah yang disebut sebagai filsafat dalam pengertian kuno.

Akan tetapi, membahas ilmu yang sebegitu mencakup dan inklusif ini tentunya tidak sejalan dengan tujuan klasifikasi ilmu. Maka, tidak ada pilihan selain mengamati subjek secara lebih terbatas untuk memenuhi tujuan tersebut.

Para pengajar kuno, pertama-tama, membagi seluruh masalah teoretis ke dalam dua kelompok yang masing-masing memiliki poros tertentu. Mereka menyebut satu kelompok dengan fisika dan kelompok lainnya dengan matematika, kemudian mereka membidangkan tiap-tiap kelompok ini menjadi ilmu-ilmu yang lebih khusus. Selain dua kelompok masalah teoretis tadi, ada kelompok ketiga dari masalah-masalah rasional-teoretis yang berporos pada Tuhan dan mereka menyebutnya dengan teologi (ma‘rifat al-rubūbiyyah).

Akan tetapi, ada kelompok keempat dari masalah-masalah rasional-teoretis yang subjek mereka berada di atas subjek-subjek yang telah disebutkan tadi dan tidak terbatas hanya pada subjek tertentu. Lantaran para pengajar itu, sepertinya, tidak menemukan satu nama yang tepat untuk masalah-masalah ini, dan karena sekelompok masalah ini dibahas setelah fisika, mereka menyebutnya dengan nama metafisika ‘setelah fisika’.

Posisi masalah-masalah terakhir ini terhadap semua masalah ilmu-ilmu teoretis lainnya persis seperti posisi fisika umum elementer terhadap ilmu-ilmu alam. Dan sebagaimana subjek utama fisika umum elementer adalah benda mutlak, subjek utama metafisika adalah realitas mutlak (mawjūd muthlaq) atau realitas qua realitas (mawjūdbi mā huwamawjūd). Dengan menyoroti realitas mutlak, mereka hanya membahas masalah-masalah yang tidak berporos pada subjek-subjek utama dari ilmu-ilmu yang lebih khusus, walaupun masalah-masalah ini tidak mencakup seluruh realitas. Demikianlah terbentuk suatu ilmu dengan nama metafisika atau belakangan disebut dengan ilmu universal (al-‘ilm al-kulliy) atau filsafat pertama (al-falsafat al-ūlā).

Pada era Islam, sebagaimana telah disinggung, masalah-masalah metafisika berbaur dengan masalah-masalah teologi dan disebut dengan ketuhanan dalam makna umum (ilāhiyyāt bi al-ma‘nā al-’a‘amm). Kadangkala masalah-masalah lain seperti: Hari Kebangkitan (ma‘ād) dan sarana-sarana kebahagiaan abadi manusia, bahkan masalah-masalah yang menyangkut kenabian dan keimaman (al-imāmah) juga dimasukkan ke dalamnya, sebagaimana dijumpai pada bagian ketuhanan dari buku Al-Syifā’, karya Ibn Sina.

Baca juga :   Sekilas Filsafat Modern

Tentunya, kalau memang kelompok keempat masalah rasional-teoretis ini didisiplinkan (sesuai kriteria) sebagai masalah-masalah asli suatu ilmu dan tidak ada sebagian dari mereka yang dibahas di dalamnya sebagai pemaksaan atau penyimpangan, maka subjek utama ilmu ini seharusnya menjadi sedemikian luas sehingga, boleh jadi, mengidentifikasi satu subjek utama untuk berbagai macam masalah bukan pekerjaan yang mudah. Untuk itu, sudah ditempuh pelbagai upaya menentukan subjek utama dan menjelaskan bahwa semua predikat ini adalah sifat-sifat esensialnya (‘awāridh dzātiyyah), walaupun upaya ini tidak begitu berhasil.

Alhasil, ada tiga alternatif [dalam upaya identifikasi subjek utama filsafat/metafisika] di atas: pertama, semua masalah teoretis selain fisika dan matematika didisiplinkan sebagai sebuah ilmu dengan memaksakan (takalluf) satu subjek utama untuknya; atau kedua, kriteria koherensi dan kesatuan masalah-masalah itu diidentifikasi pada kesatuan tujuan; atau ketiga, setiap kelompok masalah teoretis yang memiliki subjek tertentu dikukuhkan jadi ilmu tersendiri, termasuk sehimpunan masalah umum tentang realitas dibahas dalam sebuah ilmu bernama “filsafat pertama”, dan ini identik dengan satu dari beberapa makna teknis istilah ‘filsafat’.

Tampaknya, alternatif terakhirlah yang lebih relevan. Karena itu, beragam masalah yang dikenal dalam filsafat Islam dengan nama falsafah ‘filsafat’ atau hikmah ‘kebijaksanaan’ dapat kita tempatkan menjadi beberapa ilmu tertentu.

Dengan kata lain, kita akan mempunyai serangkaian ilmu kefilsafatan yang sama-sama berbasis pada metode rasional, tetapi istilah ‘filsafat’ secara mutlak (tak berkualifikasi) akan kita gunakan untuk menunjuk filsafat pertama.

Dengan demikian, tujuan utama buku ini menjadi jelas, yaitu memaparkan masalah-masalah filsafat pertama dalam pengertian di atas tadi. Namun, lantaran pemecahan masalah-masalah ini bergantung pada masalah-masalah seputar pengetahuan, buku ini akan menyajikan, pertama-tama, studi-studi epistemologi, setelah itu barulah menelaah masalah-masalah ontologi dan metafisika.

Definisi Filsafat

Bertolak dari posisi filsafat yang identik dengan filsafat pertama atau metafisika dengan subjek utamanya, yaitu realitas mutlak (mawjūd muthlaq), bukan mutlak realitas (muthlaqmawjūd), kita dapat mendefinisikannya sebagai berikut: ilmu yang membahas keadaan-keadaan realitas mutlak, atau ilmu yang menelaah hukum-hukum umum keberadaan (wujūd/existence); atau sehimpunan proposisi dan masalah yang dibahas dengan poros realitas qua realitas (mawjūd bi mā huwa mawjūd).
Beberapa ciri khas filsafat telah banyak dideskripsikan. Yang terpenting di antara mereka berikut di bawah ini:

  1. Berbeda dengan ilmu-ilmu empiris dan naratif, pemecahan masalah filsafat menggunakan metode rasional. Namun demikian, metode yang sama juga digunakan dalam logika, teologi, psikologi filosofis, dan sejumlah ilmu lain seperti: etika dan matematika. Oleh karena itu, metode ini tidak bisa diacu sebagai ciri khas filsafat pertama;
  2. Filsafat bertugas membuktikan benar-salahnya prinsip-prinsip penilaian (mabādi’ tashdīqiyyah) pelbagai ilmu. Dan itulah salah satu dasar mengapa ilmu-ilmu lain membutuhkan filsafat sehingga ia disebut sebagai induk ilmu-ilmu (umm al-‘ulūm);
  3. Dalam filsafat dapat diperoleh kriteria pemilahan hal-hal riil dan hakiki dari hal-hal yang ilusif (wahmī) dan nonhakiki (i‘tibāriy). Maka dari itu, tujuan utama filsafat terkadang dianggap untuk mengetahui hal-ihwal yang senyatanya ada dan hakiki serta memilahnya dari hal-hal ilusif. Tetapi, sebaiknya ciri khas ini ditempatkan sebagai tujuan epistemologi.
  4. Konsep-konsep filsafat sama sekali tidak diperoleh lewat indra atau pengalaman (indrawi) seperti konsep-konsep: sebab dan akibat, niscaya dan mungkin, material dan imaterial (mujarrad). Konsep-konsep ini secara teknis diistilahkan dengan objek-objek sekunder akal filosofis (al-ma‘qūl al-tsānī al-fālsafiy). Pada Bagian Epistemologi, istilah ini akan kita jelaskan lebih jauh.

Setelah mengamati ciri-ciri khas tersebut, mudah dimengerti kiranya mengapa masalah-masalah filosofis hanya bisa dibuktikan dan dipecahkan dengan metode rasional, dan mengapa pula hukum-hukum filosofis tidak diperoleh dengan merampatkan (generalisasi) hukum-hukum dari pelbagai ilmu empiris.

(Visited 18 times, 1 visits today)
Tags: ,

One Comment

  1. Hello to every one, the contents present at this web page are
    in fact awesome for people knowledge, well, keep up the good work fellows.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*