1gossip1Tahukah Anda cara membuat obrolan jadi sedap? Apa yang membuat percakapan yang nyantai juga serius? Salah satunya ialah tidak membicarakan atau menyinggung orang-orang yang hadir dalam pembicaraan, tetapi sebagai gantinya, pembicaraan terfokus pada titik sama, yaitu orang lain dan aib serta kejelekannya.

Terasa sedap karena, selain merasa diri tidak punya aib, sekaligus jadi ajang pencurahan hati dan gereget emosi. Tidak sadar kalau cara ini bentuk dari gibah, mengumpat, menggunjing, merumpi dan membicarakan keburukan orang lain. Dalam agama, perilaku pengecut ini dilarang keras, sekeras-kerasnya. Namun, adakah cara-cara lain memperagakan kekerdilan ini?

Setiap hari, kita terpaksa atau suka rela melakukan kontak dan hubungan satu sama lain. Cara paling umum berhubungan ialah bicara. Berbagai perangkat sudah sangat melimpah di sekeliling kita. Tidak jarang kita jumpai orang segera melihat layar ponsel seketika bangun tidur, ingin segera tahu siapa yang menghubunginya dan apa yang dibacarakannya.

Kini, berbicara tidak harus bertatapan muka. Ruang-ruang privat kita justru terbuka melalui jendela online dan medsos. Karena sifat keprivatannya itu pula kita krap kehilangan kendali atas diri sendiri, atas jalur pikiran kita, atas tutur kata dan tulis kita. Alat bicara kita bukan hanya napas, lidah dan bibir, tetapi juga jari-jari. Karena itu pula, tanpa disadari, kita sudah berada di jalur searah dengan dosa dan perbuatan tercela seperti: berbohong dan memfitnah, tak terkecuali juga gibah atau menggunjing. Tanpa dirasakan, lidah dan tangan kita sudah ternodai kotoran maksiat. Andai saja kita tahu hakikat dosa-dosa itu, pasti segera meninggalkannya.

Dalam ayat, Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang beriman! … dan janganlah kalian memata-matai (menyelidiki keburukan orang), dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah satu dari kalian memakan daging saudaranya yang mati yang sudah mati, maka tentulah kalian membenci—dari memakannya” (QS. Al-Hujurat [69]: 12).

Baca juga :   Mengenal Diri dan Mengenal Tuhan

Sudah perlu kiranya meninjau kembali dan menyadari batasan gibah dengan harapan besar kiranya penjelasan dan pengetahuan tentangnya berpengaruh dan membantu guna meninggalkan perbuatan tersebut. Pertama-tama, penting juga untuk dicatat bahwa perilaku manusia dapat ditinjau dari dua aspek: aspek fiqih (hukum syariat) dan aspek akhlak (moral).

Aspek fiqih meninjau bentuk lahiriah perbuatan, dan hukum-hukumnya berkaitan dengan gerak dan perilaku setiap organ tubuh, seperti menggunjing dan berbohong. Dua perbuatan ini adalah gerak dan perilaku yang diharamkan dari salah satu organ tubuh, yakni lidah. Sementara aspek akhlak meninjau dasar dari perbuatan lahiriah itu. Maka akhlak menelaah karakter tercela dalam diri manusia sebagai asal muasal munculnya perbuatan buruk tadi.

Tanpa mengabaikan sama sekali aspek fiqih, banyak hal yang patut diperhatikan aspek-aspek moral seputar ghibah. Apa saja macam-macam gibah, faktor apa saja yang memicu seseorang hingga asyik mengibah, sebesar apa kecaman agama terhadap perilaku gibah, apa saja dampak buruk gibah, dan bagaimana mengobati penyakit gibah adalah rangkaian masalah yang tidak akan tuntas kecuali dipastikan terlebih dahulu apa itu ghibah. Yakni, apa definisi dan pengertian dari gibah.

Definisi Gibah

Menurut ulama Akhlak dan ahli Fiqih, gibah yaitu menyebutkan kekurangan atau membukakan aib seseorang yang tidak hadir, yakni tidak berada di tempat, kepada orang lain. Dengan kata lain, gibah adalah mengungkapkan keadaan seseorang yang sedang absen, dan peng-ungkapan itu akan membuatnya tidak senang. Fayidh Kasyani menulis, “Ketahuilah bahwa pengertian menggibah yaitu kamu menyebutkan saudaramu di hadapan orang lain dengan sesuatu yang tidak dia sukai seandainya dia mendengar hal itu” (Al-Mahajjat Al-Baydhô’, jld. 5, hlm. 255).

Antara Menggibah, Memfitnah, Menuduh

Baca juga :   Definisi Irfan

Memfitnah (al-buhtân) berarti menyandangkan kekurangan dan aib yang palsu dan diada-ada kepada seseorang, entah penyandangan itu dilakukan pada saat orang kedua (korban) hadir ataukah tidak ada di tempat. Maka, jika mengungkapkan aib yang memang ada pada diri seseorang dan itu dilakukan pada saat ia absen—tidak ada di tempat, maka pengungkap aib telah menggunjing dan berbuat gibah ter-hadapnya. Namun, jika mengungkapkan aib dan kekurangan yang memang tidak ada pada diri orang tersebut, maka pengungkap aib telah memfitnah dan berbuat al-buhtân terhadapnya. Sudah barang tentu, pengungkap aib itu dapat dipastikan telah melakukan gibah sekaligus melancarkan fitnah jika mengungkapkan aib yang memang tidak ada pada diri seseorang di saat ia absen dan tidak berada di tempat, maka dia menanggung resiko dua perbuatan dosa itu, yakni harus memohon ampunan kepada Allah swt. dan meminta maaf kepada orang yang digunjing dan difitnahnya.

Abu Dzar Al-Ghifari pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apa gibah itu?” Beliau menjawab, “Engkau menyebutkan keadaan saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.” Aku bertanya lagi, “Wahai Utusan Allah! Meskipun apa yang kami sebutkan itu me-mang ada pada dirinya?! Beliau menjawab, “Ketahuilah! Jika kamu menyebutkan aib yang ada padanya, maka kamu telah menggunjing-nya (gibah), dan jika kamu menyebutkan aib yang tidak ada padanya, maka kamu telah memfitnahnya (buhtan) (Hurr Amili, Wasâ’il Al-Syî‘ah, jld. 12, hlm. 280, hadis no. 16308).

Berkenaan dengan ini, Imam Ja‘far Shadiq ra. berkata, “Menggibah yaitu mengatakan tentang saudaramu apa yang ditutupi Allah atasnya, sedangkan memfitnah adalah mengatakan tentang saudaramu apa yang tidak ada pada dirinya (Ibid., jld. 12, hlm. 282 hadis no. 16313.).

Akan halnya menuduh (al-tuhmah) yaitu menisbahkan perilaku dan sifat yang tak patut kepada orang lain hanya atas dasar dugaan dan prasangka buruk, sementara gibah adalah membuka aib nyata seseorang di bela-kangnya—tidak berada di tempat.

Baca juga :   Mengenal Tasawuf

Macam-macam Gibah

Menggibah atau menggunjing dapat ditinjau dari berbagai pembagian yang masing-masing menghasilkan beragam pola dan macamnya. Dari sisi cara, praktek menggibah dapat dilakukan dengan satu dari lima macam berikut:

Pertama, gibah lisan. Ini macam gibah yang paling populer, yaitu mengatakan kekurangan seseorang kepada orang lain.

Kedua, gibah tulisan. Bagi sebagian orang, gibah dengan pola ini justru lebih populer dan lazim dilakukan dalam kesendirian di ruang terbatas, yakni tatkala menggunakan medsos dan alat-alat komunikasi. Gibah tulisan yaitu, alih-alih mengatakan, seseorang menuliskan aib orang lain. Maka, orang ketiga (penyimak gibah) di sini ialah pembaca sebagai ganti dari pendengar.

Ketiga, gibah perbuatan, yitu menerangkan aib seseorang dengan cara memperagakan sesua-tu kepada orang yang lain.

Keempat, gibah sindiran, yaitu dengan menggunakan kata-kata kiasan, seseorang membuka aib orang lain di saat dia absen kepada orang ketiga (penyimak). Kata-kata seperti “Puji syukur ke hadirat Allah yang tidak memberi kita kepemimpinan”, atau “Aku berlindung kepada Allah dari orang yang tidak tahu malu itu!” merupakan ungkapan kiasan yang meng-gunjing ketaklayakan dan ketaktahumaluan orang yang disindir.

Kelima, gibah isyarat, yaitu menyebutkan aib orang lain dengan isyarat tangan atau anggota badan yang lain. Ini bisa berupa kata-kata, bisa juga berupa perbuatan. Diriwayatkan bahwa seorang wanita berkunjung ke rumah Rasulullah SAW untuk bertamu kepada Aisyah. Ketika perempuan itu beranjak pergi, Aisyah dengan memberi isyarat tangannya hendak mengatakan bahwa perempuan itu berpostur pendek. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Kamu telah menggunjingnya.” (Warram bin Abi Faras, Majmu‘eh-e Warrrom, jld. 1, hlm. 118).

 

(Visited 8 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*