bukuKelahiran dan pendisiplinan ilmu-ilmu berlangsung secara bertahap dan melalui proses yang tidak pendek. Mula-mula mereka dalam bentuk pemikiran dan pendapat yang berserakan kemudian lambat laun membentuk sebuah himpunan masalah yang terfokus pada suatu subjek atau suatu tujuan hingga muncul secara utuh dan otonom.

Ilmu Ushul Fikih juga demikian latar belakang sejarahnya. Justru pada dasarnya, ilmu ini lahir dari perkembangan dan perjalanan ilmu Fikih. Baqir Shadr menegaskan bahwa mengingat aspek aplikatif sejumlah unsur-unsur dalam kebanyakan bab-bab Fikih, maka para fukaha memandang pending untuk membahas serangkaian masalah-masalah yang terkait dengan unsur-unsur tersebut dalam sebuat ilmu tersendiri yang kelak dikenal dengan nama Ushul Fikih ini (Muhammad Baqir Shadr, Al-Ma’alim Al-Jadidah fi Al-Ushul, Tehran, hlm. 23).

Dalam investigasi yang dilakukan oleh Ayatullah Hasan Shadr dapat disimpulkan bahwa Syiah merupakan pelopor yang membidani kelahiran Ushul Fikih. Orang pertama yang membuka pintu ilmu ini dan merumuskannya adalah ‘Sang Pembongkar Ilmu’, Imam Muhammad bin Ali Baqir a.s., lalu putra beliau, yaitu Imam Ja’far Shadiq a.s. Mereka yang mulia telah mendiktekan pelbagai kaidah dan permasalahan Ushul Fikih kepada sekelompok murid mereka, yang pada gilirannya mereka (para murid) itulah yang mengumpulkan semua itu, lalu ulama-ulama yang datang setelah mereka menyusunnya sesuai dengan kerangka pembahasannya, seperti Ushul Al Rasul, Al-Fushul Al-Muhimmah fi Ushul Al-Aimmah dan Al-Ushul Al-Ashilah. Semua kitab ini dilengkapi dengan riwayat para perawi yang terpercaya dan semua sanadnya bersambung sampai kepada Ahlulbait a.s. (Hasan Shadr, Ta’sis Al-Syi’ah li Funun Al-Islam, 1370 HS, hlm. 310)

Bisa dikatakan bahwa orang pertama yang secara khusus menyusun sebagian pembahasan ilmu Ushul Fikih ke dalam sebuah kitab adalah Hisyam bin Hakam, guru besar kaum mutakallim, murid utama Imam Ja’far bin Muhammad Shadiq a.s. Ia mengarang sebuah kitab dengan judul Al-Alfazh. Di dalamnya ia merumuskan sejumlah masalah yang merupakan tema-tema pokok ilmu tersebut.

Baca juga :   Empat Dasar Hukum Islam

Setelah Hisyam adalah Yunus bin Abdurrahman; budak keluarga Yaqthin, murid utama Imam Musa Kazhim as. Ia mengarang kitab Ikhtilaful Hadits, yang di dalamnya terdapat pembahasan penting seperti ‘Ta’arudh Dalilain’ dan ‘Al-Ta’adul wa Tarjih bainahuma’ (sebuah topik Ushul Fikih yang membahas pertentangan antardalil hukum dan metode mengkompromikan dan memprioritaskan di antara dalil-dalil tersebut, -pent.).

Suyuthi dalam Al-Awa’il mengatakan, “Orang pertama yang mengarang kitab di bidang Ushul Fikih adalah Al-Syafi’i, berdasarkan ijma’ para ulama.” Maksudnya, Imam Syafi’i adalah orang pertama di antara empat Imam mazhab Ahli Sunnah. Yang mirip dengan kitabnya dari segi ukurannya yang kecil dan susunan pembahasannya, adalah kitab Ushul Al–Fiqh karya Syekh Mufid Muhammad bin Muhammad bin Nu’man yang terkenal dengan gelar ‘Ibnul Mu’alim’ dan ‘Syaikh Al-Syi’ah’. Kedua kitab mereka itu telah dicetak.

Namun, kitab Ushul Fikih yang dikarang oleh generasi pertama adalah Al-Dzari’ah fi ‘Ilm Ushul Al-Syari’ah, karya Syarif Murtadha. Meskipun ukurannya amat sederhana, kitab ini meliputi pembahasan ilmu tersebut secara lengkap dalam dua jilid. Selain itu, Syarif Murtadha juga mengarang banyak kitab di bidang ini, dan kitab Al-Dzari’ah merupakan kitabnya yang paling sederhana sekaligus paling baik.

Namun, dapat dikatakan bahwa terdapat sebuah kitab yang lebih baik darinya, yaitu Al-‘Iddah karya Syekh Abu Ja’far Muhammad bin Hasan bin Ali Thusi. Kitab Al-‘Iddah ini sungguh kitab terbaik yang pernah dikarang di bidangnya di masa-masa sebelumnya. Itulah kitab yang amat sederhana sekaligus bukti atas ketelitian dan kecermatan sang penulisnya (ibid., hlm 312).

(Visited 10 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*