demo_veladat_hazrat_zahra_ofoghi-604x345Kini, ketika banyak media yang memberikan layanan informasi dan teknologi begitu canggih menyediakan sarana untuk mengakses data, justru masih ada orang yang hanya menebar-nebar isu atau termakan isu dan fitnah yang tak berdasar sehingga bersikap tidak obyektif. Tanpa peduli pada kewajiban bertabayun (meneliti kebenaran atau kekeliruan berita), sejumlah pihak menebarkan kebohongan dan fitnah terhadap sesama Muslim.

Satu dari sekian fitnah keji yang mereka tuduhkan terhadap Syiah adalah terkait dengan mushaf Siti Fatimah, putri mulia Nabi SAW. Mereka menuduh bahwa mushaf Fathimah Zahra a.s. adalah Al-Quran orang Syiah yang ada di tangan Imam Mahdi. Dan sebagian mempersoalkan keberadaan mushaf itu. Pertanyaannya, mengapa mereka menuduh orang-orang Syiah memiliki Al-Quran sendiri yang berbeda dengan selain yang ada di tangan muslimin lainnya?

Ada beberapa kemungkinan terkait sikap negatif ini:

  1. Selain mereka tidak merujuk ke sumber-sumber hadis Syiah, mereka hanya termakan oleh hasutan musuh-musuh Islam.
  2. Mereka tidak mau menerima  bahwa orang-orang Syiah meyakini bahwa Fatimah a.s.; putri Nabi Muhammad saw memiliki sebuah mushaf.
  3. Kebencian dan kekerasan hati mereka terhadap ajaran Syiah yang disampaikan oleh para Imam Maksum as dan tidak mau orang lain memiliki keyakinan seperti itu apalagi dirinya.
  4. Mereka berpikir bahwa mushaf adalah kumpulan al-Quran sebagaimana pengertian ini berlaku pada zaman Rasulullah dimana mushaf adalah kumpulan-kumpulan tulisan Al-Quran. Padahal pada zaman itu, mushaf secara bahasa adalah kumpulan-kumpulan lembaran yang sudah dijilid dalam bentuk sebuah buku. Jadi, mushaf bukan hanya kumpulan tulisan al-Quran saja, tetapi kata ini juga digunakan untuk juga menyebut kumpulan-kumpulan tulisan selain al-Quran. Oleh karena itu, mushaf Fathimah adalah kumpulan-kumpulan tulisan yang isinya adalah pembicaraan Jibril kepada Siti Fathimah Zahra a.s. sepeninggal ayahnya. Walaupun sampai saat ini al-Quran itu sendiri juga dikenal dengan istilah “Mushaf Syarif” (Lisan Al-Arab, jld. 10, entri Shahafa).

Abu Basyir berkata, “Aku bersama Imam Shadiq a.s. dan aku bertanya, ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Beliau menjawab, “Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah! Tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya.(lih. Ushul Al-Kafi, jld. 1, hlm. 239, Basha’ir ad-Darajat, hlm. 151; Bihar al-Anwar, jld. 26, hlm. 28). Hadis ini menjelaskan  bahwa mushaf Fathimah tebalnya tiga kali al-Quran, dan tidak satu kata pun dari Al-Quran ada di dalamnya.

Baca juga :   Pengarang Pertama dalam Ilmu Qira’ah Al-Quran

Untuk mengetahui lebih dalam, apa sebenarnya mushaf Fathimah? Sejak kapan ia ada? Mushaf ini mencakup pembahasan apa saja? Sekarang ada di mana dan di tangan siapa? Mari kita ikuti penjelasan berikut ini. Mungkin bisa membuka wawasan sebagian kita yang belum banyak mengetahuinya.

Salah satu nama Siti Fathimah a.s. adalah muhaddatsah. Mengenai sebab penamaannya dengan nama muhaddatsah, Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata, “Fathimah a.s. disebut sebagai muhaddatsah karena Malaikat Jibril senantiasa turun dan menyampaikan kabar kepadanya sebagaimana dia menyampaikan kabar kepada Maryam a.s. putri Imran.

Malaikat Jibril berkata kepada Fathimah a.s. sebagaimana berkata kepada Maryam dalam ayat 42 dan 43 dari surah Maryam. Berhubung lawan bicaranya adalah Siti Fathimah, Jibril berkata demikian, ‘Hai Fathimah! Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan mengistimewakan kamu atas seluruh wanita di dunia. Hai Fathimah! Taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang perukuk’” (Allamah Bahrani, Awalim Al-Ulum wa Al-Ma’arif wa Al-Ahwal, hlm. 36).

Suatu malam, Siti Fathimah berbincang-bincang dengan para malaikat dan berkata, “Bukankah Maryam, putri Imran, wanita yang paling utama di antara wanita-wanita semesta?” Para malaikat menjawab, “Maryam adalah wanita yang paling utama di zamannya, tetapi Allah menetapkanmu sebagai wanita yang paling utama di zamanmu dan zamannya Maryam, dan kamu adalah penghulu semua wanita yang pertama sampai yang terakhir.” (ibid.).

Para malaikat biasanya hanya berbicara dengan para nabi. Namun ada empat wanita mulia yang hidup di zaman para nabi dan, kendati mereka bukan nabi, para malaikat berbicara dengan mereka. Mereka adalah Maryam ibunda Nabi Isa a.s., istri Imran ibunda Nabi Musa a.s. Sarah ibunda Nabi Ishaq a.s., dan Siti Fathimah putri Nabi Muhammad SAW. (Ibnu Shahrashub, Al-Manaqib, jld. 3, hlm. 336).

Baca juga :   Awal dan Penundaan Turunnya Al-Quran

Ketika Rasulullah SAW sakit dan berbaring di atas tempat tidur, seorang laki-laki asing mengetuk pintu. Siti Fathimah a.s. bertanya, “Siapa?” Lelaki itu menjawab, “Aku orang asing. Aku punya pertanyaan kepada Rasulullah. Apakah Anda mengizinkan saya masuk?” Siti Fathimah menjawab, “Kembalilah, semoga Allah merahmatimu! Rasulullah sedang tidak enak badan.”

Lelaki itu pun pergi. Namun beberapa waktu kemudian, ia kembali lagi dan mengetuk pintu sambil berkata, “Ada orang asing yang minta izin kepada Rasulullah, bolehkah dia masuk?” Pada saat itu, Rasulullah SAW bangun dan berkata kepada putrinya, “Hai Fathimah! Tahukah kamu siapa dia?”

“Tidak, ya Rasulullah”, jawab Fathimah a.s.

Beliau bersabda, “Ia adalah orang yang membubarkan perkumpulan dan menghapus kelezatan duniawi. Ia adalah malaikat maut! Demi Allah! Sebelum aku, ia tidak pernah meminta izin dari seorang pun dan, sepeninggalku, ia juga tidak akan meminta izin dari seorang pun. Karena kehormatan dan kemuliaan yang aku miliki di sisi Allah, ia meminta izin dariku, maka izinkanlah dia masuk!”

Siti Fathimah berkata, “Masuklah, semoga Allah merahmatimu!” Kemudian malaikat maut masuk bagaikan angin semilir seraya berkata, “Salam bahagia atas ahlulbait ‘keluarga’ Rasulullah!” (ibid.).

Munculnya Mushaf Fathimah

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata, “Sepeninggal Rasulullah SAW, Siti Fathimah a.s. hanya hidup selama tujuh puluh lima hari. Di masa-masa kesedihan beliau itu, Malaikat Jibril selalu turun menemuinya dan memberitakan keadaan ayahnya di sisi Allah dan memberitakan kejadian yang akan datang mengenai anak-anaknya, dan Imam Ali menulis hal-hal itu dalam sebuah mushaf sehingga disebut sebagai mushaf Fathimah.” (Lih. Ushul Al-Kafi, jld. 1, hlm. 240;  Basha’ir Al-Darajat, hlm. 157; Musnad Fathimah Al-Zahra, hlm. 282; Bihar Al-Anwar, jld. 43, hlm. 80, jld. 26, hlm. 44-48, jld. 47, hlm. 271).

Baca juga :   Wahyu dalam Al-Quran

Kandungan Mushaf Fathimah

Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir a.s. mengenai mushaf Fathimah. Beliau menjelaskan kandungannya mencakup: berita sekarang dan kabar yang akan datang sampai Hari Kiamat, berita langit dan nama-nama malaikat langit, jumlah dan nama orang-orang yang diciptakan Allah SWT, nama-nama utusan Allah dan nama-nama orang yang mendustakan Allah, nama-nama seluruh orang Mukmin dan Kafir dari awal sampai akhir penciptaan, nama-nama kota dari barat sampai timur dunia, jumlah orang-orang mukmin dan kafir setiap kota, iri-ciri orang-orang pendusta, ciri-ciri umat terdahulu dan sejarah kehidupan mereka, jumlah orang-orang zalim yang berkuasa dan masa kekuasaannya, nama-nama pemimpin dan sifat-sifat mereka, satu persatu yang berkuasa di bumi, dan keterangan pembesar-pembesar mereka serta siapa saja yang akan muncul di masa yang akan datang, ciri-ciri penghuni surga dan jumlah orang yang akan masuk surga, ciri-ciri penghuni neraka dan nama-nama mereka, pengetahuan al-Quran, Taurat, Injil, Zabur sebagaimana yang diturunkan, dan jumlah pohon-pohon di seluruh daerah.(lih. Musnad Fathimah, hlm. 290-291).

Mushaf Fathimah ada di tangan imam maksum dan turun temurun hingga sampai di tangan Imam Mahdi af. Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir a.s. tentang siapakah yang memegang mushaf tersebut sepeninggal Siti Fathimah. Imam Baqir menjawab, “Sayidah Fathimah secara langsung menyerahkannya kepada Imam Ali a.s. dan, sepeninggal Imam Ali, ada di tangan Imam Hasan a.s. dan, sepeninggal beliau, ada di tangan Imam Husein a.s., dan demikian silih berganti di antara para imam maksum keturunan Imam Husein sehingga diserahkan kepada Imam Mahdi.” (ibid., hlm. 292).*

*Tulisan ini disarikan dari makalah “Mushaf Fathimah menurut Pandangan para Imam Maksum a.s.”, Muhammad Hassan Amani.

(Visited 5 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*