penuntut-ilmuHadis (hadīst) secara etimologi berarti segala sesuatu yang baru dan ia memiliki dua fungsi linguistik, di antaranya ucapan/perkataan dan kejadian. Secara terminologi, hadis bermakna “ucapan atau perkataan selain dari Al-Quran, baik yang datang dari Allah SWT, Nabi SAW, imam maksum a.s., para sahabat dan para tabi’in, dan juga berupa perbuatan dan pernyataan dari mereka.”

Adapun sunnah menurut arti harfiahnya adalah cara, metode dan jalan. Namun secara istilah, sunnah yaitu segala ucapan, perbuatan dan pernyataan Nabi SAW dan imam maksum a.s. Istilah sunnah itu memiliki makna lebih umum dari hadis, karena sunnah mencakup perbuatan dan pernyataan para manusia maksum (Nabi SAW dan imam Ahlul Bait Nabi a.s.), sementara hadis hanya berupa berita yang mengungkapkan perbuatan, pernyataan dan persetujuan mereka.

Sementara riwayat, dalam makna harifiah, adalah membawa sesuatu. Adapun kabar (khabar) dalam arti harifiah, adalah sesuatu yang dipahami lalu diberitakan dan dikabarkan. Sedangkan asar (atsar), dalam arti harfiah, adalah segala bentuk peninggalan atau bekas. Ketiga kata ini (riwayat, kabar, dan asar), dilihat dari arti istilah mereka, memiliki makna yang sama dengan hadis di muka.

Dan terakhir adalah Hadits Qudsi, yaitu ungkapan dari firman Allah SWT dengan catatan: isi dan kandungannya itu dari Allah SWT, sementara redaksi bahasanya (lafal)-nya dari lisan Nabi SAW.

Sumber: Ali Nashiri, Talkhish-e Asyna’i ba Ulum-e Hadits.

(Visited 4 times, 1 visits today)
Baca juga :   Dua Macam Rasa Malu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*