Tafisr al-bayan karya Allamah Thabarsi

Ia lahir pada tahun 469 H. Ayahnya, Hasan bin Fadhl Thabarsi memberinya nama Fadhl. Fadhl bin Hasan bin Fadhl Thabarsi melalui masa kanak-kanak dan masa sekolah di sisi Imam Ali bin Musa Ridha as di kota suci Masyhad.

Setelah menguasai baca tulis dan membaca al-Quran, Fadhl mempersiapkan diri untuk mempelajari ilmu pengetahuan Islam di bawah asuhan para ulama besar. Ia sangat berusaha keras untuk mempelajari sastra Arab, tafsir, hadis, fiqih, ushul fiqih, dan ilmu kalam. Akhirnya, ia pun menjadi ahli dalam setiap bidang ilmu pengetahuan Islam ini. Sekalipun kala itu beberapa bidang ilmu pengetahuan seperti matematika dan aljabar sangat jarang diminati, tetapi ia berusaha untuk mempelajari seluruh bidang ini dan menguasainya.

Banyak guru yang telah membimbing Fadhl bin Hasan Thabarsi dalam bidang pengetahuan dan sipiritual. Mereka antara lain adalah Abu Ali Thusi putra Syaikh Thusi, Ja’far bin Muhammad Darvisti, Abduljabbar Muqirri Naisyaburi, Imam Muwaffaquddin Husain Waʻizh Bekrabadi Jurjani, Sayid Muhammad Qashbi Jurjani, Abdullah Qusyairi, Abul Hasan Ubaidillah Muhammad Baihaqi, Sayid Mahdi Husaini Qa’ini, Syamsul Islam Hasan bin Babawaeh Qomi Razi, Muwaffaq Arif Nouqani, dan Tajul Qurra’ Kermani.

Hijrah Penuh Berkah

Aminul Islam Thabarsi berdomisili di kota Masyhad sekitar selama 54 tahun. Tetapi, lantaran undangan para ulama kota Sabzavar, dan menilik banyak lahan untuk mengajar, menulis buku, dan memasyarakatkan agama, ia pindah ke kota ini pada tahun 523 H. Para keturunan Rasulullah saw dari kabilah Al Zebareh yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Syaikh Thabarsi menjadi tuan rumah baginya dan banyak memberikan bantuan yang diperlukan.

Langkah pertama Syaikh Thabarsi adalah menerima penobatan sebagai penanggung jawab madrasah Farvazeh-ye Iraq. Lantaran usaha kerasnya, madrasah ini menjadi sebuah hauzah ilmiah besar. Kekayaan budaya dan ilmu hauzah ini menyebabkan banyak orang tertarik untuk menimba ilmu agama dan datang dari daerah-daerah terpencil di seluruh Iran. Para pelajar muda pun banyak menimba ilmu fiqih dan tafsir dari Aminul Islam Thabarsi.

Baca juga :   Syarif Radhi: Ulama Begawan Sastra

Murid-murid Syaikh Thabarsi yang telah berhasil menjadi kutub ilmu pengetahuan adalah Radhiyuddin Hasan Thabarsi putra Syaikh Thabarsi, Quthbuddin Rawandi, Muhammad bin Ali bin Syahrasyub, Dhiya’uddin Fadhlullah Hasani Rawandi, Syaikh Muntakhabuddin Qomi, Syadzan bin Jabril Qomi, Abdullah bin Ja’far Darvisti, Sayid Syaraf Syah Husaini Afthasi Nisyaburi, dan Burhanuddin Qazwini Hamadani.

Karya Tulis

Dalam usia yang relatif pendek, Aminul Islam Thabarsi memiliki banyak karya tulis yang bisa dimanfaatkan oleh setiap orang yang menginginkan informasi tentang ilmu pengetahuan Islam. Di antara karya-karya tulisnya adalah al-Adab al-Diniyah li al-Khazanah al-Mu’iniyah, Asraz al-Imamah, I’lam al-Wara bin A’lam al-Huda, Taj al-Mawalid, Jawami’ al-Jami’, al-Jawahir, Haqa’iq al-Umur, ‘Uddat al-Safar wa ‘Umdat al-Hadhar, al-‘Umdah fi Ushul al-Din wa al-Fara’idh wa al-Nawafil, Majma’ al-Bayan, Misykat al-Anwar fi al-Akhbar, Ma’arij al-Su’al, dan lain-lain.

Setelah 89 tahun menjalani kehidupan duniawi ini, akhirnya Syaikh Thabarsi meninggal dunia pada 9 Dzulhijjah 549 H pada malam hari raya Idul Adha di kota Sabzavar. Jenazah Aminul Islam dipindahkan dari kota ini ke kota Masyhad dan akhirnya dikuburkan di dekat makam suci Imam Ridha as di sebuah tempat bernama Qatlgah.

(Visited 19 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*